Se connecterBeberapa menit telah berlalu. Dari balik kaca transparan lobi, sedan mewah hitam milik Kaelen sudah terparkir tepat di depan pintu, memancarkan aura dominan yang begitu dingin dan mengintimidasi.
Begitu Alicia mendekat, Kaelen mengendalikan sistem mobil agar pintu penumpang depan terbuka otomatis dari dalam. Alicia menahan napas, masuk dengan tubuh gemetar hebat, lalu langsung merapat pada pintu kiri demi menjaga jarak sejauh mungkin dari Kaelen. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kaelen langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat sedan itu melesat membelah jalanan malam yang sunyi. Kesunyian di dalam mobil terasa begitu pekat dan mencekam. Dari sudut matanya, Alicia bisa melihat jemari Kaelen mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Dadanya tampak kembang kempis, disesaki oleh amarah yang membakar. "Kau pikir kau bisa mengelabui aku dengan aktingmu?" desis Kaelen tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara rendah yang mematikan. "Tuan, saya benar-benar tidak tahu apa-apa," rintih Alicia dengan suara parau yang tertahan di tenggorokannya. Kaelen kembali mengencangkan genggamannya pada setir. Matanya menatap lurus ke depan, menyimpan trauma kelam dan kebencian murni yang membuat bulu kuduk Alicia berdiri. Alicia tidak tahu luka masa lalu apa yang disimpan pria itu di keluarga Corven atau kesalahan apa yang ia perbuat hingga Kaelen menuduhnya sebagai seorang mata-mata. Alicia juga tidak tahu bahwa beberapa jam lalu, sekretaris pribadi Kaelen baru saja menyerahkan dokumen investigasi yang makin menyulut amarah pria itu padanya. "Lalu apa hubunganmu dengan Adrian?!" bentak Kaelen tiba-tiba, menoleh tajam ke arah Alicia dengan mata bersirat kebencian mendalam. "Apa yang dia berikan padamu sampai kau sudi menjadi bagian dari permainannya, huh?" "T-tidak, Tuan! Saya bahkan tidak mengenal pria bernama Adrian itu. Demi Tuhan, saya tidak pernah berhubungan dengan siapa pun!" bisik Alicia seraya menggeleng cepat, air mata menetes deras di pipinya. "Cukup!" potong Kaelen dingin. "Aku tau Adrian menaruhmu di sekitarku untuk menjatuhkanku dari dalam bukan? Jadi jangan bertingkah seolah kau suci!" CIIIT! Kaelen menginjak rem secara brutal di pinggir jalan raya yang sepi dan gelap gulita. Tubuh Alicia tersentak hebat ke depan. Sebelum gadis itu sempat menguasai rasa terkejut dan ketakutannya, Kaelen merogoh saku dalam jasnya, lalu melempar beberapa lembar foto secara kasar hingga berserakan tepat di atas pangkuan Alicia. "Masih mau mengelak?" desis Kaelen dingin, menatap Alicia dengan sudut bibir terangkat sinis. Alicia menunduk dengan jantung berdegup kencang, lalu mengambil salah satu foto tersebut dengan tangan bergetar. Seketika, matanya membelalak sempurna. Kepalanya mendadak pusing melihat gambar di tangannya—foto masa SMA-nya dulu, memperlihatkan dirinya sedang tersenyum canggung berdiri di samping seorang laki-laki berseragam sama yang merangkul bahunya pelan. Dunia Alicia serasa berhenti berputar seketika. Bagaimana bisa... bagaimana bisa Kaelen mendapatkan foto masa sekolahnya bersama Adrian?Alicia memang mengingat sosok pria di foto itu—pria manis yang dulu pernah menjadi teman dekatnya saat SMA, sebelum akhirnya Alicia menghilang tanpa kabar. Tapi ia sama sekali tidak pernah tahu kalau nama panjang teman lamanya adalah Adrian Corven, apalagi membayangkan kalau dia adalah keponakan tiri dari pria mengerikan di sampingnya ini! "T-Tuan—foto ini—" suara Alicia tercekat di tenggorokan, lidahnya mendadak kelu untuk menjelaskan. "Pria yang kau rangkul dengan manis di foto itu adalah Adrian," potong Kaelen dengan nada yang dipenuhi kebencian murni. "Musuh dalam selimut yang sudah bertahun-tahun berusaha menjatuhkanku, merebut seluruh aset Corven