Beranda / Mafia / Jeratan Sang Penguasa / BAB 6_ Topeng Bahagia

Share

BAB 6_ Topeng Bahagia

Penulis: Yana24
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 08:35:19

Matahari pagi menyelinap lewat celah jendela kamar tamu, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak azan subuh. Semalaman matanya tak terpejam sekecil apa pun. Punggungnya terasa kaku menahan sakit karena tidur tergeletak di lantai, dan pelupuk matanya perih—bekas tangis yang ia tahan sampai napasnya tercekat.

KREEEk

Pintu balkon terbuka. Kaelen masuk dengan kemeja putih yang rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arahnya.

"Berdiri," perintahnya singkat, nadanya datar tanpa nada.

Alicia bangun dengan tergesa, lututnya lemas bergetar. "I-iya, Tuan."

"Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis—atau ketakutan yang tak kau sembunyikan—aku akan hentikan perawatan ibumu hari ini juga."

Kata-kata itu menghantam dadanya lebih sakit daripada pukulan apa pun. Ia mengangguk cepat, menelan tangis yang mendesak keluar. "Baik, Tuan. Saya mengerti."

Kaelen berjalan melewatinya tanpa bersentuhan. Namun hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya seolah menempel di kulit Alicia, mengingatkan betapa kecil dan tak berdayanya ia di hadapan pria itu.

SATU JAM KEMUDIAN — RUANG MAKAN

Meja panjang itu penuh sesak dengan hidangan hangat. Aroma kopi dan roti panggang seharusnya membawa suasana nyaman. Tapi bagi Alicia, ruangan ini terasa seperti tempat penghakiman.

Di ujung meja, Nenek duduk di kursi roda.Di sebelahnya sudah duduk sosok pria yang tak sanggup Alicia tatap, Adrian pria itu memang sudah lama menetap di rumah ini, keponakan yang di besarkan bersama kaelen.

Yang tanpa ia sadari dulu yang akan menjadi tembok pemisah antara masa lalunyq yang indah dan masa depannya yang kelam.

Wajahnya cerah menyambut mereka saat Kaelen menggandeng tangannya masuk.

"Cucu Nenek! Akhirnya datang juga," serunya riang.

"Alicia, duduk di sini, Nak, di sebelah Kaelen."

Jantung Alicia berpacu liar. Kaelen menarikkan kursi untuknya, lalu merangkul bahu erat—sangat mesra, sangat berbeda dengan nada dinginnya tadi pagi.

"Sarapan dulu, Nek," ucap Kaelen lembut. "Tadi Alicia bahkan rewel minta membuatkan teh khusus untuk Nenek."

Alicia nyaris tersedak ludahnya sendiri. Rewel? Semalam ia bahkan tak berani bergerak berisik.Dan yang lebih buruk, setiap kali ia menunduk, sudut matanya tak sengaja menangkap pandangan Adrian yang tak lepas darinya.

"Wah, betul-betul serasi ya," sahut Bibi tiri Kaelen dari seberang meja. Senyumnya lebar, tapi matanya tajam menyelidik. "Pengantin baru memang lain rasanya." Tak seperti orang yang sudah lama saling kenal tapi tak sempat bersatu.

kata-kata itu menusuk tepat ke uluh hati Alicia, ia tahu itu sebuah sindiran dengan kenyataan yang menyakitkan.

Di bawah meja, jemari Alicia meremas ujung rok sampai kuku memutih. Senyum ini... dulu juga pernah ia pakai. Tiga tahun lalu, saat utang ayah meledak dan mereka diusir dari rumah.

Ibu memaksanya tersenyum pada orang-orang dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal di balik pintu kontrakan kecil tanpa jendela, hidup mereka sudah runtuh.

Kini ia tersenyum lagi. Sama persis. Demi satu hal: agar orang yang ia sayang tetap bernapas.

"Ini tehnya, Nek. Silakan diminum selagi hangat," ucap Alicia selembut mungkin, berusaha menahan getar di suaranya.

Tahan Alicia ini Demi Ibu. Jangan goyah sedikit pun.

Suasana meja makan terasa hening namun menyesakkan. Hanya suara sendok dan piring yang berbunyi samar. Alicia tahu Adrian masih menatapnya. Tatapan yang penuh tanya, penuh rasa sakit, dan tak percaya. Tatapan yang dulu selalu membuatnya merasa aman, kini justru membuatnya ingin menghilang di dalam tanah.

Alicia menunduk dalam, memainkan makanan di piring tanpa nafsu makan. Enam tahun. Enam tahun ia menghindari pertemuan ini, dan sekarang mereka duduk bersebelahan dalam jarak yang tak lebih dari dua meter, namun terasa sejauh ujung dunia.

Kaelen menyadari ketegangan itu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Alicia, suaranya rendah dan mengancam sekaligus penuh peringatan.

"Senyum," desisnya pelan. "Dan tatap aku. Jangan biarkan matamu melayang ke tempat yang salah. Atau kau tahu akibatnya."

