Rosa terdiam. Wajahnya telah basah oleh airmata, kedua tangannya mengepal kuat.“Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini,” ucap Rosa pelan.Damar menarik napas panjang. Ia mengetukkan jarinya di atas meja kerjanya, tatapan tajamnya tak lepas dari gadis yang tengah duduk di hadapannya.“Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, dan ini yang kau yang harus kau terima.” Damar memijat keningnya sendiri.“Dengar penjelasanku,” lirih Rosa.“Oke, aku dengarkan. Silahkan bicara.” Damar mengangkat sebelah tangannya, tanda ia memberikan kesempatan Rosa untuk bicara.“Aku tak pernah menyuruh orang lain untuk menyerang Kenanga dan yang lainnya. Aku hanya meminta bantuan pada pengelola perkebunan untuk mengatur agar kita dibagi dua kelompok. Kamu dan aku, sedangkan Kenanga, Arga dan Sania ada dalam satu kelompok yang sama. Aku hanya ingin dekat denganmu,” ujar Rosa.Damar tak menjawab ucapan Rosa. Ia kembali memijit keningnya, en
Zuletzt aktualisiert : 2026-10-23 Mehr lesen