My Cold Doctor (Indonesia)

My Cold Doctor (Indonesia)

By:  Selfie Hurtness  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.9
Not enough ratings
153Chapters
823.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Duda beranak satu itu benar-benar sedingin es, tatapannya tajam setajam scalpel yang biasa ia gunakan ketika berperang di dalam ruang operasi. Sosok menyebalkan yang kemudian membuat dia harus mengulang Stase bedahnya sekali lagi, sosok yang kemudian berada dalam pelukannya ketika ia sadar dari sisa mabuk semalam. Dunianya runtuh ketika ia sadar dari kecelakaan itu tumbuh janin di rahimnya, apa yang kemudian akan Selly lakukan? Apa tanggapan Dokter Anggara Tanjaya, dokter bedah sedingin es itu atas kehamilannya? Cover by : Reistyaa

View More
My Cold Doctor (Indonesia) Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
153 Chapters
Tragedi Ban Kempes
“Sial!” umpat Selly kesal ketika menyadari ban mobilnya kempes, mana dia buru-buru pagi ini! Ia memukul setir dengan gemas lalu melangkah turun guna memeriksa kondisi ban mobilnya. Kempes, benar-benar kempes! Selly memijat pelipisnya dengan gemas. Mana setengah jam lagi sosok menyeramkan itu sudah visiting lagi! Ia merogoh iPhone-nya mencoba mencari pertolongan ketika kemudian Pajero putih itu berhenti tepat di belakang mobilnya. Selly mengerutkan keningnya, siapa itu? Apakah kenal dengan dirinya sampai-sampai ia harus berhenti dan hendak menolong dirinya? Eh ... tapi kata siapa ia hendak menolong Selly? Siapa tahu ia hanya berhenti hendak menerima telepon atau mungkin hendak membuang sampah? Membeli minuman atau koran? Tidak ada yang tahu bukan? Belum hilang rasa terkejut Selly ketika tahu yang turun dari mobil itu adalah sosok Anggara Tanjaya, dokter bedah senior sekaligus salah satu konsulennya yang tadi ia sebut menyeramkan itu. Sosok dingin dan
Read more
Sedingin Es
“Kakak pamit dulu ya, kamu semangat belajarnya, oke?” Selly mengelus lembut kepala Felicia, ia bahkan turun dan mengantar gadis kecil itu sampai di depan kelasnya. “Siap, Kak! Terima kasih banyak sudah mau antar Felis!” gadis itu mengacungkan jempolnya. Selly hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, ia hendak membalikkan badan dan melangkah pergi dari depan kelas gadis itu ketika kemudian sosok dengan seragam batik itu muncul dan tersenyum ke arahnya. “Lho, Felicia diantar siapa ini? Mama ya?” Selly sontak melonggo, mama? Jadi wanita – yang pasti – adalah guru dari Felicia itu mengira bahwa dia adalah mama dari Felicia? Gila! Memang sih dia tahu betul bahwa konsulennya itu adalah duda, namun masalah siapa isterinya, kenapa mereka berpisah, itu Selly sama sekali tidak tahu. “Bu-bukan, Bu! Saya bukan mamanya Felicia,” ujar Selly sambil nyengir lebar. Punya suami kayak dokter Anggara? Bisa gila dia nanti! “Oh saya kira mamanya Felicia, la
Read more
Asistensi Operasi
“Selly ikut asistensi, saya tunggu di OK!” perintah sosok itu tegas kemudian dengan santainya melangkah meninggalkan Selly dan beberapa teman koasnya yang lain. Selly masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap kepergian laki-laki itu yang tengah melangkah ke OK yang ada di gedung sebelah lantai yang sama. Ia kemudian menatap teman-temannya satu persatu, kenapa dia lagi sih yang harus ikut masuk ke OK? Perasaan dari lima orang temannya yang saat ini koas di bagaian bedah, rekor Selly mengasistensi chief residen atau dokter bedah lebih banyak dibandingkan teman-temannya yang lain. “Kok gue lagi sih?” desis Selly nelangsa. “Sudah sono pergi, laris amat sih elu jadi asistensi?” cibir Yosi dengan muka penuh kemenangan, kalau asistensi yang lain dia masih oke, tapi kalau sosok itu ... ah seperti mimpi buruk! Dan tampaknya mimpi buruk itu menghampiri Selly. “Cepetan siap-siap sono, ntar dia ngamuk berabe, Sel!” Dant
