Ruang bawah singgasana itu terasa lebih sempit dari sebelumnya. Udara di dalamnya dingin dan pengap, bercampur bau logam tua dan debu yang sudah lama tidak tersentuh. Sarah masih memegang buku catatan kulit itu di tangannya, jemarinya menempel pada halaman pertama yang menampilkan nama Raja Harun. Di sampingnya, Adrian berdiri seperti patung. Wajahnya pucat, matanya kosong, seolah seluruh tubuhnya baru saja kehilangan tenaga."Adrian," panggil Sarah pelan.Adrian tidak menjawab. Ia menatap nama ayahnya di halaman itu, berulang-ulang, seperti berharap tulisan itu berubah menjadi nama lain. Mira berdiri di mulut tangga, tidak berani turun lebih jauh. Ia hanya menunggu, menjaga pintu masuk ruang bawah."Ayahku pendiri kelompok itu," kata Adrian akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi. "Ayahku yang mengajari aku tentang keadilan, tentang kehormatan, tentang melindungi rakyat. Ayahku yang bilang bahwa raja harus jadi pelayan terbaik bagi kerajaannya."Sarah tida
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-14 อ่านเพิ่มเติม