Group, dan menghancurkan apa pun yang kubangun." Kaelen menatap lurus ke jalan raya yang gelap gulita, rahangnya mengeras rapat seolah ingatan tentang Adrian membakar seluruh kewarasannya. "Aku tidak peduli ikatan apa yang kalian miliki di masa lalu," lanjut Kaelen dengan nada sangat rendah, penuh ancaman yang menusuk hingga ke tulang. "Tapi jika aku tahu kau memanfaatkan foto ini dan hubungan kalian untuk menjadi mata-mata Adrian di sekitarku, aku pastikan kau akan menyesal pernah mengenal nama Corven dalam hidupmu." Alicia hanya bisa terdiam membatu dengan dada sesak, meremas foto penuh kenangan itu di pangkuannya. Kaelen mencondongkan tubuhnya secara tiba-tiba, membuat jarak wajah mereka hanya sejengkal. "Dengar baik-baik, mata-mata kecil," ujar Kaelen tepat di depan wajah Alicia. Hembusan napasnya sedingin ancaman yang kerap keluar dari bibirnya. "Nenekku tiba-tiba drop dan kondisinya kritis di rumah malam ini. Dokter pribadi keluarga bahkan sudah menyerah. Satu-satunya keinginan terakhirnya adalah melihatku menikahimu. Aku tidak tahu ramuan apa yang kau gunakan untuk merayunya, tapi permainanmu berhasil." Kaelen menyandarkan kembali tubuhnya lalu menoleh pada Alicia secara datar. "Di mana alamat rumahmu?" Alicia yang terkejut secara refleks menyebutkan alamat rumah sewaannya yang sempit di pinggiran kota dengan suara bergetar. Tak lama kemudian, mobil mendadak berbelok tajam dan berhenti tepat di depan gang sempit menuju rumah sewaan Alicia. Tanpa bicara lagi, Kaelen mengunci pandangannya ke depan. Alicia bergegas keluar dari mobil dengan napas tersengal, membiarkan mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap. Alicia menyusuri gang gelap itu dengan langkah limbung, masih merasakan gemetar di sekujur tubuhnya. Malam itu, ia nyaris tidak bisa memejamkan mata. Bayangan tatapan tajam Kaelen dan tuduhan tentang foto masa SMA-nya terus berputar seperti mimpi buruk yang enggan usai. Namun, kenyataan tak memberinya ruang untuk berlarut-larut dalam ketakutan. Keesokan sorenya, dentingan cangkir dan aroma biji kopi yang menyeruak di kafe tempatnya bekerja seolah memaksa Alicia untuk kembali pada realitas. Di balik meja kasir, ia sibuk mengusap peluh di dahi sembari mencatat pesanan pelanggan. Rasa lelah akibat kurang tidur berusaha ia tepis kuat-kuat—bagaimanapun, pekerjaan ini adalah satu-satunya tumpuan hidupnya untuk membiayai perawatan sang Ibu yang masih terbaring kaku di rumah sakit. Ketika waktu hampir menunjukkan pukul lima sore—beberapa menit sebelum jam kerja Alicia berakhir—rekan kerjanya menyodorkan baki berisi nampan kopi hitam tanpa gula. Alicia mengangguk ramah, mengambil nampan tersebut lalu berjalan menuju meja nomor tujuh di sudut ruangan yang agak remang. Namun, langkah kaki Alicia mendadak terhenti kaku ketika matanya menangkap sosok pria yang duduk di kursi pelanggan tersebut. Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan, memancarkan aura dingin yang mendominasi seluruh ruangan. Kaelen. Pria itu menatap Alicia datar dengan sepasang mata tajam yang seolah sanggup mengulitinya hidup-hidup. Alicia menelan ludah dengan susah payah, memaksakan tangannya yang bergetar untuk meletakkan cangkir kopi di atas meja tanpa menumpahkan isinya. "T-Tuan, ada yang bisa saya bantu?" bisik Alicia gugup. Ia tidak menyangka pria berhati dingin ini muncul di tempat kerjanya. Kaelen sama sekali tidak menyentuh cangkir kopinya. Ia melirik jam tangan mewahnya sejenak, lalu menatap Alicia dingin. "Waktu kerjamu sudah selesai. Ikut aku sekarang. Nenek mendadak kritis dan beliau terus memanggil namamu. Jangan buang waktuku." Tanpa memberi Alicia kesempatan untuk membantah atau sekadar berganti pakaian kerja, Kaelen langsung membawanya masuk ke dalam mobil. Sedan mewah itu membelah jalanan