Home / Mafia / Jeratan Sang Penguasa / BAB 4_Ambang Jurang

Share

BAB 4_Ambang Jurang

Author: Yana24
last update publish date: 2026-07-20 10:45:09

Seketika, jari-jarinya yang bergetar menyentuh permukaan kaca bingkai foto itu. Napasnya tertahan, seolah seluruh udara di koridor mewah ini mendadak hilang tak bersisa.

Pria berwajah tegas di dalam foto itu adalah iblis yang selama ini dicari Alicia. Dialah pria yang sepuluh tahun lalu menjebak ayahnya.

Ayahnya—seorang pengacara jujur bersahaja dengan reputasi cemerlang—dihancurkan hidup-hidup setelah pria ini dengan licik menyelipkan narkoba ke dalam minumannya, melayangkan fitnah keji, dan mematikan karirnya dalam semalam. Kehilangan kehormatan, reputasi, dan martabat membuat ayah Alicia putus asa hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya secara tragis.

Sejak hari kelam itu, Alicia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mencari tahu keberadaan lelaki itu. Ternyata ia benar-benar masih hidup, bersembunyi dengan nyaman menikmati kekayaan hasil merampas dan menghancurkan hidup orang lain. Kematian ayah Alicia bukan sekadar tragedi, tapi pembunuhan berencana.

Malam ini, teka-teki itu akhirnya terjawab. Iblis yang dibencinya setengah mati itu terpampang jelas dalam foto keluarga Corven.

"Sedang apa kau di sini?" Suara berat dan dingin milik Kaelen tiba-tiba menggelegar tepat di belakang tengkuknya, membuatnya tersentak kaget.

Alicia buru-buru membalikkan badan, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan getaran hebat di tubuhnya dan kilatan amarah murni yang nyaris meledak.

"T-Tuan Kaelen," suara gadis itu tercekat di tenggorokan. Ia menunjuk bingkai foto itu dengan jari yang bergetar hebat. "Pria ini, siapa dia?"

Kaelen melirik foto tersebut sejenak. Ada kilatan kompleks yang berkelebat di matanya—kombinasi antara rasa benci, kepahitan, sekaligus rasa segan yang sangat mendalam terhadap sosok pria itu. 

Bagaimanapun juga, pria itu memiliki posisi yang begitu dominan di mata Kaelen, meski hubungan di antara mereka menyimpan rahasia tersendiri. Namun, raut wajah Kaelen dengan cepat kembali mengeras, menatapnya dengan dingin tanpa niat sedikitpun untuk berbagi cerita.

"Bukan urusanmu," jawab Kaelen singkat dan tajam, enggan menjelaskan sepatah kata pun padanya.

"Tolong, Tuan, beri tahu saya!" desaknya dengan dada bergemuruh hebat, menatapnya penuh penekanan. Alicia membutuhkan kepastian ini.

Kaelen tidak menjawab pertanyaannya. Ia justru melangkah maju, memangkas jarak hingga aura intimidasinya mendesaknya mundur menabrak meja konsol kayu jati di belakangnya.

"Jangan pernah lancang mempertanyakan orang-orang di dalam foto ini," desis Kaelen dengan suara rendah yang mematikan, mengabaikan sama sekali rasa ingin tahu gadis itu. "Kau di sini bukan untuk mengurusi silsilah keluargaku. Tutup mulutmu dan kembali ke kamarmu sekarang!"

Alicia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kaelen membalas tatapannya dengan dingin sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong yang remang, meninggalkannya sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

Senyuman pahit tanpa sadar terukir tipis di bibirnya yang gemetar, seiring air mata yang menetes pelan menyapu pipinya.

Kaelen boleh saja bungkam dan enggan menjelaskan apa pun padanya. Tapi fakta bahwa iblis itu ada di dalam foto ini sudah lebih dari cukup. Pria yang merusak reputasi ayah Alicia hingga ia bunuh diri masih hidup tenang di luar sana.

Iblis itu mungkin bersembunyi jauh di ujung dunia, tapi kini Alicia sudah melangkah masuk ke dalam lingkaran kekuasaannya. Gadis itu tidak akan lagi menjadi korban yang pasrah. Pernikahan ini bukan lagi jepitan takdir, melainkan pintu masuknya ke jantung musuh. Alicia akan mencari tahu semuanya sendiri, dan dengan tangannya sendiri, ia akan menyeret pria itu ke neraka sampai hancur tak bersisa!

Sensasi dingin marmer tangga di bawah telapak kakinya seolah tak lagi terasa. Setelah mengetahui kenyataan pahit bahwa iblis pembunuh ayahnya adalah bagian dari silsilah Corven, darahnya mendidih oleh dendam yang terselubung.

