เข้าสู่ระบบRandy menghentikan langkahnya dan menatap Sharon dingin. Ia tidak berniat menjelaskan detail tentang Miranda atau bayi mereka. Ia hanya ingin mengakhiri semua kepura-puraan ini."Aku minta maaf, Sharon," ucap Randy singkat, tanpa nada penyesalan yang tulus, lebih seperti formalitas basa-basi.Permintaan maaf singkat itu justru memicu kemarahan Sharon. Ia merasa diremehkan. "Cuma itu? Kau cuma minta maaf? Setelah mempermalukanku di depan seluruh kolega bisnis keluarga kita?"Randy menatap lurus ke mata Sharon. "Kalau gitu, pertunangan kita dibatalkan, Sharon. Secara resmi. Aku tidak akan menikahimu."Wajah Sharon memucat, lalu berubah merah padam karena amarah. "Kau tidak bisa berbuat semaumu! Ibuku sudah menyiapkan segalanya! Keluarga kami sudah dipermalukan!""Itu masalahmu. Aku cuma bisa memberikan ganti rugi materi," jawab Randy dingin. "Dan jika kau ingin membuat keributan, silakan. Aku tidak peduli."Sharon gemetar. Ancaman tersirat terlintas di benaknya. "Jika kau membatalkan in
Randy melangkah pelan menuju ruang rawat inap tempat Miranda dirawat. Suasana di koridor rumah sakit itu hening, hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergema lembut di lantai keramik. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, seolah takut suara engsel pintu akan mengganggu ketenangan di dalamnya.Di atas ranjang rumah sakit, Miranda masih terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat kontras dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya yang kurus. Selang infus terpasang di lengan kirinya, mengalirkan cairan bening ke dalam pembuluh darahnya yang tampak menonjol karena terlalu kurus. Efek dari jatuh tangga dan proses persalinan yang sulit telah menguras seluruh tenaga gadis itu. Ia terlihat begitu rapuh, begitu menyedihkan, hingga dada Randy terasa sesak saat melihatnya.Randy menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia menatap wajah Miranda lekat-lekat. Ingatan tentang malam sembilan bulan lalu menyeruak kembali dengan jelas, menghantam kesadarannya seperti ombak besar.Mala
Randy kembali menatap bayinya. "Karena bayiku baru saja lahir, Alfons. Bayiku dan ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan kau bertanya padaku tentang acara pertunangan?"Alfons terdiam. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berubah pada diri Randy. Sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ada kelembutan dalam tatapan pria itu. Kelembutan yang tidak pernah muncul saat Randy berbicara tentang Sharon atau tentang pertunangannya."Baiklah," kata Alfons akhirnya. "Ceritakan semuanya padaku. Aku akan mendengarkan."Randy menoleh pada Alfons. "Kau akan mendengarkan? Tanpa menghakimi?""Tanpa menghakimi. Aku janji."Randy menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan menuju kursi tunggu dan duduk. Alfons mengikutinya."Semuanya bermula sekitar sembilan bulan yang lalu," Randy memulai ceritanya. "Saat itu aku sedang menghadiri sebuah acara pameran. Di sana, aku merasakan sesuatu terjadi padaku. Tubuhku menjadi panas. Nafsu tidak bisa kutahan. Aku merasa seperti kehilangan kendali atas
Randy masih berdiri di dalam ruang bayi, menatap bayi mungil yang baru saja lahir dari rahim Miranda. Bayi itu terbaring di dalam inkubator, tubuhnya yang kecil terlihat sangat rapuh dengan selang-selang yang terpasang di sana sini. Namun meskipun begitu, ada sesuatu yang membuat Randy tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pintu ruangan terbuka. Dokter kandungan yang tadi menangani persalinan Miranda masuk dengan langkah tenang. Wajahnya masih menunjukkan kelelahan setelah berjam-jam bekerja, tapi ada senyum tipis di bibirnya."Tuan Randy," panggil dokter itu.Randy menoleh. "Dokter, bagaimana kondisi ibunya? Apa dia sudah sadar?""Kondisi ibunya sudah stabil. Dia masih belum sadarkan diri karena efek bius dan kelelahan. Tapi tanda-tanda vitalnya normal. Dia akan segera pulih."Randy menghembuskan nafas lega. "Syukurlah.""Namun ada satu hal yang perlu saya sampaikan," dokter itu melanjutkan. "Kami sedang menyiapkan ruang NICU unt
Sementara itu, di gedung pertunangan, suasana mulai berubah. Para tamu sudah duduk di kursi masing-masing, menunggu acara dimulai. Tapi Randy tidak kunjung muncul. Sharon berdiri di dekat panggung, wajahnya pucat dan tegang. Para tamu mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya di mana calon mempelai pria berada."Di mana Randy? Kenapa belum juga datang?" tanya seorang tamu."Katanya calon mempelai pria ada urusan mendadak.""Urusan apa yang lebih penting dari pertunangan sendiri?"Sharon mendengar bisikan-bisikan itu dan wajahnya semakin pucat. Ia meremas tangannya sendiri, menahan rasa malu yang luar biasa.Alya, sang ibu palsu, mendekatinya. "Nona, di mana calon suami Nona? Para tamu sudah menunggu.""Aku tidak tahu, Alya. Dia... dia menghilang begitu saja.""Menghilang? Bagaimana bisa? Ini acaranya sendiri!"Alya memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia berjalan ke arah Clara dan Ratna yang sedang berdiri di dekat pintu masuk. Wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa dan marah, persis seperti
Randy berdiri di sudut aula gedung pertunangan, menatap kerumunan tamu yang semakin padat. Suara musik mengalun lembut dari panggung, bercampur dengan obrolan dan tawa para tamu. Tapi semua itu terasa seperti suara yang berasal dari dunia lain. Dunia yang tidak bisa dijangkau oleh hatinya.'Aku tidak bisa terus di sini. Aku perlu udara segar.'Ia meneguk sisa sampanye di gelasnya dan meletakkannya di nampan pelayan yang lewat. Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju pintu belakang gedung. Ia butuh waktu sendiri. Ia butuh menjauh dari kerumunan, dari Sharon, dari semua kepura-puraan ini.Saat itulah ia mendengarnya. Sebuah teriakan yang terdengar sangat menyayat hati. Teriakan seorang wanita yang penuh dengan kepanikan dan kesakitan."Tolong! Tolong bayiku!"Randy membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang. Teriakan itu berasal dari arah tangga belakang. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju sumber suara.Sesampainya di sana, ia melihat tubuh seseorang terbaring di dasar ta







