Masuk
Kaelen berdiri tegak di tepi tempat tidur. Wajahnya sedingin es, namun sorot matanya melembut hanya saat menatap wanita tua yang merawatnya sejak ia masih kecil. Bukan darah yang mengikat mereka, tapi kasih sayang yang jauh lebih kuat dari ikatan keluarga mana pun.
Sejak orang tuanya bercerai dan ibunya meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di dunia yang keras dan penuh bahaya, hanya Nenek inilah tempat ia pulang. Satu-satunya orang yang berhak memerintahnya, yang tak akan pernah ia sakiti walau nyawalah taruhannya. "Nenek tahu kau benci hal seperti ini," suara parau itu memecah keheningan kamar, diselingi batuk kecil yang menyayat hati. "Tapi kali ini, Nenek benar-benar memintamu sebagai permintaan terakhir." Rahang Kaelen mengeras. Ia sudah berkali-kali menolak permintaan serupa. Setiap kali Nenek mengatur kencan buta, ia selalu datang lebih dulu, meletakkan tumpukan uang tebal di meja, lalu mengusir gadis itu dengan tatapan dingin dan kata-kata yang cukup membuat mereka mundur ketakutan. Dan dugaan itu tak pernah salah beberapa dari mereka ternyata adalah mata-mata musuh yang hampir saja merenggut nyawanya saat ia lengah. "Nenek tahu alasannya," ucap Nenek seolah bisa membaca isi hati cucunya. "Tapi Nenek tidak memintamu mencari yang cantik atau kaya. Nenek hanya ingin ada seseorang yang tulus menemani masa tuamu, menjagamu saat Nenek sudah tak ada. Dan untuk kali ini... tolong, jangan usir dia. Jangan berikan uang. Cukup duduk dan bicara sebentar." Kaelen menghela napas panjang, berat menyakiti dadanya. Tak ada satu pun perintah Nenek yang sanggup ia tolak. Segala yang ia miliki, segala kekuasaan yang ia bangun di dunia gelap, semata-mata agar ia bisa membalas budi dan melindungi wanita yang membesarkannya dengan susah payah ini. "Ke mana harus pergi?" akhirnya tanyanya pasrah. "Restoran Cinta Senja, pukul tujuh malam. Meja nomor tujuh. Pergilah. Dan percayalah pada Nenek sekali lagi." Sementara itu, Alicia berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong restoran yang remang-remang. Hatinya penuh rasa bingung dan sedikit kesal. Tadi siang, Nenek itu datang ke kafe dengan wajah memelas, berkata bahwa ia ingin Alicia bertemu dengan keponakannya yang kesepian, yang butuh teman bicara karena ia sering sakit-sakitan sendirian. Alicia setuju semata-mata karena rasa berhutang budi ia tak tega menolak orang yang sudah begitu baik padanya saat ia sedang kesulitan. Ia pikir ia hanya akan menemui kerabat seorang Nenek tua yang sempat ia tolong beberapa hari lalu, seorang yang hanya butuh hiburan dan tempat cerita Ia tak tahu bahwa saja ia sedang dijebak. Dengan tangan meremas ujung tas sederhana, ia mencari-cari nomor meja yang disebutkan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gugup akan pertemuan, tapi karena ia takut terlambat kembali ke rumah sakit menjenguk ibunya. Saat pandangannya jatuh pada sudut ruangan yang paling gelap, napasnya seketika berhenti. Di sana duduk sosok yang tak ingin ia temui lagi sedunia. Pria dengan jas hitam yang sama. Wajah setajam pisau yang sama. Tatapan dingin yang membuat darahnya membeku saat tak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya tempo hari. _Kaelen._ Kaki Alicia terasa berat dipaku ke lantai. Tubuhnya gemetar hebat. Jadi selama ini ia dibohongi? Nenek itu sengaja menjebaknya? Mengapa? Mengapa harus pria yang begitu membencinya? Di dalam hati Alicia berteriak: 'Tolong....... aku cuma mau jenguk ibu. kenapa harus dia? rasanya ia Ingin berbalik dan menghilang begitu saja. Namun rasa