Di samping Alicia, langkah kaki Kaelen terasa begitu berat dan penuh dominasi. Jari tangan kokoh pria itu mencengkeram jarinya dengan sangat erat—begitu dingin, posesif, dan penuh ancaman tersirat. Kaelen menyeretnya turun menyusuri tangga utama mansion untuk mengantarnya pulang. 

Namun, tepat di tengah anak tangga, langkah mereka mendadak terhenti kaku. Pintu utama mansion di bawah sana terbuka lebar, memperlihatkan dua sosok yang baru saja melangkah masuk membawa sejumlah tas belanjaan mewah.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan melangkah anggun, diikuti oleh seorang pria muda tinggi di sampingnya. Mata pria itu mendongak—dan detik itu juga, pandangannya terkunci pada Alicia.

𝐃𝐞𝐠!

Napas pria itu tertahan. Wajahnya yang semula tenang mendadak pucat pasi. Kombinasi antara rasa terkejut, tidak percaya, dan luka yang mendalam terpancar telanjang di matanya.

Kondisi Alicia pun tak kalah terguncang. Pria itu adalah Adrian, seseorang yang menjadi simbol pengingat saat semuanya masih baik-baik saja. Kenangan manis masa lalu di bangku SMA mendadak berputar cepat di kepalanya.

Adrian adalah pria yang dulu hampir menjadi bagian dari dunia Alicia sebelum badai kemiskinan menghancurkan segalanya. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi tawa, bahkan hampir saja meresmikan hubungan sebagai sepasang kekasih.

Namun, takdir berkata lain. Ayah Alicia dijebak hingga memilih mengakhiri hidupnya, bisnis keluarga mereka bangkrut total, dan ia terpaksa pindah ke sebuah desa terpencil tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal kepada pria yang pernah mengisi hatinya itu. Dia tidak pernah tahu bahwa nama panjangnya adalah Adrian Corven.

"Alicia?" bisik Adrian parau dari dasar tangga. Suaranya bergetar, sarat akan rasa sakit luar biasa melihat wanita yang dicarinya bertahun-tahun kini berdiri berdampingan dalam cengkeraman Kaelen.

Ibu Adrian langsung menoleh, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh rasa jijik dan selidik yang tajam.

"Kaelen, siapa wanita ini?" tanya ibu Adrian dengan nada dingin yang mencemooh. "Kenapa ada wanita berpenampilan seperti ini di dalam mansion pada jam segini?"

Kaelen tidak langsung menjawab. Ia bisa merasakan perubahan reaksi tubuh Alicia yang mendadak kaku serta arus emosi tak kasat mata yang saling bertautan antara gadis itu dan Adrian. Bagi Kaelen—yang termakan laporan investigatornya dan tidak tahu sejarah kelam ayah Alicia—reaksi ini adalah bukti otentik bahwa gadis itu adalah mata-mata yang dikirim Adrian.

Cengkeraman Kaelen di jari Alicia makin mengeras hingga sendi-sendinya linu. Namun, alih-alih meledak, Kaelen justru menyunggingkan senyum miring yang sangat dingin dan penuh intimidasi.

Tanpa peringatan, Kaelen melingkarkan lengan kokohnya di pinggangnya, menarik tubuh gadis itu hingga merapat tanpa jarak ke dada bidangnya. Semua itu terjadi tepat di depan mata Adrian dan ibunya.

"Perkenalkan, Bibi, Adrian," ucap Kaelen dengan suara berat yang tenang namun sangat menusuk. "Ini Alicia. Calon istriku. Pernikahan kami akan dilangsungkan dalam beberapa hari ke depan atas perintah dan restu Nenek." 

Tas belanjaan di tangan Adrian terlepas dari genggamannya. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Rahangnya mengeras menahan amarah.

"Calon istri?" desis Adrian dengan mata memerah menahan luka, menatap Kaelen untuk menuntut penjelasan. "Kaelen, kau pasti gila. Kau yakin tidak salah memilih wanita?!"

"Aku sangat yakin, Adrian," potong Kaelen cepat, menghunus Adrian dengan tatapan kejam tanpa ampun. "Alicia milikku. Dan mulai hari ini, tidak ada seorang pun di rumah ini yang boleh mengusiknya."

Di bawah kungkungan lengan Kaelen yang dingin dan tatapan sedih Adrian, Alicia hanya bisa menunduk. Biarkan Kaelen menganggapnya ancaman, biarkan Adrian membencinya karena kesalahpahaman ini—sebab dari kehancuran keluarga inilah, dia akan mendapat kesempatan untuk balas dendam ke iblis di foto itu!

