MasukSejak pagi, Aeloria sudah merasa ada yang tidak beres. Ia berdiri di depan cermin kelas sambil merapikan rambutnya berkali-kali, lalu menarik napas panjang sebelum mengambil map presentasi dari atas meja. Begitu melihat jam, ia langsung mengerutkan kening karena waktu tampil mereka tinggal kurang dari satu jam. “Gue kenapa sih?” Freyana yang sedang duduk di belakangnya langsung menoleh. “Kenapa apanya?” “Jantung gue berisik.” Vania tertawa. “Jantung emang bisa berisik?” “Bisa kalau punya elo.” “Lah, gue nggak ngapa-ngapain.” Aeloria mengambil botol minum dan meneguknya. Tangannya terasa dingin meskipun suasana kelas cukup hangat, sementara kertas di dalam map sudah ia periksa sampai tiga kali. Ia menutup map tersebut dengan cepat lalu menaruhnya di meja. “Gue nggak mau lihat lagi.” Freyana mendekat. “Takut salah?” “Enggak.” “Gugup?” “Sedikit.” “Sedikit banget?” Aeloria melotot. “Jangan dipancing.” Raka datang beberapa menit kemudian sambil membawa materi
Hari berikutnya, Aeloria datang lebih pagi dari biasanya. Ia langsung menuju kelas sambil membawa map berisi materi presentasi yang sudah ia rapikan sejak malam sebelumnya. Begitu sampai di meja, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memeriksanya sekali lagi, memastikan tidak ada bagian yang tertinggal. “Pembukaan aman.” Ia membalik halaman berikutnya. “Isi aman.” Halaman terakhir membuat dahinya berkerut. “Penutup…” Aeloria mendecakkan lidah. “Kok jelek banget?” Freyana yang baru datang langsung menarik kursi di sebelahnya. “Apanya?” “Penutup presentasi gue.” Freyana membaca beberapa kalimat yang tertulis di kertas. “Menurut gue bagus.” “Biasa.” “Terus maunya gimana?” Aeloria mengambil pulpen dan mencoret beberapa kata. “Gue pengin kedengeran yakin, bukan kayak orang baca buku.” Vania muncul dari belakang sambil membawa tas. “Elo emang mau presentasi atau pidato kenegaraan?” Aeloria langsung menoleh. “Kalau elo nggak bantu, mending diam.” “Pagi-pagi g
Pagi itu, suasana kelas terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa sibuk membawa perlengkapan ke depan kelas, sementara yang lain berdiri mengelilingi meja guru sambil membicarakan acara sekolah yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Aeloria baru saja meletakkan tas ketika sebuah kertas ditempel di papan pengumuman kelas. Ia mendekat dan membaca isinya. Nama Aeloria tercantum sebagai salah satu perwakilan kelas untuk mengikuti lomba presentasi antar kelas. Matanya langsung membesar sebelum tangannya menarik kertas itu dari papan. “Ini siapa yang nulis nama gue?” Tidak ada yang menjawab. Freyana yang baru masuk langsung menghampiri dan membaca kertas tersebut, lalu menatap Aeloria dengan senyum yang mencurigakan. “Kayaknya elo.” “Gue nggak pernah daftar.” Vania ikut melihat. “Tapi nama elo ada.” “Gue bisa baca.” “Berarti tinggal ikut.” Aeloria langsung menoleh. “Gue lempar papan tulis ke kepala elo.” Vania mundur sambil tertawa. Freyana mengambil kertas itu dari tang
Pagi itu, Aeloria baru saja duduk ketika suara gaduh dari belakang kelas langsung membuat kepalanya menoleh. Beberapa siswa sedang berebut tempat untuk menaruh properti acara sekolah, sementara meja-meja mulai bergeser dari posisi semula. Aeloria menghela napas panjang, lalu menatap keadaan kelas dengan alis berkerut. “Siapa yang mindahin meja gue?” Salah satu siswa mengangkat tangan. “Gue. Tadi butuh tempat buat naruh kardus.” “Terus kenapa harus meja gue?” “Karena kosong.” “Kosong bukan berarti boleh dipindahin.” “Kan tinggal digeser lagi.” Aeloria menatap meja yang sekarang berada hampir di tengah kelas. Ia berjalan mendekat, lalu menariknya kembali ke tempat semula dengan kedua tangan. Setelah berhasil, ia mengusap telapak tangannya sambil mendengus. “Kalau butuh tempat, ngomong. Jangan asal ambil.” “Cuma meja, Ael.” “Justru karena cuma meja, jangan dibikin ribet.” Freyana yang baru masuk langsung melihat suasana kelas. Ia menaruh tas di kursinya, lalu menghampiri Aelor
Jam pelajaran terakhir baru saja selesai ketika Aeloria memasukkan buku ke dalam tas. Ia sudah ingin segera pulang, tetapi suara beberapa siswi di dekat pintu membuat tangannya berhenti bergerak. Mereka sedang membicarakan seseorang dengan suara cukup keras sampai nama Alaric terdengar jelas. “Katanya Alaric tadi bantu anak kelas sebelah.” “Yang cewek itu, kan?” “Iya. Katanya mereka lama banget di lapangan.” Aeloria menutup resleting tas sedikit lebih keras dari seharusnya. Freyana yang sedang merapikan buku langsung melirik ke arahnya, sementara Vania menahan senyum. “Kenapa?” tanya Aeloria. “Gue belum ngomong apa-apa,” jawab Freyana. “Tatapan elo ngomong.” Vania ikut menyahut, “Kita juga nggak bilang apa-apa.” Aeloria berdiri dan menyampirkan tas ke bahu. “Bagus. Berarti nggak usah ngomong.” Ia berjalan keluar kelas lebih dulu. Namun, langkahnya justru melambat ketika mendengar salah satu siswi tadi kembali tertawa. “Kalau gue jadi dia, gue juga bakal seneng di
Bel istirahat baru saja berbunyi ketika Aeloria menutup bukunya dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Ia sudah berniat pergi ke kantin bersama Freyana dan Vania, tetapi langkahnya terhenti saat ketua kelas menghampiri meja mereka. Dari ekspresi wajahnya saja, Aeloria sudah bisa menebak kalau ada sesuatu yang tidak beres. “Ael, nanti habis istirahat lo bisa bantu ke ruang OSIS?” Aeloria langsung mengernyit. “Bantu apaan lagi?” “Ngurus daftar peserta acara sekolah. Ada beberapa nama yang belum dicek.” “Kenapa gue?” “Karena tulisan tangan lo paling gampang dibaca.” Aeloria menatap kertas yang diberikan kepadanya. Ia membolak-balik lembaran itu dengan wajah tidak percaya, lalu menatap ketua kelas lagi. “Ini alasan paling aneh yang pernah gue dengar.” “Yang penting elo mau, kan?” “Gue belum bilang mau.” Ketua kelas langsung kabur sebelum Aeloria sempat melanjutkan protes. Freyana yang melihat kejadian itu hanya tertawa kecil sambil berdiri. “Ya udah, bantuin aja.”







