Satu Atap

Satu Atap

By:  IamBlueRed  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.5
Not enough ratings
80Chapters
109.2Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Lisa Alisia yang masih 17 tahun harus menikah. Mirisnya, ia menikah dengan Ares Reigara teman sekelas paling menyebalkan yang pernah ia temui seumur hidupnya. Ares menyukai Lisa, tetapi Lisa tidak menyukai Ares. Bagaimana jadinya jika mereka berdua harus tinggal satu atap dalam kurun waktu sebulan?

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
80 chapters
1. Annoying Boy
"ARES!!!"Lisa berteriak marah pada pemuda di depannya, melotot tajam. Ia sungguh emosi. Rasanya Lisa ingin sekali menendang kaki Ares agar pemuda itu berhenti mengacak-acak sampah ruang kelas yang telah ia sapu dan kumpulkan di depan pintu. Sudah menyapu sendiri, ia malah membuat Lisa mengulang tugasnya lagi. Menyebalkan!"Sorry. Nggak liat kalau ada sampah," ujarnya santai, kembali melangkah tetapi dengan kaki yang menendang beberapa sampah sehingga kembali berserakan.Lisa menghela napas. Darah di tubuhnya sudah mendidih sebenarnya, tapi ia mencoba sabar. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan tingkah Ares yang menyebalkan. Dia memang perusuh dan pengganggu tingkat akut. Terlebih dalam urusan menganggu Lisa sang ketua kelas."Mau kemana?!" Lisa merentangkan sebelah tangannya, menghadang tubuh Ares yang akan keluar pintu."Pulanglah. Mau ikut?""Nggak! Kamu piket hari ini, Res! Janga
Read more
2. Ice Cream
"Pak, strawberry satu, ya." Lisa berucap pada penjual es krim di depannya."Siap, dek."Lisa tersenyum simpul, duduk di kursi taman sembari menunggu es krimnya jadi. Ia menatap sekitar. Suasana taman kota cukup ramai. Banyak anak bermain di dekat air mancur di tengah taman. Ada juga orangtua yang sedang bermain kejar-kejaran bersama anaknya dengan riang. Sedangkan di sepanjang kursi pinggir taman, beberapa pasang kekasih duduk berdua dan terlihat mengobrol mesra. Mirip seperti Lisa, hanya saja ia sendirian. Sempat mengobrol hanya dengan pak penjual es krim tadi, dan itu tidak mesra.Setelah tadi bersepedaan mengelilingi kota, Lisa memilih untuk berhenti di taman dan berjalan kaki sebentar mengelilinginya. Kurang kerjaan memang. Tapi begitulah Lisa. Ia akan melakukan sesuatu yang menurutnya menyenangkan. Setelahnya, ia membeli es krim keliling kemudian duduk di kursi taman seperti saat ini. Penatnya juga sudah sedikit menghilang. Ref
Read more
3. Lost The Key
"Ares, balikin kuncinya!" Lisa berseru marah. Ares malah mengangkat tangan kanannya lebih ke atas, meninggikan kunci gembok sepeda Lisa agar ia tidak bisa menggapainya. Menyebalkan!Baru saja tadi Lisa berpikir hari ini momen terlangka karena ia tidak marah-marah pada Ares seperti biasanya. Tapi ternyata pemikiran itu salah. Tidak ada momen terlangka! Ares tetap menyebalkan setiap saat. Dia kembali berulah.Tadi saat Lisa akan pulang, kunci gembok sepedanya yang diparkir di pinggir jalan hilang. Lisa panik. Pasalnya ia memang teledor dengan hanya menggenggam kunci itu di tangan, tidak memasukkannya ke saku atau tempat semacamnya. Saat Lisa sedang bingung-bingungnya mencari, tiba-tiba Ares datang sembari mengangkat tangan, memperlihatkan kunci yang ia pegang. Rupanya kunci itu jatuh dan ditemukan olehnya. Lisa hampir berterimakasih dan mengambil kunci itu sebelum akhirnya Ares menarik kembali tangannya, menganggu Lisa seperti hobi sehari-harinya.
