Beranda / Mafia / Jeratan Sang Penguasa / BAB 5_Perjanjian Pra-nikah

Share

BAB 5_Perjanjian Pra-nikah

Penulis: Yana24
last update Tanggal publikasi: 2026-07-20 11:03:56

Keesokan harinya, matahari pagi baru saja menerobos celah tirai. Ketegangan hebat dan perdebatan yang menguras emosi sepanjang hari kemarin benar-benar menyedot habis seluruh energinya, menyisakan rasa lelah yang masih mengendap di tubuh Alicia.

​Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Suara denting cangkir dari arah luar kamar mengejutkan Alicia dari tidurnya. Mata Alicia terbuka lebar jantungnya berdegup kencang secara instan.

“Bagaimana mungkin? Aku tinggal sendirian. Aku yakin sudah mengunci rapat pintu rumah semalam,” batin gadis itu.

​Dengan napas yang sedikit tertahan, Alicia melangkah ke ruang tengah. Di sana Kaelen sudah duduk santai di sofa, menyesap cangkir kopi seolah-olah rumah sempit itu milik pribadinya bau aroma kopi pahit memenuhi ruangan.

​Alicia menyilangkan tangan di dada, mencoba menutupi gelombang cemas yang masih menyisa di dadanya.

"Bagaimana Tuan bisa masuk?" tanyanya ketus, mencoba menatap Kaelen lurus meski ada gemetar tipis di ujung nadanya. "Saya tidak ingat pernah memberikan kunci cadangan."

​Kaelen menaruh cangkirnya perlahan ke atas meja, lalu mendongak—menatap Alicia tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​"Di dunia ini, tidak ada satu hal pun yang tidak bisa kulakukan, Alicia," jawab Kaelen dengan nada datar namun penuh dominasi. "Termasuk masuk ke rumahmu kapan saja aku mau."

​Alicia mendengus pendek, melempar pandangan jengah walau cengkraman tangannya di lengan sendiri semakin mengetat.

"Duduk, Alicia," perintah Kaelen singkat, mengisyaratkan kursi di hadapannya.

Alicia melangkah pelan, menyembunyikan getaran di lututnya, lalu duduk berhadapan dengannya. Kaelen menggeser berkas tebal ke arahnya bersama sebuah pulpen mahal.

"Ini adalah Perjanjian Pra-Nikah. Kau wajib menandatanganinya sebelum prosesi pernikahan besok." Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi dan menyilangkan kaki dengan gaya dominan.

"Isinya sangat sederhana," ujarnya sinis. "Kau tidak akan mendapatkan hak atas satu persen pun aset Corven Group jika kita bercerai. Kau juga dilarang keras mencampuri urusan bisnis maupun internal keluarga Corven. Singkatnya, kau hanya 'istri di atas kertas' untuk menyenangkan Nenek."

Alicia berdiri di balik meja, mengepalkan tangan rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.

"Saya tidak mau," ucapnya tegas dengan suara bergetar, menatap Kaelen lurus-lurus. "Saya tidak akan pernah mau menikah dengan Anda, Tuan Kaelen Corven! Cari wanita lain untuk sandiwara gila ini!"

Kaelen yang sedang menyandarkan tubuhnya santai di kursi kulit, perlahan meletakkan cangkir kopinya. Ia tidak marah atau membentak. Justru sebuah senyum tipis yang sangat dingin, kejam, dan meremehkan terukir di bibirnya.

"Kau menolakku, Alicia?" bisik Kaelen, suaranya tenang namun sanggup membekukan darah di pembuluhnya.

Pria itu mengambil ponsel mewahnya di atas meja, menekan satu tombol panggilan cepat, lalu menyalakan mode speaker. Hanya butuh satu kali nada dering sebelum suara direktur utama rumah sakit tempat Ibu Alicia dirawat terdengar gemetar di seberang telepon.

​"S-Selamat pagi, Tuan Corven. Ada instruksi yang bisa kami bantu?" Suara direktur rumah sakit itu terdengar amat ketakutan, seolah sedang berbicara dengan malaikat pencabut nyawa.

​Kaelen menatapnya datar, matanya menyipit penuh ancaman. "Direktur. Mengenai pasien koma di ruang ICU nomor 402—"

​Alicia berdiri tegak. Jantungnya berdegup kencang, namun tidak ada raut histeris di wajahnya. Tubuhnya kaku, matanya menatap Kaelen dengan dingin dan tajam. Namun ​Kaelen mengabaikan tatapan menusuk itu dan melanjutkan bicaranya dengan nada santai yang mengerikan.

​"Kosongkan ruangannya sekarang. Cabut seluruh alat penopang hidup pasien, dan hentikan semua izin perawatannya di rumah sakit kalian. Jika ada rumah sakit lain di kota ini yang berani menerima wanita itu, pastikan izin praktik dan operasional mereka dihentikan sebelum matahari terbenam."

​Di seberang telepon, suara direktur itu terdengar semakin panik. "B-Baik, Tuan Corven! Kami paham! Kami akan langsung melaksanakan perintah Anda detik ini juga—"

​"Apa yang kau lakukan?!" potong Alicia tegas. Suaranya tidak gemetar, melainkan terdengar tenang dengan nada datar yang menyimpan penekanan kuat. "Mengapa kau harus melibatkan Ibu saya?"

​Kaelen menekan tombol merah, memutuskan sambungan telepon itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Ia menatap Alicia dengan mata elangnya yang sarat aura membunuh.

​"Rumah sakit itu berdiri di atas tanah milik Corven Group,

dan seluruh izin operasional medis di kota ini berada di bawah kendaliku," ucap Kaelen tajam, mengurung gadis itu lewat tatapannya. "Satu kata saja yang keluar dari mulutku hari ini, Alicia... maka ibumu tidak akan pernah melihat matahari esok hari. Tidak ada satu pun dokter di negara ini yang berani menanganinya."

​Alicia mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan luapan emosi. Walau ia bisa merasakan air mata menggenang di matanya, ia bersikeras untuk tidak menumpahkan setetes pun. Pandangannya lurus menusuk manik mata Kaelen. Pria di hadapannya bukan cuma pria kaya biasa—dia adalah iblis berkuasa. Alicia tahu, bertindak gegabah atau menangis tidak akan mengubah apa pun. Saat ini keselamatan Ibunya adalah prioritas utama.

​"Baik," ucap Alicia singkat, nadanya dingin dan terkontrol. "Saya akan menikah dengan Anda. Tapi pastikan Ibu saya tetap mendapatkan perawatan terbaik."

​Kaelen terkekeh sinis, menyukai kepatuhan terpaksa itu. Ia menggeser dokumen tebal dan sebuah pulpen emas ke hadapan Alicia.

​"Bagus. Sekarang tanda tangani perjanjian ini," perintahnya penuh dominasi.

​Tanpa ragu, Alicia menarik dokumen tersebut dan membaca poin-poinnya. Isinya adalah pasal dengan cengkeraman mutlak yang dirancang Kaelen untuk mengekang gadis itu. Perjanjian ini adalah sangkar emas yang amat beracun—memotong semua aksesnya untuk menyelidiki bisnis Corven Group agar dia tidak bisa bergerak sebagai "mata-mata Adrian".

​"Cara yang sangat licik untuk mematikan pergerakan saya, Tuan Kaelen," bisik Alicia datar, menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat.

​"Itu harga yang harus kau bayar karena telah berani masuk ke dalam wilayahku," balas Kaelen dingin tanpa ampun.

"Tanda tangani sekarang."

​Dengan gerakan mantap, Alicia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Tanpa tangan bergetar, tanpa histeria. Saat tinta pena itu mengering, vonis hidup Alicia juga ikut disegel.

Kaelen mengambil berkas itu tanpa menatapnya lagi. "Pengacaraku akan mengurus sisanya untuk persiapan pernikahan besok pagi. Jangan sampai terlambat."

Lalu ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan Alicia sendirian dengan gema langkah kakinya yang di lantai marmer.

Malam itu terasa begitu panjang. Alicia tidak bisa tidur, hanya duduk di tepi ranjang sambil memutar cincin sederhana di jarinya—cincin warisan dari ayahnya. Di depan gadis itu, sebuah gaun putih tergantung rapi. Gaun pengantin, simbol pernikahan sekaligus rantai.

“satu langkah lagi, Ayah,” janjinya dalam hati. “Besok aku resmi masuk ke sarang mereka”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 12_

    Sesi sarapan yang penuh ketegangan itu akhirnya selesai. Begitu mereka kembali ke kamar dan pintu terkunci rapat, sosok 'suami sempurna' Kaelen langsung lenyap. Kaelen menyandar ke pintu kayu dengan napasnya terengah berat. Wajahnya yang semula tenang kini memucat drastis dan dibasahi keringat dingin. Di balik kemeja hitamnya, noda darah pekat merembes semakin lebar akibat ia terlalu banyak bergerak. Namun, alih-alih merintih Kaelen hanya memejamkan mata dan menekan darah yang keluar dengan tangan ia tetap terlihat tenang walau dalam kondisi krisis. Alicia yang melihat kain kemeja Kaelen bersimbah darah lagi langsung menepuk dahinya kehabisan kata-kata. "Hebat sekali, Tuan Kaelen, " sindir Alicia sinis seraya berjalan mengambil kotak P3K. "Sok romantis dan sok kuat di depan Nenek, sekarang lukamu robek lagi. Puas?" Kaelen melangkah gontai ke tepi ranjang lalu duduk di sana ia melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan lambat, menatap Alicia dengan mata yang menyipit tajam. "Jang