Alicia menelan ludah pahit. Ia mengangkat wajah, memaksakan pandangannya terkunci pada Kaelen, lalu tersenyum. Senyum paling sempurna, paling bahagia yang pernah ia pura-pura buat. Persis seperti yang diajarkan ibunya dulu: Tersenyumlah, Nak. Jangan biarkan mereka tahu kita sedang runtuh.

"Bagus sekali," Nenek menepuk tangan pelan, tak menyadari badai yang melanda hati mereka bertiga. "Saling melengkapi betul kalian."

Kaelen menggenggam tangan Alicia di atas meja, tatapannya sekilas melirik tajam ke arah Adrian dan ibunya sebelum kembali melembut menatap Nenek.

"Memang begitu, Nek. Istri saya tahu apa yang harus dilakukan."

Di luar ia tampak seperti wanita paling beruntung. Di dalam, ia hancur berkeping-keping. Adrian hanya bisa mengepalkan tangan di sisi lain meja, menatap piringnya dengan pandangan yang kosong, menyadari bahwa wanita yang dulu ia janjikan akan ia jaga, kini berada di tangan orang yang paling berkuasa sekaligus paling berbahaya—dan ia tak berdaya melakukan apa pun.

Begitu Nenek dipapah masuk ke kamar, Kaelen melepaskan genggamannya seketika. Topeng lembutnya luruh seketika.

"Kerjamu bagus," ucapnya dingin. "Pertahankan sandiwara ini sampai Nenek pulih sepenuhnya." Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik pergi.

Alicia berlari ke kamar mandi, mengunci pintu rapat-rapat, lalu menyalakan keran air sekuat tenaga. Air dingin membasahi wajahnya, tapi tak mampu mencuci rasa yang melekat di dada.

Dulu, di sekolah dan tempat ia bekerja paruh waktu, ada satu kata yang paling sering ia dengar berulang-ulang: kotor.

"Dasar anak penagih utang."

"Kerja di kafe saja gayanya sok suci."

"Lihat bajunya, pasti sumbangan bekas."

Tawa mengejek. Bisikan di belakang punggung. Terjadi setiap hari, bertahun-tahun lamanya.

Sejak itu, dua hal yang paling Alicia takuti: keramaian penuh bisikan, dan kata itu sendiri. Kata kotor itu seolah tertanam di kepalanya—seolah kemiskinan adalah dosa, seolah ia tak pantas berdiri sejajar dengan orang lain.

Ia pernah bersumpah akan bekerja sekeras tenaga, membuktikan pada semua orang bahwa ia bisa menghidupi ibunya dengan layak dan terhormat.

Tapi lihat dirinya sekarang.

Berdiri di kamar mandi rumah mewah, namun tetap diancam, tetap dipandang sinis, tetap dipaksa tersenyum demi uang. Dulu ia dihina karena tak punya apa-apa. Kini ia dihina seolah menjual diri, meninggalkan orang yang tulus menyayanginya demi kemewahan. Rasa sakitnya sama saja, bahkan mungkin lebih perih.

Air mata jatuh menyatu dengan air keran.

"Ayah... Ibu... Adrian... maafkan Alicia," isaknya pelan.

"Ternyata aku belum benar-benar keluar dari sana. Aku hanya berpindah tempat, tapi rasa rendahnya tetap sama. Dan kini... aku menyakiti satu-satunya orang yang tak pernah memandangku rendah."

 Tok... tok... 

Langkah kaki berat berhenti tepat di depan pintu.

Jantung Alicia berhenti berdetak sejenak. Ia mengusap wajah dengan kasar, merapikan pakaian, menarik napas panjang.

Topeng itu harus dipakai lagi. Karena di luar sana, ia bukan gadis yang dulu direndahkan. Ia adalah Nyonya Corven yang bahagia.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 6_ Topeng Bahagia

    Matahari pagi menyelinap lewat celah jendela kamar tamu, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak azan subuh. Semalaman matanya tak terpejam sekecil apa pun. Punggungnya terasa kaku menahan sakit karena tidur tergeletak di lantai, dan pelupuk matanya perih—bekas tangis yang ia tahan sampai napasnya tercekat. KREEEk Pintu balkon terbuka. Kaelen masuk dengan kemeja putih yang rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arahnya. "Berdiri," perintahnya singkat, nadanya datar tanpa nada. Alicia bangun dengan tergesa, lututnya lemas bergetar. "I-iya, Tuan." "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis—atau ketakutan yang tak kau sembunyikan—aku akan hentikan perawatan ibumu hari ini juga." Kata-kata itu menghantam dadanya lebih sakit daripada pukulan apa pun. Ia mengangguk cepat, menelan tangis yang mendesak keluar. "Baik, Tuan. Saya mengerti." Kaelen ber