Read more
4. The Craziest Thing Ever
Ares mengambil smartphone di atas meja di depannya, mengklik salah satu ikon game disana. Ia menyenderkan punggung, menekuk satu kakinya lalu meletakkannya di atas kaki yang lain.Waktu menunjukkan pukul delapan malam lebih lima menit. Tidak ada tanda-tanda datangannya tamu seperti yang orangtuanya bicarakan. Tapi mereka sudah menyuruhnya bersiap-siap di bawah. Daripada bosan, akhirnya Ares memilih memainkan game di smartphonenya."Gimana sekolahmu? Baik-baik aja kan?" Tiba-tiba mamanya menyeletuk, mengambil minuman di dekatnya.Ares mengangkat kepala, menjeda game di hpnya. "Hmm... Baik." Ia memaksakan senyum.Ares tahu nada bicaranya memang kaku. Tujuh tahun jauh dari orangtuanya membuat mereka terasa asing jika berada di dekatnya. Lebih menyebalkannya lagi, sekembalinya mereka dari luar negeri sebulan yang lalu kemudian tinggal bersamanya, hanya untuk mengadakan acara perjodohannya yang akan dilakukan sebentar la
Read more
5. Inverse Matrix
Pagi ini hujan membasahi bumi. Langit mendung. Matahari urung menampakkan diri. Lisa memandangi jendela mobil yang berembun. Ada titik-titik air hujan di luarnya. Rasanya seperti alam mengerti suasana apa yang mendukung perasaannya yang sedang berkabut ini.Waktu menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Biasanya ia sudah sampai sekolah sekarang. Tapi entahlah, hari ini Lisa sedang malas. Sebenarnya semua sudah siap sejak sebelum jam enam tadi. Hanya tinggal memanggil Pak Udin supir di rumah Lisa untuk mengantarnya ke sekolah. Tapi ia malah tiduran di kamar malas sampai jam enam lebih. Mungkin ia akan lupa berangkat jika ayahnya tidak mengetuk pintu kamarnya tadi.Ck! Ini semua gara-gara tadi malam. Moodnya masih saja buruk sampai sekarang."Sekolahmu baik kan, Sa? Nggak ada masalah?" Ayah Lisa di sebelah kanannya tiba-tiba bertanya, menatap ke arahnya sekilas, lalu balik menatap jalanan. Ayahnya memang yang mengantar Lisa ke s
Read more
6. Ours
Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi. Lisa menyenderkan punggung ke kursi di belakangnya, meregangkan otot di tubuh. Dia baru saja menyelesaikan PR 10 soal determinan dan invers matriks yang tadi diberikan oleh Bu Rika. Setidaknya tugasnya di rumah nanti sedikit berkurang. Pasalnya ada banyak PR menumpuk yang belum ia kerjakan. Alasannya? Hmm... Apalagi jika bukan karena masalah perjodohan. Satu-satunya hal yang akhir-akhir ini Lisa kambing hitamkan atas seluruh perilaku negatifnya.Lisa menoleh ke samping, menatap Ares yang sedang serius mengerjakan soal. Ia pikir pemuda itu akan cepat jenuh ketika belajar. Tapi ternyata tidak, Ares nampak berusaha keras menyelesaikan soalnya. Sempat beberapa kali bertanya pada Dimas dan Lisa bagian yang belum ia pahami tadi.Dimas sendiri pergi ke perpustakaan beberapa menit yang lalu. Bilang kelupaan jika akan meminjam sebuah buku disana. Jadi ia izin pergi sebentar. Lagipula Lisa sudah paham bab invers matriks
Read more
7. Fake Little Brother