kota hingga akhirnya berhenti di halaman luas Kediaman Corven—sebuah mansion mewah berarsitektur klasik yang mencekam. Mereka berjalan menyusuri koridor mansion yang panjang dan hening menuju kamar utama. Di sana, bau obat-obatan menyergap indra penciuman. Nenek terbaring lemah di atas ranjang dengan alat pemantau detak jantung di sisinya. Begitu melihat kehadiran Alicia di balik pintu, mata sayu Nenek seketika berbinar dipenuhi harapan. "Alicia... Nak, kau akhirnya datang." Suara Nenek terdengar begitu lemah dan serak.Hati nurani Alicia tersentuh. Ia langsung mendekat, berlutut di samping ranjang Nenek dan menggenggam jemari tuanya yang dingin dengan tulus. Namun, ucapan Nenek selanjutnya berhasil membekukan seluruh sendi tubuh Alicia. Wanita tua itu memohon dengan sisa tenaganya agar Alicia dan Kaelen segera menikah, karena itulah satu-satunya keinginan terakhir yang ingin ia lihat sebelum menutup mata. Jantung Alicia serasa berhenti berdetak. Ia baru saja mengenal Kaelen secara tidak sengaja, dan pria itu sangat membencinya! Dalam kepanikan, Alicia memaksakan sebuah senyuman hangat pada Nenek sembari mencoba mencari jalan keluar secara halus. "N-Nek, keputusan ini terlalu mendadak untuk saya. Tolong beri saya waktu beberapa hari lagi untuk berpikir," Alicia memohon, berharap bisa mengulur waktu dari situasi gila ini. Nenek mengangguk pelan mengizinkan, membuat Kaelen yang berdiri di belakang Alicia menahan napas dengan rahang mengeras tajam. Setelah dokter pribadi menginstruksikan agar Nenek beristirahat total, Kaelen menyuruh Alicia untuk segera keluar dari kamar. Alicia melangkah keluar dengan perasaan campur aduk dan kepala yang terasa mau pecah. Koridor mansion Corven yang sepi dan panjang membuatnya sedikit kebingungan mencari jalan keluar utama. Saat melangkah menyusuri lorong yang dipajang berbagai lukisan mahal dan barang antik, langkah kaki Alicia mendadak terhenti di depan sebuah meja konsol tinggi. Di atas meja kayu jati itu berdiri sebuah bingkai foto keluarga besar Corven yang dilapisi ukiran emas. Alicia menunduk, mengamati deretan wajah dalam foto tersebut. Namun, saat matanya bergeser ke sisi kanan foto, napasnya mendadak tercekat. Di sana, berdiri seorang pria berusia 70-an dengan senyuman tipis yang sangat familier. Sepasang mata Alicia membelalak sempurna—ia mengenali sosok pria di dalam foto keluarga Corven itu! Dialah pria yang pernah ditemuinya secara misterius di masa lalu!Setelah urusan baju dan perban darurat di kamar selesai, Kaelen dan Alicia melangkah turun menuju ruang tengah. Nenek yang sedang duduk santai di sofa langsung menyambut mereka dengan senyum mengembang. Kaelen yang menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura kuat di hadapan sang nenek merangkul pinggang Alicia. Cengkeramannya begitu erat hingga Alicia terpaksa menempel ketat di sisinya. "Nenek, helikopter kami sudah siap di belakang," ucap Kaelen hangat. Kepribadian gandanya yang berubah drastis dalam sekejap membuat perut Alicia terasa mual "Kami berangkat sekarang." "Aduh, cepat sekali!" Nenek bangkit berdiri, menepuk pelan lengan Kaelen lalu mengusap lembut pipi Alicia. "Hati-hati di jalan, ya. Alicia, kalau Kaelen nakal atau terlalu sibuk kerja sewaktu honeymoon, adukan saja langsung pada Nenek!" Alicia memaksakan sebuah senyum kaku. "Iya, Nenek... Alicia bakal ingat." "Ingat juga pesan Nenek soal cicit tadi, ya!" goda Nenek terkekeh. Di dalam hati Alicia meringis jijik, n
Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang
Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"Alicia menghentikan usapan handu
"Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se
Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.
Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat







