Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Miranda sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Perutnya yang semakin besar membuat setiap gerakannya menjadi sulit dan lambat. Tapi ia tetap bersemangat. Ia harus bekerja. Ia harus menabung untuk biaya persalinan nanti. Ia harus membeli makanan yang bergizi untuk bayinya."Selamat pagi, Bu Sinta," sapanya begitu tiba di rumah makan.Tapi Bu Sinta, pemilik rumah makan yang biasanya ceria, kali ini menatapnya dengan wajah muram. Matanya sembab, seperti habis menangis. "Miranda... Ibu... Ibu harus bicara denganmu."Miranda merasakan sesuatu yang tidak beres. Jantungnya berdetak lebih kencang. "Ada apa, Bu?""Mari ikut Ibu ke belakang."Mereka berdua masuk ke ruangan kecil di belakang dapur. Ruangan yang biasanya digunakan untuk istirahat para karyawan. Bu Sinta menutup pintunya rapat-rapat."Miranda," suara Bu Sinta bergetar, "Ibu minta maaf. Ibu terpaksa melakukan ini.""Melakukan apa, Bu?"Bu Sinta mengeluarkan sebuah amplop coklat dari sakunya. "
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-13 อ่านเพิ่มเติม