Inicio / Mafia / Jeratan Sang Penguasa / BAB 2_Ancaman Tanpa Ampun

Compartir

BAB 2_Ancaman Tanpa Ampun

Autor: Yana24
last update Fecha de publicación: 2026-07-20 07:58:39

"Jangan membuatku mengulanginya. Siapa yang menyuruhmu?"

Alicia menggeleng perlahan. Tenggorokannya tercekat, sementara jemarinya semakin erat meremas tali tas di pangkuan.

"Saya benar-benar tidak mengerti apa yang Tuan bicarakan."

"Benarkah?"

Kaelen tertawa pendek. Sudut bibirnya memang terangkat membentuk seringai tipis, tetapi tak ada sedikit pun kehangatan dalam ekspresinya. Tatapan mata abu-abunya tetap dingin, bahkan terasa semakin menusuk.

"Aku melihatmu di kafe. Setelah itu kau muncul lagi di minimarket. Dan sekarang..." Ia berhenti sesaat, seolah sengaja membiarkan kalimatnya menggantung. "...kau bahkan berhasil mendekati nenekku."

Dada Alicia seketika terasa sesak. Baru saat itulah ia menyadari alasan di balik dinginnya sikap pria itu. Selama ini, Kaelen ternyata menganggap semua pertemuan mereka bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang sengaja Alicia susun untuk mendekatinya.

"Ini tidak seperti yang Tuan pikirkan," sergah Alicia. Napasnya mulai memburu karena panik.

"Saya memang bekerja di kafe, lalu membantu di minimarket karena membutuhkan uang tambahan. Semua itu saya lakukan demi biaya pengobatan ibu saya. Saya tidak pernah mengikuti Tuan, apalagi sengaja muncul di tempat yang sama."

Kaelen kembali tertawa pelan. Kali ini tawanya terdengar lebih seperti ejekan daripada rasa geli.

"Lucu," gumamnya sambil memiringkan kepala sedikit. "Semua orang yang tertangkap selalu memiliki alasan yang terdengar menyentuh."

Alicia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

"Saya benar-benar tidak berbohong," ucapnya lirih. "Ibu saya sedang sakit serangan jantung dan membutuhkan biaya operasi yang sangat besar. Karena itu saya bekerja di mana saja selama ada kesempatan. Saya bahkan tidak mengenal Tuan sebelum kejadian kopi beberapa hari yang lalu."

Ekspresi Kaelen tetap membeku. Ia hanya menatap Alicia dalam diam, seolah setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu hanyalah sandiwara yang sudah terlalu sering ia dengar.

"Lalu bagaimana dengan Nenek?" tanyanya lagi.

"Saya hanya menolong beliau ketika pingsan," jawab Alicia. "Beliau yang meminta saya datang ke sini. Saya benar-benar tidak tahu kalau cucunya adalah Tuan."

Kaelen menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. Ia tidak segera menjawab. Pandangannya terus mengamati Alicia dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat gadis itu merasa seperti sedang diadili. Keheningan yang ia ciptakan justru jauh lebih menyiksa daripada bentakan.

"Kalau begitu..." katanya pelan setelah beberapa saat. "Jawab satu pertanyaanku."

Alicia menatapnya dengan gugup.

"Kalau semua ini memang kebetulan... kenapa kau selalu muncul di hadapanku?"

Alicia terdiam. Pertanyaan itu membuat pikirannya kosong. Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti?

"Saya juga tidak tahu," ia memberanikan diri untuk menjawab.

Brak!

Suara benturan keras memecah keheningan restoran. Telapak tangan Kaelen menghantam permukaan meja dengan begitu kuat hingga gelas dan sendok di atasnya bergetar.

Alicia terkesiap. Tubuhnya refleks tersentak ke belakang. Jantung gadis itu berdegup begitu cepat hingga dadanya terasa nyeri. Beberapa pengunjung yang duduknya tak jauh dari mereka menoleh.

"Berhenti berbohong."

Suara Kaelen tetap rendah, tapi ketenangan itu justru membuat setiap katanya terdengar jauh lebih mengerikan.

"Aku sudah terlalu sering melihat wanita sepertimu," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Datang dengan wajah polos, berpura-pura tidak tahu apa-apa, lalu menusuk orang dari belakang saat mereka mulai lengah."

Air mata Alicia akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

"Saya bukan orang seperti itu," bisiknya dengan suara bergetar. "Saya benar-benar tidak tahu apa yang sedang Tuan bicarakan."

"Aku tidak peduli."

Kaelen berdiri perlahan. Tubuhnya yang tinggi membuat Alicia tanpa sadar ikut bangkit dari kursi, meski kedua lututnya terasa lemas.

"Aku memberimu waktu sampai besok pagi," kata pria itu sambil merapikan jas hitam yang dikenakannya.

"Datang menemuiku dan katakan siapa yang mengirimmu. Kalau tidak—" Tatapan yang diberikan Kaelen kepada Alicia sedingin es. "—aku akan memastikan kau menyesali hari ketika pertama kali kau mendekatiku."

Alicia tidak tahu sejauh apa kekuasaan pria kejam itu. Namun sesuatu dalam tatapannya membuat gadis itu yakin kalau ancaman itu bukan sekadar kata-kata yang diucapkan untuk menakuti orang.

Kaelen melangkah meninggalkan meja. Ketika melewati Alicia, langkahnya berhenti sesaat. Tanpa menoleh, ia berbisik. "Dan satu lagi: jangan pernah mendekati nenekku. Ini peringatan pertama sekaligus terakhir."

Bahkan setelah pria itu pergi, Alicia masih terpaku di mejanya. Di sekelilingnya, perlahan hiruk pikuk restoran kembali seperti semula—para pengunjung melanjutkan percakapan mereka, para pelayan kembali hilir mudik mengantarkan pesanan—seolah tidak pernah terjadi apa pun di sudut ruangan itu.

***

Hari ini adalah hari Rabu. Walaupun Alicia sangat ingin mengurung diri di kamarnya setelah bertemu pria kejam itu, ia memutuskan untuk tetap pergi ke rumah sakit. Mau bagaimana lagi, hari Rabu adalah satu-satunya hari dimana semua pekerjaan paruh waktunya libur. Jadi, hari ini adalah salah satu kesempatan berharga untuk merawat dan menemani ibunya seharian.

Alicia menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dengan langkah kaki gontai. Tak disangka, gadis itu berpapasan lagi dengan sosok yang menghantuinya. Di ujung lorong, seorang pria tinggi berjas hitam khas kaum pekerja elit terlihat sangat kontras dengan suasana area rawat inap yang santai dan lamban.

Pria itu sedang menuntun neneknya yang berjalan perlahan menggunakan tongkat. Sepertinya, dokter yang menangani nenek itu baru saja mengizinkannya pulang sebentar untuk beristirahat di rumah, meski kondisi kesehatannya masih sangat rawan.

Saat melihat Alicia yang berjalan di tengah lorong sendirian, mata nenek di samping Kaelen langsung berbinar.

"Alicia! Nak, ke sini!" panggil Nenek riang, sama sekali tak menyadari ketegangan yang terjadi di antara Alicia dan cucunya.

Wajah Alicia menegang. Ia menunduk dalam, tak berani menatap Kaelen yang kini menatapnya tajam seolah siap menerkamnya kapan saja. Nenek melambaikan tangan, meminta Alicia mendekat. Dengan berat hati dan rasa takut yang memuncak, Alicia melangkah perlahan mendekat.

"Bagaimana pertemuan kalian tadi? Pasti menyenangkan kan?" tanya Nenek penuh harap, tak tahu bahwa pertemuan itu justru penuh dengan ancaman dan kemarahan yang meledak-ledak.

Kaelen diam saja. Tangannya mencengkeram gagang tongkat Nenek begitu kuat, matanya tak lepas dari wajah Alicia yang pucat dan gemetar. Di hadapan Nenek, ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun tatapannya memberikan pesan tegas pada Alicia: Satu kata saja kau bicara soal pertemuan tadi, kau akan mati.

Alicia menelan ludah dengan susah payah, memaksakan senyum tipis yang menyakitkan. "Iya, Nek, semuanya baik-baik saja."

Nenek tersenyum lega mendengar itu. "Syukurlah. Kaelen memang terlihat dingin, tapi dia anak yang baik. Aku tahu kalian akan cocok."

