LOGINPagi datang terlalu cepat. Suasana ruang utama Kediaman Corven yang disulap menjadi tempat akad nikah terasa begitu hening dan sarat intrik. Bunga-bunga putih menghiasi ruangan, namun udara di dalamnya tetap terasa membeku.
Di hadapan Nenek yang duduk di kursi roda, penghulu, serta para saksi dan tamu undangan terbatas—termasuk Adrian yang duduk di barisan depan dengan pancaran mata penuh luka dan kepedihan—prosesi ijab kabul akhirnya dimulai. Kaelen duduk berhadapan dengan Penghulu dan saksi, mengenakan jas hitam elegan tanpa ekspresi. Aura dominan dan dinginnya mendominasi seluruh ruangan. Sementara itu Alicia duduk tak jauh darinya, mengenakan gaun pengantin putih yang anggun namun menyembunyikan dada yang bergemuruh pekat. Penghulu menjabat tangan Kaelen dengan erat dan akad pun di mulai. "Tuan Kaelen Corven, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alicia binti Hendra Wijaya, dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai." Kaelen menjawab dengan satu tarikan napas, suaranya berat, tegas, dan sangat mantap tanpa ragu sedikit pun. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Alicia binti Hendra Wijaya dengan mahar tersebut dibayar tunai!" Penghulu menoleh ke arah para saksi. "Bagaimana para saksi? Sah?" Seruan "Sah" dari para saksi dan doa yang dipanjatkan menggemakan fakta baru dalam hidup Alicia. Kaelen berjalan mendekat, menyentuh ubun-ubunnya pelan untuk membacakan doa—sebuah tradisi yang terasa seperti klaim kepemilikan mutlak atas dirinya. Dari sudut matanya, Alicia melihat Adrian mengepalkan tangannya yang gemetaran rapat-rapat. Gadis itu bisa melihat ekspresi mukanya yang penuh rasa kecewa dan sakit hati. Alicia memalingkan muka. Ia mengalihkan pandangannya ke arah foto besar keluarga Corven yang terpajang di dinding aula. Dia menunduk, menahan air mata yang mulai merebak dengan senyum tipis. “Permainan baru saja dimulai, Kaelen. Mulai hari ini, keadilan untuk Ayah berada di dalam jangkauanku.” ~~~ Selesai melangsungkan akad, Alicia kini resmi menjadi bagian dari keluarga Corven. Namun, Kaelen tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya berjalan di depan gadis itu dengan langkah cepat dan kaku. Alicia mengikutinya seperti bayangan, dengan gaun putih sederhana yang masih terasa asing di tubuhnya. Para pelayan yang mereka lewati menunduk memberi hormat. Tidak ada ucapan selamat ataupun senyuman. Mansion keluarga Corven senyap seolah ikut menolak pernikahan ini. Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar utama lantai dua itu terasa sangat dingin dan mencekam. Kaelen melepaskan jam tangan mewahnya, melemparnya sembarangan ke atas meja, lalu melangkah pelan menghampiri Alicia. Aura dominasinya begitu pekat hingga memotong seluruh pasokan udara di sekitarnya. "Bagaimana kamar barumu, Istriku?" desis Kaelen, menekankan kata itu dengan nada ejekan yang sangat kental. "Apakah tempat ini cukup nyaman untuk seorang wanita yang merangkak naik ke tempat tidurku demi uang dan kekuasaan?" Alicia masih berdiri mematung di dekat sisi tempat tidur besar, meremas jarinya yang gemetar. Dadanya bergemuruh oleh rasa sakit hati dan dendam yang membakar. "Saya tidak pernah memimpikan tempat tidur Anda, Tuan Kaelen," balasnya dengan suara parau namun penuh penekanan. Alicia memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es. "Saya berada di sini murni karena keselamatan Ibu saya berada di tangan seorang iblis seperti Anda." Tanpa peringatan, tangan besar Kaelen menyambar rahang Alicia, mencengkeramnya begitu kuat hingga kepala gadis itu ikut mendongak. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa sejengkal. Napas hangat pria itu menyapu kulit wajah Alicia, namun terasa seperti angin dari neraka. "Jaga mulutmu, Alicia!" bentak Kaelen dengan suara rendah. Matanya berkilat penuh amarah yang menyala-nyala. "Kau pikir kau punya posisi untuk mengejekku?! Kau tak lebih dari tawanan yang bernapas atas izin dariku!" Rasa linu menjalar di rahang Alicia. Air mata menetes di punggung tangan besar itu. Tapi kali ini, gadis itu tidak memejamkan mata. Dia justru menatap lelaki di hadapannya tanpa kedip, membalas tatapan dingin itu dengan keberanian yang tersisa. "Kalau begitu hancurkan saja saya sekalian, Tuan," bisik Alicia tepat di depan bibir Kaelen. "Kenapa Anda harus repot-repot menikahi saya jika Anda begitu jijik melihat wajah saya?" Cengkeraman Kaelen di rahangnya makin mengeras. Otot-otot lehernya menegang tajam, terkejut sekaligus murka melihat perlawanan dari wajah polos itu. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dalam, mengurung Alicia sepenuhnya di antara tubuh kekar seorang pria dewasa dan dinding dingin kamar mereka. Bisikannya mendarat tepat di telinga gadis itu, begitu pelan namun sanggup membekukan seluruh darah di pembuluh nadi. "Terlalu mudah untuk menghancurkanmu sekarang, Nyonya Corven," desis Kaelen dengan senyuman paling kejam. "Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau terbangun setiap hari di sampingku—mengingat bahwa seluruh napasmu, pakaianmu, hingga nasib ibumu di rumah sakit itu... sepenuhnya ada di genggamanku." Kaelen melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat tubuh Alicia terhuyung ke belakang. Ia mengambil saputangan di sakunya dan menyeka jarinya yang terkena air mata gadis itu dengan pandangan penuh rasa jijik. "Mulai besok pagi, pasang topeng manismu di depan Nenek," ancam Kaelen dingin sembari melangkah keluar kamar pengantin mereka. "Kalau ada satu saja tetes air mata atau raut ketakutan yang membuat Nenek curiga... aku pastikan dokter di rumah sakit itu melepas semua perawatan ibumu saat itu juga. Paham?!" 𝐁𝐀𝐌! Kaelen menutup pintu kamar hingga bergetar. Keheningan menggantung lama setelah langkah pria itu menjauh. Alicia terduduk di tepi ranjang, meremas rok gaun yang ia kenakan. Jarinya memutih, dadanya kembang-kempis menahan gejolak perasaan yang campur aduk. Hanya suara angin dan detak jam yang menemaninya larut dalam bayangan masa lalu.Setelah urusan baju dan perban darurat di kamar selesai, Kaelen dan Alicia melangkah turun menuju ruang tengah. Nenek yang sedang duduk santai di sofa langsung menyambut mereka dengan senyum mengembang. Kaelen yang menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura kuat di hadapan sang nenek merangkul pinggang Alicia. Cengkeramannya begitu erat hingga Alicia terpaksa menempel ketat di sisinya. "Nenek, helikopter kami sudah siap di belakang," ucap Kaelen hangat. Kepribadian gandanya yang berubah drastis dalam sekejap membuat perut Alicia terasa mual "Kami berangkat sekarang." "Aduh, cepat sekali!" Nenek bangkit berdiri, menepuk pelan lengan Kaelen lalu mengusap lembut pipi Alicia. "Hati-hati di jalan, ya. Alicia, kalau Kaelen nakal atau terlalu sibuk kerja sewaktu honeymoon, adukan saja langsung pada Nenek!" Alicia memaksakan sebuah senyum kaku. "Iya, Nenek... Alicia bakal ingat." "Ingat juga pesan Nenek soal cicit tadi, ya!" goda Nenek terkekeh. Di dalam hati Alicia meringis jijik, n
Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang
Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"Alicia menghentikan usapan handu
"Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se
Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.
Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat







