MasukWaktu merayap pelan hingga akhirnya fajar menyelinap lewat celah jendela kamar utama, menyorot butiran debu yang melayang di udara dingin. Alicia sudah terjaga sejak subuh. Semalaman matanya tak terpejam sedetik pun. Punggungnya terasa sedikit kaku karena duduk diam di lantai karpet yang dingin, tetapi tubuhnya tetap tegap. Tak ada air mata, tak ada ratapan. Rasa takut itu ada, tetapi tertimbun rapat di balik kontrol diri. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Kaelen melangkah masuk dengan kemeja putih yang sudah rapi, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Pria itu tak sekalipun melirik ke arah Alicia. "Berdiri," perintah Kaelen singkat, nadanya datar tanpa jiwa Alicia bangkit dari duduknya dengan santai. "Iya." Suaranya datar. Tak ada sebutan "Tuan", tak ada nada ketakutan, apalagi tubuh yang gemetar. "Tiga puluh menit lagi Nenek sarapan di ruang makan. Jika ada sedikit saja jejak kau menangis atau raut wajah yang membuat Nenek curiga, kau tahu sendiri akibatnya." T
Pagi datang terlalu cepat. Suasana ruang utama Kediaman Corven yang disulap menjadi tempat akad nikah terasa begitu hening dan sarat intrik. Bunga-bunga putih menghiasi ruangan, namun udara di dalamnya tetap terasa membeku. Di hadapan Nenek yang duduk di kursi roda, penghulu, serta para saksi dan tamu undangan terbatas—termasuk Adrian yang duduk di barisan depan dengan pancaran mata penuh luka dan kepedihan—prosesi ijab kabul akhirnya dimulai. Kaelen duduk berhadapan dengan Penghulu dan saksi, mengenakan jas hitam elegan tanpa ekspresi. Aura dominan dan dinginnya mendominasi seluruh ruangan. Sementara itu Alicia duduk tak jauh darinya, mengenakan gaun pengantin putih yang anggun namun menyembunyikan dada yang bergemuruh pekat. Penghulu menjabat tangan Kaelen dengan erat dan akad pun di mulai. "Tuan Kaelen Corven, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alicia binti Hendra Wijaya, dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai." Kaelen menjawab dengan satu tarikan napas
Keesokan harinya, matahari pagi baru saja menerobos celah tirai. Ketegangan hebat dan perdebatan yang menguras emosi sepanjang hari kemarin benar-benar menyedot habis seluruh energinya, menyisakan rasa lelah yang masih mengendap di tubuh Alicia. Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Suara denting cangkir dari arah luar kamar mengejutkan Alicia dari tidurnya. Mata Alicia terbuka lebar jantungnya berdegup kencang secara instan. “Bagaimana mungkin? Aku tinggal sendirian. Aku yakin sudah mengunci rapat pintu rumah semalam,” batin gadis itu. Dengan napas yang sedikit tertahan, Alicia melangkah ke ruang tengah. Di sana Kaelen sudah duduk santai di sofa, menyesap cangkir kopi seolah-olah rumah sempit itu milik pribadinya bau aroma kopi pahit memenuhi ruangan. Alicia menyilangkan tangan di dada, mencoba menutupi gelombang cemas yang masih menyisa di dadanya. "Bagaimana Tuan bisa masuk?" tanyanya ketus, mencoba menatap Kaelen lurus meski ada gemetar tipis di ujung nadanya. "Saya tid
Seketika, jari-jarinya yang bergetar menyentuh permukaan kaca bingkai foto itu. Napasnya tertahan, seolah seluruh udara di koridor mewah ini mendadak hilang tak bersisa. Pria berwajah tegas di dalam foto itu adalah iblis yang selama ini dicari Alicia. Dialah pria yang sepuluh tahun lalu menjebak ayahnya. Ayahnya—seorang pengacara jujur bersahaja dengan reputasi cemerlang—dihancurkan hidup-hidup setelah pria ini dengan licik menyelipkan narkoba ke dalam minumannya, melayangkan fitnah keji, dan mematikan karirnya dalam semalam. Kehilangan kehormatan, reputasi, dan martabat membuat ayah Alicia putus asa hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya secara tragis. Sejak hari kelam itu, Alicia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mencari tahu keberadaan lelaki itu. Ternyata ia benar-benar masih hidup, bersembunyi dengan nyaman menikmati kekayaan hasil merampas dan menghancurkan hidup orang lain. Kematian ayah Alicia bukan sekadar tragedi, tapi pembunuhan berencana. Malam ini, teka-
Beberapa menit telah berlalu. Dari balik kaca transparan lobi, sedan mewah hitam milik Kaelen sudah terparkir tepat di depan pintu, memancarkan aura dominan yang begitu dingin dan mengintimidasi. Begitu Alicia mendekat, Kaelen mengendalikan sistem mobil agar pintu penumpang depan terbuka otomatis dari dalam. Alicia menahan napas, masuk dengan tubuh gemetar hebat, lalu langsung merapat pada pintu kiri demi menjaga jarak sejauh mungkin dari Kaelen. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kaelen langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat sedan itu melesat membelah jalanan malam yang sunyi. Kesunyian di dalam mobil terasa begitu pekat dan mencekam. Dari sudut matanya, Alicia bisa melihat jemari Kaelen mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Dadanya tampak kembang kempis, disesaki oleh amarah yang membakar. "Kau pikir kau bisa mengelabui aku dengan aktingmu?" desis Kaelen tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara rendah yang mematikan. "
"Jangan membuatku mengulanginya. Siapa yang menyuruhmu?" Alicia menggeleng perlahan. Tenggorokannya tercekat, sementara jemarinya semakin erat meremas tali tas di pangkuan. "Saya benar-benar tidak mengerti apa yang Tuan bicarakan." "Benarkah?" Kaelen tertawa pendek. Sudut bibirnya memang terangkat membentuk seringai tipis, tetapi tak ada sedikit pun kehangatan dalam ekspresinya. Tatapan mata abu-abunya tetap dingin, bahkan terasa semakin menusuk. "Aku melihatmu di kafe. Setelah itu kau muncul lagi di minimarket. Dan sekarang..." Ia berhenti sesaat, seolah sengaja membiarkan kalimatnya menggantung. "...kau bahkan berhasil mendekati nenekku." Dada Alicia seketika terasa sesak. Baru saat itulah ia menyadari alasan di balik dinginnya sikap pria itu. Selama ini, Kaelen ternyata menganggap semua pertemuan mereka bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang sengaja Alicia susun untuk mendekatinya. "Ini tidak seperti yang Tuan pikirkan," sergah Alicia. Napasnya mulai memburu