Kaelen masih diam, amarahnya masih membara melihat gadis yang ia yakini sebagai musuh berdiri begitu dekat dengan wanita yang paling ia sayangi. Namun di sini, di hadapan Nenek yang lemah, ia terpaksa menahan segalanya. Dan di dalam hatinya, ia berjanji—ia akan membongkar semua kebohongan gadis itu, dan menghukumnya seberat-beratnya saat kesempatan itu tiba.

Di hadapan Nenek, Alicia dan Kaelen berdiri seperti dua kutub yang siap saling menghancurkan, meski sebuah senyuman palsu harus dipaksakan demi menjaga jantung wanita tua itu tetap stabil.

Nenek menepuk punggung tangan Kaelen dengan lembut, lalu beralih menatap Alicia yang masih menunduk dalam.

"Kaelen, karena kau membawa mobil hari ini, antarkan Alicia pulang. Ini sudah hampir malam, tidak baik seorang gadis berjalan sendirian dalam keadaan pucat seperti ini."

Mendengar itu, jantung Alicia rasanya mau copot. Menolak di depan Nenek akan memicu kecurigaan, tetapi menerima tawaran itu sama saja dengan menyerahkan lehernya ke sarang serigala.

"Tidak usah, Nek," potong Alicia cepat, suaranya sedikit bergetar karena panik.

"Saya, saya masih harus menemani ibu saya di ruang rawat. Kebetulan malam ini jadwal saya menjaga beliau. Nenek pulang saja bersama Tuan Kaelen agar bisa segera beristirahat."

Kaelen tidak langsung menjawab. Ia justru memperbaiki letak jas hitamnya, melangkah satu langkah lebih maju sehingga bayangan tubuhnya yang tinggi besar mengurung Alicia secara visual.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang hampir tak terlihat.

"Kenapa menolak, Alicia?" suara Kaelen terdengar begitu halus di telinga Nenek, namun bagi Alicia, itu adalah bisikan iblis.

"Nenek sangat mengkhawatirkanmu. Bukankah tidak sopan menolak niat baik seorang orang tua? Lagipula, ada banyak hal yang belum selesai kita bicarakan tadi siang. Benar, kan?"

Mata Alicia membelalak kecil. Ia tahu persis apa maksud dari 'hal yang belum selesai' itu. Kaelen sedang mengingatkan tentang tenggat waktu sampai besok pagi untuk mengaku.

Nenek tersenyum lebar, merasa senang melihat cucunya yang biasanya kaku tiba-tiba bersikap penuh perhatian.

"Tuh, dengar kata Kaelen. Jangan sungkan, Nak. Kaelen tidak akan keberatan menunggumu bersiap-siap sebentar."

"T-tapi Tuan Kaelen sibuk, Nek. Saya benar-benar bisa pulang sendiri nanti, atau naik angkutan umum," Alicia bersikeras, jarinya meremas ujung bajunya sampai kusut. Ia menatap Kaelen dengan tatapan memohon, berharap pria itu memiliki sedikit rasa kemanusiaan untuk melepaskannya malam ini.

Namun, yang ia temukan di manik mata Kaelen hanyalah kekosongan yang membekukan. Kaelen menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah Alicia seolah ingin membantunya merapikan anak rambut, namun ia berbisik dengan volume yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Ikut aku sekarang, atau aku akan memastikan izin operasional rumah sakit tempat ibumu dirawat ini dicabut malam ini juga. Jangan menguji kesabaranku, mata-mata kecil," desis Kaelen tajam.

Napas Alicia tertahan. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Ancaman Kaelen tidak pernah main-main. Pria dengan kekuasaan sebesar dia bisa menghancurkan hidup Alicia dan ibunya hanya dengan satu jentikan jari.

Kaelen kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap Nenek dengan senyum formal yang sempurna.

"Nek, biarkan aku mengantar Nenek ke mobil dulu bersama sopir. Setelah itu, aku akan kembali ke sini untuk menjemput Alicia. Bagaimana?"

"Ide bagus. Ingat Kaelen, jaga Alicia baik-baik," jawab Nenek penuh percaya diri sebelum melangkah perlahan dibantu oleh perawat yang baru datang membawa kursi roda.