"Selamat, Kaelen. Pilihan yang... tidak terduga," jawab Adrian dengan nada sinis. Mata pria itu tidak lepas dari wajah Alicia yang kini menunduk menyembunyikan kilatan kebencian di matanya.

Ibu Adrian hanya mendengus bersikap dingin, lalu mengajak anaknya naik untuk menjenguk Nenek. Sandiwara penuh kepura-puraan di depan keluarga besar itu akhirnya usai setelah beberapa jam yang menyiksa. Begitu seluruh keluarga tiri berpamitan dan pintu utama mansion tertutup rapat, kehangatan palsu di wajah Kaelen lenyap dalam sekejap.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kaelen berjalan cepat mendahului Alicia menuju area parkir utama. Ia mengisyaratkan agar gadis itu segera menyusulnya. Di sana, sebuah sedan mewah hitam miliknya sudah terparkir, memancarkan aura dominan yang begitu dingin dan mengintimidasi.

Begitu Alicia mendekat, Kaelen mengendalikan sistem mobil agar pintu penumpang depan terbuka otomatis dari dalam. Tanpa ada sentuhan fisik sedikit pun, tatapan matanya yang sangat tajam sudah cukup untuk membuat Alicia merasa terintimidasi. Ia menahan napas dan masuk dengan tubuh kaku. Di dalam mobil, gadis itu merapat pada pintu kiri demi menjaga jarak sejauh mungkin dari Kaelen.

Pria itu langsung masuk ke kursi pengemudi, menutup pintu dengan dentuman keras, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam tanpa mengucap sepatah kata pun. Sedan itu melesat membelah jalanan malam yang sunyi.

Kesunyian di dalam kabin terasa begitu pekat dan mencekam. Dari sudut matanya, dia bisa melihat jari-jari Kaelen mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Dadanya tampak kembang kempis, disesaki oleh amarah yang membakar.

Kaelen menghentikan mobil secara mendadak di bahu jalanan yang gelap dan sepi, mengunci seluruh pintu secara otomatis. Kaelen menyandarkan punggungnya, lalu menoleh tajam ke arahnya, mengurungnya sepenuhnya lewat tatapan mata yang memancarkan aura membunuh begitu pekat.

"Hebat sekali sandiwaramu, Alicia!" desis Kaelen tepat di sampingnya dengan suara rendah namun terdengar seperti bisikan iblis. 

"Saya tidak bersandiwara, Tuan," bisiknya pelan. “Kami hanya teman sekolah dulu. Kami sudah lama tidak bertemu sejak saya pindah ke desa. Saya tidak tahu kalau dia adalah keluarga Anda."

"Diam! Aku tidak butuh kebohongan barumu!" bentak Kaelen dengan volume suara yang ditekan. Matanya menatap Alicia tajam.

Gadis itu memutus kontak mata, melempar pandangannya ke luar jendela yang kelam. Di dalam mobil yang tertutup rapat itu, sisa hembusan napas Kaelen yang dingin terasa mencekik. Tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Sisa perjalanan malam itu dilalui dalam keheningan yang menyiksa. Rasa gelisah, benci, dan lelah yang luar biasa perlahan membuat kesadaran Alicia  terkikis habis saat akhirnya ia bisa membaringkan tubuhnya di kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 13_ Sensasi di ketinggian

    Setelah urusan baju dan perban darurat di kamar selesai, Kaelen dan Alicia melangkah turun menuju ruang tengah. Nenek yang sedang duduk santai di sofa langsung menyambut mereka dengan senyum mengembang. Kaelen yang menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura kuat di hadapan sang nenek merangkul pinggang Alicia. Cengkeramannya begitu erat hingga Alicia terpaksa menempel ketat di sisinya. "Nenek, helikopter kami sudah siap di belakang," ucap Kaelen hangat. Kepribadian gandanya yang berubah drastis dalam sekejap membuat perut Alicia terasa mual "Kami berangkat sekarang." "Aduh, cepat sekali!" Nenek bangkit berdiri, menepuk pelan lengan Kaelen lalu mengusap lembut pipi Alicia. "Hati-hati di jalan, ya. Alicia, kalau Kaelen nakal atau terlalu sibuk kerja sewaktu honeymoon, adukan saja langsung pada Nenek!" Alicia memaksakan sebuah senyum kaku. "Iya, Nenek... Alicia bakal ingat." "Ingat juga pesan Nenek soal cicit tadi, ya!" goda Nenek terkekeh. Di dalam hati Alicia meringis jijik, n

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 12_

    Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 11_Rencana Dadakan

    Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.​Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.​Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.​Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."​Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"​Alicia menghentikan usapan handu

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 10_genangan di marmer putih

    "Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 9_Mata-kata di koridor

    Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. ​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. ​Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. ​Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 8_ Alasan di balik pernikahan

    Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status