hormat pada nenek itu menahannya di tempat. Dengan sisa keberanian yang hampir habis, ia melangkah pelan mendekat, setiap langkah terasa seperti berjalan menuju neraka. Sementara itu, di ujung meja, Kaelen mencengkeram pinggiran meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Darahnya mendidih, amarah yang sudah lama tertahan meledak seketika. Jadi begitulah cara kerjanya. Setelah gagal mendekatinya secara langsung,memata-matai di mana saja bahkan sampai ke apartemen rahasianya... kini ia berani menggunakan Nenek? Menggunakan rasa iba dan kasih sayang wanita itu untuk menjeratnya? Menggunakan kelemahan paling berharga yang Kaelen miliki untuk menghancurkannya? Tatapan mata Kaelen tak berkedip, penuh kebencian dan keyakinan bulat bahwa gadis di hadapannya adalah ancaman terbesar yang pernah datang. Saat Alicia akhirnya berdiri di hadapannya dengan wajah pucat pasi dan mata yang mulai berkaca-kaca karena takut serta merasa dikhianati, Kaelen hanya diam, menatap tajam seolah siap melahapnya hidup-hidup. Permainan ini ternyata lebih licik dari yang ia duga. Dan malam ini, ia akan memastikan siapa yang sebenarnya menjadi pemenang di dalam jebakan ini.Matahari pagi menyelinap lewat celah jendela kamar tamu, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak azan subuh. Semalaman matanya tak terpejam sekecil apa pun. Punggungnya terasa kaku menahan sakit karena tidur tergeletak di lantai, dan pelupuk matanya perih—bekas tangis yang ia tahan sampai napasnya tercekat. KREEEk Pintu balkon terbuka. Kaelen masuk dengan kemeja putih yang rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arahnya. "Berdiri," perintahnya singkat, nadanya datar tanpa nada. Alicia bangun dengan tergesa, lututnya lemas bergetar. "I-iya, Tuan." "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis—atau ketakutan yang tak kau sembunyikan—aku akan hentikan perawatan ibumu hari ini juga." Kata-kata itu menghantam dadanya lebih sakit daripada pukulan apa pun. Ia mengangguk cepat, menelan tangis yang mendesak keluar. "Baik, Tuan. Saya mengerti." Kaelen ber
"Bagaimana kamar barumu, Istriku?" desis Kaelen, menekankan kata 'istriku' dengan nada ejekan yang sangat kental. "Apakah tempat ini cukup nyaman untuk seorang mata-mata yang terbiasa hidup berpindah-pindah tempat?" "Tuan, saya mohon... percaya pada saya sekali saja," suara Alicia parau, nyaris habis karena terlalu banyak menangis. Ia memberanikan diri menatap manik mata Kaelen yang sedingin es. "Saya tidak pernah berkomplot dengan Adrian. Kami hanya berteman dulu. Saya tidak tahu apa-apa tentang permusuhan keluarga Anda. Saya berada di sini murni karena ingin menolong Nenek dan menyelamatkan ibu saya..." "CUKUP!" bentak Kaelen. Suaranya yang berat menggema di dalam ruangan sempit itu, membuat Alicia tersentak ketakutan. Kaelen berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapan Alicia. Tanpa peringatan, tangan kekarnya kembali menyambar dagu dengan tatapannya yang seketika sedingin es. "Akhh!" Alicia meringis linu, air matanya kembali merebak. "Jangan pernah kau sebut nama baji