Setelah sosok Nenek menghilang di belokan koridor, kehangatan palsu di wajah Kaelen lenyap seketika. Ia berbalik, menatap Alicia dengan tatapan yang sanggup membunuh.

"Dua puluh menit," ucap Kaelen dingin sambil melirik jam tangan mewahnya. "Bersiaplah di lobi. Jika kau mencoba melarikan diri lewat pintu belakang, kau akan tahu akibatnya."

Tanpa menunggu respons, Kaelen melangkah pergi, meninggalkan Alicia yang langsung terduduk lemas di kursi koridor, meratapi nasibnya yang kian terpojok tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 10_genangan di marmer putih

    "Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 9_Mata-kata di koridor

    Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. ​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. ​Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. ​Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 8_ Alasan di balik pernikahan

    Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 7_Bukan urusan anda

    Waktu merayap pelan hingga akhirnya fajar menyelinap lewat celah jendela kamar utama, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak subuh. Semalaman matanya tak terpejam sedetik pun. Punggungnya terasa sedikit kaku karena duduk diam di lantai karpet yang dingin, tetapi tubuhnya tetap tegap. Tak ada air mata, tak ada ratapan. Rasa takut itu ada, tetapi tertimbun rapat di balik kontrol diri. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Kaelen melangkah masuk dengan kemeja putih yang sudah rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arah Alicia. ​"Berdiri," perintah Kaelen singkat, nadanya datar tanpa jiwa Alicia bangkit dari duduknya dengan santai. "Iya." Suaranya datar. Tak ada sebutan "Tuan", tak ada nada ketakutan, apalagi tubuh yang gemetar. "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis atau raut wajah yang membuat Nenek curiga, kau tahu sendiri akibatnya." T

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 6_ Topeng Bahagia

    Pagi datang terlalu cepat. Suasana ruang utama Kediaman Corven yang disulap menjadi tempat akad nikah terasa begitu hening dan sarat intrik. Bunga-bunga putih menghiasi ruangan, namun udara di dalamnya tetap terasa membeku. Di hadapan Nenek yang duduk di kursi roda, penghulu, serta para saksi dan tamu undangan terbatas—termasuk Adrian yang duduk di barisan depan dengan pancaran mata penuh luka dan kepedihan—prosesi ijab kabul akhirnya dimulai. Kaelen duduk berhadapan dengan Penghulu dan saksi, mengenakan jas hitam elegan tanpa ekspresi. Aura dominan dan dinginnya mendominasi seluruh ruangan. Sementara itu Alicia duduk tak jauh darinya, mengenakan gaun pengantin putih yang anggun namun menyembunyikan dada yang bergemuruh pekat. Penghulu menjabat tangan Kaelen dengan erat dan akad pun di mulai. "Tuan Kaelen Corven, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alicia binti Hendra Wijaya, dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai." Kaelen menjawab dengan satu tarikan napas

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 5_Perjanjian Pra-nikah

    Keesokan harinya, matahari pagi baru saja menerobos celah tirai. Ketegangan hebat dan perdebatan yang menguras emosi sepanjang hari kemarin benar-benar menyedot habis seluruh energinya, menyisakan rasa lelah yang masih mengendap di tubuh Alicia. ​Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Suara denting cangkir dari arah luar kamar mengejutkan Alicia dari tidurnya. Mata Alicia terbuka lebar jantungnya berdegup kencang secara instan. “Bagaimana mungkin? Aku tinggal sendirian. Aku yakin sudah mengunci rapat pintu rumah semalam,” batin gadis itu. ​Dengan napas yang sedikit tertahan, Alicia melangkah ke ruang tengah. Di sana Kaelen sudah duduk santai di sofa, menyesap cangkir kopi seolah-olah rumah sempit itu milik pribadinya bau aroma kopi pahit memenuhi ruangan. ​Alicia menyilangkan tangan di dada, mencoba menutupi gelombang cemas yang masih menyisa di dadanya. "Bagaimana Tuan bisa masuk?" tanyanya ketus, mencoba menatap Kaelen lurus meski ada gemetar tipis di ujung nadanya. "Saya tid

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status