Read more
Modus
Operasi sudah selesai, pasien sudah dipindah ke ruang pulih sadar untuk observasi lebih lanjut sebelum pasien bisa kembali ke bangsal rawat inapnya. Akhirnya selesai juga sesi menegangkan hari ini. Ikut asistensi di OK saja sudah sangat menegangkan, ditambah penata bedahnya adalah sosok dokter Anggara Tanjaya! Ruang operasi jadi makin horor macam ruang jenazah! Selly mencuci tangannya bersih-bersih, ia hendak melangkah keluar ketika kemudian Adit muncul dan mengekor di belakangnya. "Sel, udah makan?" tanya sosok itu sambil menjejerkan langkahnya di samping Selly. "Belum nih, Bang. Kenapa?" Selly mengerutkan keningnya, biasanya kalau kayak gini bentuk modus dari abang-abang residen pada para koas. "Temenin Abang makan yuk, Abang yang traktir kamu deh, yuk ah ... mau makan apa?" Selly tampak berpikir sejenak, sudah jam makan siang juga bukan? Rasanya tidak ada ruginya mengiyakan ajakan residen bedanya satu ini. Lumayan makan siang gratis. <
Read more
Senorita?
Sudah waktunya pulang, tidak ada cito dan lain sebagainya, jadi Anggara sudah bisa langsung kembali kerumah. Ia sudah rindu dengan gadis kecilnya itu. Entah apa nanti yang ia ceritakan perihal kegiatannya di sekolah, yang jelas obat lelah dan letih Anggara cuma itu. Dengan santai ia melangkah menuju parkiran. Suasana poli rawat jalan sudah sepi, bangsal rawat inap yang ramai banyak orang berlalu-lalang, jam besuk sudah dibuka. Anggara tertegun ketika mendapati Honda Jazz putih itu masih terparkir di sebelah mobilnya. Sebuah senyum mengembang di wajah Anggara. Mobil itu bukan yang tadi pagi ia kendarai? Yang ia ganti ban belakangnya karena kempes? Sontak ia teringat dengan sang pemilik mobil, kenapa wajah itu terus terngiang di dalam pikiran Anggara? Anggara menghela nafas panjang, ia menggelengkan kepalanya sambil memijit pelipisnya dengan gemas. Ada apa dengan dirinya ini? Kenapa ia jadi seperti ini? Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya sendiri. Tangannya me
Read more
Tidak Sengaja
"Papa sudah mandi?" tanya Felicia ketika ia melonggok ke dalam kamar sang papa. "Sudah Sayang, sini Papa pengen peluk kamu!" Anggara tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya. Sontak Felicia berlari dan jatuh ke dalam pelukan sang papa, sebuah pelukan terhangat dalam hidupnya. Anggara merasa semua lelah dan letihnya sirna seketika ketika tubuh mungil ini bermanja-manja padanya seperti ini. "Papa capek nggak?" tanya Felicia sambil menatap manik mata sang papa. "Capek Papa hilang tiap lihat kamu, memang kenapa?" Angara membawa gadis itu dalam gendongannya. "Main ke mall yuk, Pa. Beli camilan buat besok ada acara di luar kelas," renggek Felicia manja. "Acara apa?" Anggara tampak mengerutkan keningnya. "Ahh ... masa lupa sih? Mau main ke itu sekolah anak-anak kurang beruntung, difabel namanya kalau nggak salah." Astaga, saking sibuknya dengan pekerjaan, Anggara sampai l
Read more
Kebetulan Yang Menguntungkan?
Anggara bergegas kembali melanjutkan belanjanya, ia sudah memasukkan beberapa camilan dan snack kesukaan anak-anak untuk besok dibawa Felicia kunjungan ke sekolah luar biasa. Beberapa cokelat dan susu UHT pun tak lepas dari bidikan Anggara, rasanya nanti ia perlu beli plastik untuk mengemas makanan-makanan kecil itu bukan? Ahh ... sebuah ide yang sangat mendadak sekali, semoga waktunya cukup untuk merealisasikannya. "Pah, makan es krim yuk! Pengan sundae-nya McD," renggek Felicia sambil memasang puppy eyes andalannya. "Boleh, bayar dulu ya tapi," Anggara tersenyum, apa sih yang tidak untuk gadis kesayangannya itu? Ia membawa trolley-nya ke kasir, hanya ada tiga pos kasir yang buka dari belasan pos kasir yang ada di hypermart itu membuat antrian sedikit panjang. Anggara menghela nafas, rasanya ia harus sedikit bersabar hingga kemudian bisa menyelesaikan kegiatan belanjanya ini. Felicia sibuk menyusun kotak-
Read more
Ice Cream
"Sekalian saja, Mbak!" Anggara menyodorkan kembali debit card-nya kepada petugas kasir. "Eh ... Tunggu, Dokter ... Anda ....." "Sudah, jangan membantah!" Anggara memberi kode pada Selly untuk tidak protes, ia sendiri sudah menyusun plastik belanjanya di trolley. Selly menghela nafas panjang, sebanyak ini dan konsulennya yang bayar? Astaga, akan ada tragedi macam apa setelah ini? Ia yakin bahwa belanjaannya itu akan habis dua ratus ribu lebih. "Dokter sa-saya ...." "Sudah, saya ikhlas, jangan khawatir." Potong Anggara singkat. Kembali Selly hanya menghela nafas panjang, ia melirik Felicia yang sedang asyik dengan cokelat di tangannya itu. Belanjaannya sedang di hitung. Mulai dari pembalut, sabun cuci muka, body lotion dan tak lupa cemilan-cemilan serta mie instan yang jumlahnya lumayan banyak itu sudah menyentuh angka dua ratus lima puluh ribu, mampus! Tampak Selly garuk-garuk kepala, ia jadi tidak enak dengan sosok ko
Read more
Kamu Dimana?
"Saya dan Kevin satu alumni, saya beberapa kali main kerumah kamu, orangtua kita teman baik, kenapa saya nggak pernah melihat kamu?" tanya Anggara yang begitu penasaran.Selly menatap Anggara dengan tatapan tidak percaya, sedetik kemudian ia tersenyum dan menghela nafas panjang."Kalau Dokter satu angkatan dengan kakak saya, berarti benar Dokter tidak kenal atau tidak lihat saya, sejak kecil saya ikut Tante saya, karena beliau kehilangan suami dan anaknya sekaligus dalam sebuah kecelakaan. Beliau minta saya ikut bersamanya sebagai obat kesepian dan kepedihan atas tragedi yang menimpa keluarganya, Dokter."Anggara tampak mengangguk tanda mengerti, pantas dia sama sekali tidak pernah melihat sosok Selly ketika dulu mampir kerumah Kevin untuk sekedar belajar bersama ketika mau ujian blok atau persiapan diskusi ilmiah, jadi ceritanya seperti itu?"Jadi kamu ikut tantemu?" Anggara tampak mengulangi pertanyaannya itu, seo
Read more
Ini Gila
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Dokter. Sejak tadi pagi saya sudah sangat merepotkan," guman Selly kikuk, gimana nggak merepotkan? Tadi pagi dokter itu harus repot-repot mengganti ban mobilnya yang kempes, lalu membayar semua belanjaannya yang hampir tiga ratus ribu itu, kemudian masih mentraktir Selly makan es krim. "Jangan sungkan, Sel. Orangtua kita teman baik, saya dan kakak mu teman dekat," Anggara mengentikan langkahnya, mereka sudah sampai di area parkir, "Saya antar dulu ke mobilmu, kamu parkir dimana?" Selly tersenyum penuh arti, lalu menganggukkan kepalanya perlahan. Mereka kembali melangkah menuju tempat parkiran Selly kembali suasana menjadi, tidak ada obrolan yang terjadi. Felicia pun masih asyik dengan kubik yang tadi Selly belikan di toko mainan. "Sekali lagi terima kasih banyak, Dok." Selly bergegas membuka pintu mobil, memindahkan plastik belanjaannya ke dalam mobil. "Sudah saya
Read more
DMCA.com Protection Status