“Udah dipanggil Lunanya, Leon?” Bu Sekar langsung bertanya pada Leon yang turun dari tangga. “Sudah, Ma.” Leon mengambil posisi duduk di sofa, berseberangan dengan Rafathar. Matanya menatap Rafathar dengan tajam. “Luna masih siap-siap. Kalau tidak mau menunggu dengan sabar, silakan pergi.”Rafathar yang mendengarnya pun mendengkus. “Saya mau tunggu dengan sabar kok, Mas. Tenang aja.”Leon menyandarkan punggungnya pada sofa lalu kedua tangannya bersedekap. Tatapannya terus menghunus tajam ke arah Rafathar yang duduk di hadapannya. “Kalian mau pergi ke mana? Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi.”Rafathar pun menjawab dengan kalem. “Apa urusannya sama Mas?”Leon menaikkan sebelah alisnya, ia menipiskan bibirnya menahan emosi. Lalu dengan suara yang rendah dan penuh penekanan ia menjawab, “Luna tinggal dirumah saya, otomatis Luna menjadi tanggung jawab saya sekarang. Saya harus tau ke mana dia pergi. Siapa tau terjadi sesuatu sama dia.”“Luna akan baik-baik aja sama saya kok, Mas,”
Zuletzt aktualisiert : 2026-10-08 Mehr lesen