Sejak pulang dari taman kemarin, Aeloria tidak membalas satu pun pesan dari Alaric. Bukan karena dia tidak melihatnya. Justru ponselnya sudah beberapa kali bergetar sejak malam, tetapi setiap kali nama Alaric muncul di layar, Aeloria hanya menatapnya sekilas lalu membalik ponsel. Pesan terakhir bahkan masih terbuka sampai pagi, membuat Aeloria semakin kesal karena satu kalimat sederhana terus terngiang di kepalanya. *Awalnya memang permainan. Tapi sekarang udah bukan.* “Nyebelin.” Aeloria melempar ponselnya ke atas kasur, lalu buru-buru mengambilnya lagi ketika takut layar terbentur. Dia menghela napas sambil menatap jam. Lima menit lagi dia harus berangkat sekolah, tetapi pikirannya masih sibuk memperdebatkan satu hal yang sama, haruskah dia menemui Alaric? Atau menghindarinya sampai semuanya terasa lebih tenang? Pilihan kedua terdengar lebih aman. Sayangnya, begitu sampai di sekolah, Aeloria langsung melihat Alaric berdiri di ujung koridor, langkahnya otomatis melambat, Alar
Last Updated : 2026-09-13 Read more