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 5_ Malam Pertama Di Neraka

    "Bagaimana kamar barumu, Istriku?" desis Kaelen, menekankan kata 'istriku' dengan nada ejekan yang sangat kental. "Apakah tempat ini cukup nyaman untuk seorang mata-mata yang terbiasa hidup berpindah-pindah tempat?" "Tuan, saya mohon... percaya pada saya sekali saja," suara Alicia parau, nyaris habis karena terlalu banyak menangis. Ia memberanikan diri menatap manik mata Kaelen yang sedingin es. "Saya tidak pernah berkomplot dengan Adrian. Kami hanya berteman dulu. Saya tidak tahu apa-apa tentang permusuhan keluarga Anda. Saya berada di sini murni karena ingin menolong Nenek dan menyelamatkan ibu saya..." "CUKUP!" bentak Kaelen. Suaranya yang berat menggema di dalam ruangan sempit itu, membuat Alicia tersentak ketakutan. Kaelen berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapan Alicia. Tanpa peringatan, tangan kekarnya kembali menyambar dagu dengan tatapannya yang seketika sedingin es. "Akhh!" Alicia meringis linu, air matanya kembali merebak. "Jangan pernah kau sebut nama baji

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 4_ pertemuan yang tak sengaja

    Pintu gerbang Kediaman Corven terbuka lebar pada keesokan harinya. Suasana megah mansion itu mendadak ramai oleh kedatangan keluarga besar tiri Kaelen yang berniat menjenguk Nenek. Kaelen terpaksa membawa Alicia turun ke ruang tamu utama. Pria itu mencengkeram jemari Alicia dengan erat di depan para kerabat, memasang topeng senyum paling bahagia sebagai sepasang pengantin baru yang serasi. Namun, tepat saat kaki Alicia menginjak anak tangga terakhir, langkahnya seketika terkunci mati. Jantungnya berdegup kencang, dan napasnya seolah berhenti berdetak di dalam dada. Di antara kerumunan orang yang berdiri di ruang tamu, sesosok pria tinggi dengan setelan kemeja kasual sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah terkejut. Kenangan manis masa lalu di bangku SMA mendadak berputar cepat di kepala Alicia. Pria yang dulu hampir menjadi segalanya Sebelum badai kemiskinan menghancurkan segalanya. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi tawa, bahkan hampir saja meresmikan

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 3_Sandiwara di atas penderitaan

    Dua puluh menit berlalu seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan bagi Alicia. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju lobi utama rumah sakit. Dari balik kaca transparan, sedan mewah hitam milik Kaelen sudah terparkir tepat di depan pintu lobi. Begitu Alicia mendekat, pintu penumpang depan terbuka otomatis dari dalam. Alicia menahan napas, masuk dengan tubuh gemetar, dan langsung merapat pada pintu kiri. Kaelen langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat sedan itu melesat membelah jalanan malam yang sunyi. Kesunyian di dalam kabin terasa begitu pekat dan mencekam. Kaelen mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. "Kau pikir kau bisa mengelabui aku dengan air mata palsumu?" desis Kaelen tiba-kira, memecah keheningan dengan suara rendah yang mematikan. "Tuan... saya benar-benar tidak tahu apa-apa..." rintih Alicia dengan suara parau. kaelen mencengram setir sampai buku-buku jarinya memutih. wajah ibunya yang menangis,

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 2 _Ancaman Tanpa Ampun

    Alicia berdiri terpaku di tepi meja. Napasnya tercekat, seolah ada tangan besi yang mencekik lehernya pelan-pelan. Di hadapannya, Kaelen hanya diam. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan sedikit pun. Tak ada ruang untuk kesalahpahaman yang baik—baginya, gadis di hadapannya adalah musuh yang sudah terperangkap. "Duduk," ucapnya singkat. Suaranya rendah, berat, dan tak memberi ruang untuk menolak. Kaki Alicia gemetar hebat saat menarik kursi. Ia duduk di tepinya, menjaga jarak sejauh mungkin, meremas kedua tangannya yang dingin berkeringat di pangkuan. Matanya tak berani menatap lama ke manik mata pria itu yang terasa siap melahapnya hidup-hidup. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kaelen tiba-tiba. Tidak ada nada bertanya, melainkan tuntutan mutlak. Alicia mengerjap bingung. "Maaf... apa yang Tuan maksud?" Rahang Kaelen mengeras keras. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membuat aura dinginnya semakin mencekam. "Jangan berpura-pura bodoh.

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 1_pertemuan Jebakan

    Kaelen berdiri tegak di tepi tempat tidur. Wajahnya sedingin es, namun sorot matanya melembut hanya saat menatap wanita tua yang merawatnya sejak ia masih kecil. Bukan darah yang mengikat mereka, tapi kasih sayang yang jauh lebih kuat dari ikatan keluarga mana pun. Sejak orang tuanya bercerai dan ibunya meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di dunia yang keras dan penuh bahaya, hanya Nenek inilah tempat ia pulang. Satu-satunya orang yang berhak memerintahnya, yang tak akan pernah ia sakiti walau nyawalah taruhannya. "Nenek tahu kau benci hal seperti ini," suara parau itu memecah keheningan kamar, diselingi batuk kecil yang menyayat hati. "Tapi kali ini, Nenek benar-benar memintamu sebagai permintaan terakhir." Rahang Kaelen mengeras. Ia sudah berkali-kali menolak permintaan serupa. Setiap kali Nenek mengatur kencan buta, ia selalu datang lebih dulu, meletakkan tumpukan uang tebal di meja, lalu mengusir gadis itu dengan tatapan dingin dan kata-kata yang cukup membuat mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status