Alicia berdiri terpaku di tepi meja. Napasnya tercekat, seolah ada tangan besi yang mencekik lehernya pelan-pelan. Di hadapannya, Kaelen hanya diam. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan sedikit pun. Tak ada ruang untuk kesalahpahaman yang baik—baginya, gadis di hadapannya adalah musuh yang sudah terperangkap. "Duduk," ucapnya singkat. Suaranya rendah, berat, dan tak memberi ruang untuk menolak. Kaki Alicia gemetar hebat saat menarik kursi. Ia duduk di tepinya, menjaga jarak sejauh mungkin, meremas kedua tangannya yang dingin berkeringat di pangkuan. Matanya tak berani menatap lama ke manik mata pria itu yang terasa siap melahapnya hidup-hidup. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kaelen tiba-tiba. Tidak ada nada bertanya, melainkan tuntutan mutlak. Alicia mengerjap bingung. "Maaf... apa yang Tuan maksud?" Rahang Kaelen mengeras keras. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membuat aura dinginnya semakin mencekam. "Jangan berpura-pura bodoh.
Terakhir Diperbarui : 2026-07-20 Baca selengkapnya