แชร์

Bukan Pemuas Nafsu Dokter
Bukan Pemuas Nafsu Dokter
ผู้แต่ง: Ardina whina

bab 1

ผู้เขียน: Ardina whina
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-30 17:15:04

BRAKK

"Ada apa mas?"

Tiba-tiba, suara pintu depan yang terhempas cukup keras memecah keheningan rumah.

Pintu kamar terdorong kasar. Alan Raditya berdiri di ambang pintu. Dokter spesialis bedah berusia tiga puluh tahun itu tampak sangat lelah. Jas dokternya sudah hilang menyisakan kemeja putihnya yang kusut dengan dua kancing atas yang terbuka. Dasinyapun sudah tergantung longgar di leher. Namun, tatapan matanya yang tajam dan gelap langsung mengunci keberadaan Luna di dekat lemari. Tidak ada jabawan dari pertanyaan Luna yang terkejut.

"Mas Alan...? Apa yang terjadi?" tanya Luna lembut, mencoba menyunggingkan senyum hangat. "Mas mau mandi dulu? Aku baru saja mau siapkan... "

Ucapan Luna terputus seketika. Tanpa mengeluar kata sepatah pun, Alan melangkah lebar mendekatinya. Wajah tegasnya memancarkan aura dominansi yang begitu pekat.

Luna tidak sempat mengatur nafasnya dan beradaptasi dengan keadaan itu. Tangan kokoh Alan meraih pergelangan tangannya. Ia menahannya dengan cengkeraman kuat namun pas.

"Mas Alan, ada apa?" cicit Luna panik saat Alan menyeretnya melangkah menuju kamar mandi utama.

"Diam, Luna!" suara Alan terdengar berat, serak dan penuh desakan yang tak bisa dibantah.

Alan mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Ia membawa Luna masuk ke dalam ruangan luas berlantai marmer tersebut.

Suasana kamar mandi terasa hangat oleh uap air panas. Alan menekan tubuh mungil Luna ke dinding marmer yang dingin dengan menggebu-gebu.

"Mas... lepas, Mas. Ada apa sebenarnya?" cicit Luna. Napasnya mulai tercekat saat mencium aroma maskulin Alan yang bercampur dengan bau khas rumah sakit.

"Aku lelah seharian di rumah sakit." bisik Alan di depan wajah Luna. Hembusan napasnya yang panas menerpa kulit leher istrinya. Sentuhan Alan membuat bulu kuduk Luna berdiri tegak. "Dan aku cuma butuh kamu malam ini."

"Tapi Mas, kita bisa ke tempat tidurkan?"

"Tidak perlu." potong Alan dingin dan tegas.

Tangan Alan yang bebas meraup tengkuk Luna. Alan menuntun penyatuan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, kasar, dan menuntut. Luna membelalakkan matanya sekilas sebelum akhirnya terpejam. Ia hanya bisa pasrah dalam cengkeraman sang suami.

Lidah Alan menyapu tanpa ampun. Tidak ada lagi perlawanan dari Luna dalam hitungan detik berikutnya.

Gairah Alan malam ini terasa begitu terbakar. Seolah pria itu sedang melampiaskan seluruh ketegangan kerjanya langsung kepada sang istri. Tangan Alan bergerak cepat menyibak gaun tidur sutra Luna. Ia meremas pinggang ramping gadis itu dengan erat dan mengangkatnya sedikit agar sejajar dengan posisinya.

"Ngh... Mas Alan..." rintih Luna di sela ciuman mereka. Tangannya refleks mencengkeram bahu kokoh Alan. Berusaha mencari pegangan di tengah gejolak panas yang menguasai tubuhnya.

Alan melepaskan tautan bibir mereka. Lalu menjatuhkan ciumannya ke leher jenjang Luna. Alan meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang pekat di sana. Napas mereka saling memburu, beradu dengan suara gemericik air dari pancuran yang sengaja dinyalakan Alan untuk menyamarkan suara desahan mereka.

Di bawah guyuran uap air dan kehangatan yang memenuhi ruangan marmer itu, Alan mengambil alih seluruh kendali.

Alan menuntut kewajiban istrinya dengan kungkungan yang teramat tinggi. Tanpa memberikan ruang bagi Luna untuk bernapas atau berpikir.

Luna menyerahkan dirinya pada Alan. Luan siap di masukin kapanpun suaminya itu mau. Mereka bersatu dalam nafsu yang sama-sama membara. Alan bergerak semakin intens dan cepat. Luna menyembunyikan rintihan dan desahannya di dada bidang sang suami. Tubuh indah Luna menjadi candu yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun bagi Alan.

Satu jam berlalu. Gelombang gairah yang membakar akhirnya mereda.

Mereka sudah berbaring di atas tempat tidur berukuran king size. Alan berbaring terlentang dengan dada bidang yang naik turun teratur. Bulir air masih membasahi kulitnya. Pria itu memejamkan mata setelah pelepasannya tadi. Napasnya perlahan melambat hingga menjadi ketukan yang stabil.

Rasa lelah fisik dan kepuasan batin baru saja menidurkannya dengan sangat lelap.

Di sampingnya, Luna terbaring miring. Luna menyelimuti tubuhnya hingga ke dada. Rambut hitamnya yang masih agak basah berantakan di atas bantal. Rasa pegal di seluruh persendiannya tak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya.

Luna menatap punggung tegap suaminya yang membelakanginya. Alan tertidur pulas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada pelukan pelindung seperti yang Luna sering bayangkan. Tidak ada usapan di kepala seperti yang Luna harapkan.

Apalagi pertanyaan apakah Luna baik-baik saja dan bagaimana harinya. Setelah pelampiasan hasrat Alan yang tinggi tersalurkan. Alan kembali membuangnya ke dalam ruang kesepian. Luna hanyalah istri sebagai bahan penyaluran hasratnya saja.

"Mas Alan..." bisik Luna lirih. Suaranya serak dan tenggelam dalam keheningan kamar.

Tidak ada jawaban. Hanya deru napas halus Alan yang terdengar. Air mata Luna akhirnya menetes membasahi kain bantal yang dingin.

Tiba-tiba, keheningan malam pukul dua dini hari itu terpecah.

Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel milik Alan yang tergeletak di atas meja nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang yang memancarkan cahaya kebiruan. Cahaya dari ponsel itu samar menerangi ruangan kamar yang remang itu.

Luna yang belum tertidur perlahan membuka matanya yang sembab. Dia menoleh ke arah meja nakas di sisi tempat tidur Alan. Suaminya sama sekali tidak bergeming. Alan tertidur sangat lelap karena kelelahan.

Ding!

Getaran ponsel berhenti dan digantikan notifikasi pesan masuk. Sudut layar yang mengarah ke atas membuat pandangan Luna mengarah ke ponsel itu.

Luna berdiri dari tempat tidurnya. Berjalan mendekati nakas yang berada di sisi lain tempat tidurnya. Rasa penasarannya teramat tinggi. Luna fikir itu adalah panggilan darurat dari rumah sakit untuk suaminya.

Ia meraih ponsel itu. Membuka kunci ponsel dengan ingatannya. Ternyata Alan belum juga mengganti kunci ponselnya setelah tiga tahun.

Mata jernih Luna membulat seketika.

[ Maya ]

Mas Alan, maafkan aku.

Aku seharusnya tidak seperti itu. Sekali lagi aku tau kesalahanku dan aku tidak berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan menjauh dariku ya.

Darah Luna seolah berhenti mengalir.

Maya. Dokter cantik, dewasa, dan rekan kerja yang selalu berada di dekat Alan di rumah sakit.

Layar ponsel itu perlahan meredup dan mati. Menyisakan Luna yang membeku dalam kegelapan. Luna menatap tubuh suaminya dengan napas yang terasa makin sesak dan air mata yang kian deras mengalir.

Ding!

Getaran ponsel itu kembali berbunyi.

[ Maya ]

Mas bisakah kita bertemu sekarang? Aku harus menjelaskan padamu tentang apa yang terjadi tadi.

Luna meremas ponsel itu. Kakinya mendadak tidak memiliki kekuatan untuk menahan tubuhnya.

"Ada hubungan apa selama ini Mas Alan dan Maya? Mengapa Maya ingin menemuinya tengah malam seperti ini."

Batin Luna ingin menjerit. Apa ini alasan selama ini Alana bersikap dingin padanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 7

    "Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri. Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   Bab 6

    "Foto itu..." Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan. Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan. Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan. "Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau. Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya. "Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya. Luna tidak menjawab. Langk

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 5

    "Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya.Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya.Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri.Keheningan kembali menguasai kabin mobil.Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya men

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 4

    Klik "Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya. Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi. Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik. Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan. "Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh. Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup. Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lutu

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 3

    "Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu."Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya."Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat. Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari ruma

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 2

    "Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya.Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri.Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya.Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status