Angka di jam dinding menunjukkan pukul empat. Suasana di luar rumah cerah. Matahari bersinar lembut. Tidak seperti tadi pagi, kali ini langit bersih dari mendung yang menggelayut. Angin sore segar berhembus sepoi-sepoi, menggerakkan dedaunan di depan rumah.Lisa menyerut jus mangga, duduk lesehan di teras rumahnya. Ia menatap buku tugas yang ia pegang, mengecek jawaban seseorang. Beberapa detik kemudian dahinya langsung terlipat. Ada jawaban yang salah."Positif kali negatif kok positif sih, Yan? Itu pelajaran anak SD tahu. Masih aja salah." Lisa berucap sebal pada pemuda blasteran di depannya. Ia ingin mengikuti teladan Dimas yang sabar ketika mengajari orang. Tetapi sepertinya gagal. Lisa gemas sekali dengan jawaban pemuda di depannya yang nyaris salah perhitungan keseluruhannya. Terlebih moodnya sedang tidak baik sekarang."Tadi yang bilang hasilnya plus siapa? Aku cuma ngikut," ujar pemuda bermarga Miller itu santai.<
Read more
8. Later (a)
"Lisa sama Ares nggak papa satu rumah, Mas. Tapi harus dalam pengawasan kita."Lisa berhenti melangkah ketika tidak sengaja mendengar ucapan bundanya di dalam kamar. Niatnya ia ingin mengambil buku-buku Vian yang tertinggal di atas meja teras tadi. Tapi urung, Lisa malah ganti halauan jadi menguping percakapan kedua orangtuanya."Mereka belum bisa tinggal berdua tanpa kita. Kalau nggak tinggal disini, mereka bisa tinggal di rumah papa Ares. Jangan tinggal satu rumah tanpa siapa-siapa," lanjut bundanya. Lisa yang sudah mendekat ke dinding kamar orangtuanya menelan ludah, menunggu jawaban ayahnya."Jadi itu yang Bunda takutin?" Ayahnya terkekeh di dalam sana. "Lisa Ares itu masih kecil. Kemarin denger sendiri kan mereka suka berantem di kelas? Nggak mungkin mereka saling suka. Kenapa Bunda bisa mikir sampai sejauh itu? Lagian bakal ada Bi Inah sama Pak Udin juga yang tinggal disana," jawab ayahnya."Mas, cinta itu dat
Read more
9. Later (b)
Seminggu melesat dengan cepat.Waktu menunjukkan pukul dua siang. Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Lisa membereskan peralatan tulisnya, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia mengambil smartphone di kolong meja, berniat menghubungi Pak Udin agar segera menjemputnya, tapi urung ketika ia mengingat sesuatu.Lisa mendadak malas pulang ke rumah. Kedua orangtuanya pasti sedang sibuk sekarang. Apalagi jika bukan sibuk mengurusi 'hal itu'? Hal yang tidak ingin Lisa pikirkan sama sekali sekarang. Lagipula ayah bundanya memang menyuruh Lisa duduk manis saja. Segala sesuatu yang berkaitan tentang 'hal itu' akan dipersiapkan sendiri oleh mereka nantinya. Lisa sendiri tidak terlalu peduli akan bagaimana hasilnya.Menghela napas panjang, Lisa menenggelamkan kepala
Read more
10. Together
"Ini," Ares duduk di bangku sebelah Lisa, menyodorkan es krim berwarna pink padanya. "Suka strawberry, kan?" tanya pemuda Reigara itu.Lisa yang sejak tadi fokus membalas pesan Vian mendongak, menerima uluran es krim dari Ares."Makasih," ujarnya singkat. Lisa suka semua rasa es krim, tapi rasa yang paling ia suka adalah rasa strawberry. Itu rasa paling enak di dunia menurutnya.Menjilat es krim yang ia bawa di tangan, Lisa menyapu pandang ke sekitarnya. Ia baru menyadari jika keadaan yang ia rasakan sekarang sama seperti yang terjadi seminggu yang lalu. Hari yang sama, waktu yang sama, es krim yang sama, bangku serta suasana yang sama---taman kota selalu ramai dengan anak kecil dan beberapa orang dewasa setiap sore. Yang berbeda hanyalah hari esoknya. Hari libur yang tidak biasa, tapi juga bukan berarti hari libur yang luar biasa baginya."Nggak suka boneka ini ya, Sa?" Tiba-tiba Ares bertanya.Lis
Read more
DMCA.com Protection Status