Pintu gerbang Kediaman Corven terbuka lebar pada keesokan harinya. Suasana megah mansion itu mendadak ramai oleh kedatangan keluarga besar tiri Kaelen yang berniat menjenguk Nenek. Kaelen terpaksa membawa Alicia turun ke ruang tamu utama. Pria itu mencengkeram jemari Alicia dengan erat di depan para kerabat, memasang topeng senyum paling bahagia sebagai sepasang pengantin baru yang serasi. Namun, tepat saat kaki Alicia menginjak anak tangga terakhir, langkahnya seketika terkunci mati. Jantungnya berdegup kencang, dan napasnya seolah berhenti berdetak di dalam dada. Di antara kerumunan orang yang berdiri di ruang tamu, sesosok pria tinggi dengan setelan kemeja kasual sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah terkejut. Kenangan manis masa lalu di bangku SMA mendadak berputar cepat di kepala Alicia. Pria yang dulu hampir menjadi segalanya Sebelum badai kemiskinan menghancurkan segalanya. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi tawa, bahkan hampir saja meresmikan
Dua puluh menit berlalu seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan bagi Alicia. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju lobi utama rumah sakit. Dari balik kaca transparan, sedan mewah hitam milik Kaelen sudah terparkir tepat di depan pintu lobi. Begitu Alicia mendekat, pintu penumpang depan terbuka otomatis dari dalam. Alicia menahan napas, masuk dengan tubuh gemetar, dan langsung merapat pada pintu kiri. Kaelen langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat sedan itu melesat membelah jalanan malam yang sunyi. Kesunyian di dalam kabin terasa begitu pekat dan mencekam. Kaelen mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. "Kau pikir kau bisa mengelabui aku dengan air mata palsumu?" desis Kaelen tiba-kira, memecah keheningan dengan suara rendah yang mematikan. "Tuan... saya benar-benar tidak tahu apa-apa..." rintih Alicia dengan suara parau. kaelen mencengram setir sampai buku-buku jarinya memutih. wajah ibunya yang menangis,
Alicia berdiri terpaku di tepi meja. Napasnya tercekat, seolah ada tangan besi yang mencekik lehernya pelan-pelan. Di hadapannya, Kaelen hanya diam. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan sedikit pun. Tak ada ruang untuk kesalahpahaman yang baik—baginya, gadis di hadapannya adalah musuh yang sudah terperangkap. "Duduk," ucapnya singkat. Suaranya rendah, berat, dan tak memberi ruang untuk menolak. Kaki Alicia gemetar hebat saat menarik kursi. Ia duduk di tepinya, menjaga jarak sejauh mungkin, meremas kedua tangannya yang dingin berkeringat di pangkuan. Matanya tak berani menatap lama ke manik mata pria itu yang terasa siap melahapnya hidup-hidup. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kaelen tiba-tiba. Tidak ada nada bertanya, melainkan tuntutan mutlak. Alicia mengerjap bingung. "Maaf... apa yang Tuan maksud?" Rahang Kaelen mengeras keras. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membuat aura dinginnya semakin mencekam. "Jangan berpura-pura bodoh.
Kaelen berdiri tegak di tepi tempat tidur. Wajahnya sedingin es, namun sorot matanya melembut hanya saat menatap wanita tua yang merawatnya sejak ia masih kecil. Bukan darah yang mengikat mereka, tapi kasih sayang yang jauh lebih kuat dari ikatan keluarga mana pun. Sejak orang tuanya bercerai dan ibunya meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di dunia yang keras dan penuh bahaya, hanya Nenek inilah tempat ia pulang. Satu-satunya orang yang berhak memerintahnya, yang tak akan pernah ia sakiti walau nyawalah taruhannya. "Nenek tahu kau benci hal seperti ini," suara parau itu memecah keheningan kamar, diselingi batuk kecil yang menyayat hati. "Tapi kali ini, Nenek benar-benar memintamu sebagai permintaan terakhir." Rahang Kaelen mengeras. Ia sudah berkali-kali menolak permintaan serupa. Setiap kali Nenek mengatur kencan buta, ia selalu datang lebih dulu, meletakkan tumpukan uang tebal di meja, lalu mengusir gadis itu dengan tatapan dingin dan kata-kata yang cukup membuat mer