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 11_Rencana Dadakan

    Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik tirai kamar pengantin.kini Kaelen menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang kelopak matanya terbuka penuh dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pening dan perih masih menjepit perut kirinya, namun begitu menunduk matanya menyipit tajam.​Noda darah pekat yang semalam membasahi tubuhnya telah bersih tanpa bekas bahkan kemeja lamanya yang koyak sudah berganti dengan kemeja hitam bersih yang terkancing rapi.​Pintu kamar mandi meluncur terbuka, menghembuskan aroma vanilla dan sabun yang segar Alicia melangkah keluar seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.​Tanpa memandang Kaelen Alicia berkata datar dengan nada cueknya yang khas, "Ada sembilan jahitan di perutmu. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau jahitannya sobek lagi."​Kaelen yang masih menaruh kebencian dan rasa curiga pada Alicia langsung memicingkan mata. Tatapannya dingin dan menusuk. "Siapa yang menggantikan pakaianku semalam?"​Alicia menghentikan usapan handu

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 10_genangan di marmer putih

    "Aakh!"Teriakan kaget lolos begitu saja dari mulut Alicia saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai tubuhnya membeku kaku di tempat. Jemari yang masih menempel pada saklar lampu mendadak gemetar hebat tatapannya terkunci pada genangan merah pekat yang kian melebar di atas marmer putih, merembes deras dari balik kemeja Kaelen yang robek."D-diam..." desis sebuah suara yang teramat serak dari lantai.Kaelen belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pria tegap itu membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan usaha yang sangat menyiksa. Wajah tampannya pucat seputih kertas, kontras dengan noda darah segar yang mengotori pelipis serta sudut bibirnya. Manik mata hitamnya yang sayu menatap Alicia dengan sisa kilatan amarah yang tertahan."Jangan berteriak... gadis bodoh," potong Kaelen lagi. Suaranya terdengar tersedat karena menahan robeknya otot perut sebelah kiri. "Kau mau membuat Nenek... mendengar suara sialanmu itu?"Alicia seketika membisu pasokan oksigen di paru-parunya rasanya se

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 9_Mata-kata di koridor

    Suara derit tajam dari engsel gerbang besi di ujung halaman terdengar nyaring Alicia menghembuskan napas berat, merasakan ketegangan yang kian menebal di udara. ​Sebelumnya, dengan pakaian kasual yang sangat sederhana Alicia melangkah keluar dari kamar utama namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga. Ia langsung menyadari bahwa rumah megah ini telah berubah menjadi sangkar dengan dinding-dinding yang memiliki mata. Orang-orang berjas hitam suruhan Kaelen berjaga di setiap sudut mengawasi setiap jengkal pergerakannya. ​Enggan memedulikan para pengintai itu Alicia melangkah menuju taman belakang ia sengaja mencari tempat terbuka di antara rindangnya tanaman hias tinggi hanya demi satu tujuan untuk menghubungi rumah sakit tempat ibunya dirawat tanpa gangguan. ​Namun bahkan ketika suara lembut ibunya di seberang telepon sempat memberi kehangatan singkat, kehadiran sosok bayangan hitam yang perlahan mendekat dengan radio panggil di tangannya langsung menghancurkan ketenangan itu.

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 8_ Alasan di balik pernikahan

    Sementara itu di lantai bawah suasana kamar bernuansa klasik milik Nenek terasa begitu sunyi. Keramaian semu di meja makan tadi telah menguap wanita tua itu kini duduk sendiri di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang.Nenek menuangkan teh jahe buatan Alicia ke dalam cangkir kecil uapnya yang mengepul tipis menyebarkan aroma hangat. Namun, pandangannya justru teralih pada sebuah laci meja rias di sampingnya yang terkunci rapat. Jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan membuka laci tersebut ia mengeluarkan sebuah map usang berlogo sebuah firman hukum tua yang sudah lama tutup. Di dalam map itu terpampang foto seorang pria mengenakan setelan jas pengacara formal dan di sampingnya, ada foto masa kecil Alicia bersama sang ayah.Nenek memeluk map itu di dadanya, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang keriput."Nak..." bisik Nenek ke arah langit-langit kamar, berbicara pada mendiang putrinya—ibu kandung Kaelen. "Ibu sangat

  • Jeratan Sang Penguasa   BAB 7_Bukan urusan anda

    Waktu merayap pelan hingga akhirnya fajar menyelinap lewat celah jendela kamar utama, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak subuh. Semalaman matanya tak terpejam sedetik pun. Punggungnya terasa sedikit kaku karena duduk diam di lantai karpet yang dingin, tetapi tubuhnya tetap tegap. Tak ada air mata, tak ada ratapan. Rasa takut itu ada, tetapi tertimbun rapat di balik kontrol diri. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Kaelen melangkah masuk dengan kemeja putih yang sudah rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arah Alicia. ​"Berdiri," perintah Kaelen singkat, nadanya datar tanpa jiwa Alicia bangkit dari duduknya dengan santai. "Iya." Suaranya datar. Tak ada sebutan "Tuan", tak ada nada ketakutan, apalagi tubuh yang gemetar. "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis atau raut wajah yang membuat Nenek curiga, kau tahu sendiri akibatnya." T

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status