Sang Penakluk

Sang Penakluk

By:  Theresia Rini S  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
217Chapters
29.7Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Keenan Ganendra dan Alden Aminata adalah dua pemuda berusia dua puluh dua tahun yang cerdas, tampan dan memiliki kehidupan masa muda fantastis juga menyenangkan. Keduanya kompak dalam segalanya dan berbagi hingga hal yang sangat pribadi. Saat menjalankan perusahaan orang tua, mereka bertemu dengan Shana, petualang cinta yang cerdas. Shana mengumbar tubuhnya untuk kedua pemuda. Mereka tidak keberatan dan menjalani hidup dengan berbagi wanita. Akan tetapi, mereka dihadapkan oleh satu pilihan di mana mereka tidak bisa berbagi. Hadirnya Indira Sartika, gadis yang bekerja untuk nenek Keenan, Eyang Widari, membuat kedua pemuda bersaing ingin mendapatkan simpatinya. "Aku adalah candu fantasimu." Antara kebutuhan gairah dan hasrat, Shana menjadi pilihan menantang dan sempurna untuk dimiliki. Namun jika berbicara akan hati dan perasaan, Indira adalah pilihan yang sesuai dan tiada duanya! Siapakah akhir dari jodoh masing-masing? Berlatar belakang cinta segi empat, intrik perusahaan, dan drama keji keluarga, cerita ini menceritakan tentang bagaimana tiap tokoh menaklukkan tantangannya! This is a rebelious story of love!

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
217 chapters
Jejaka Muda
Keenan membanting tubuh di sofa sementara ketiga gadis yang mendambakan dirinya melirik dengan penuh hasrat. Tiga mahasiswi semester empat, belia dan segar! Itulah istilah Keenan bagi wanita yang menarik minatnya. Lota, Jena, dan Carmen, tiga gadis berkulit putih dan memiliki tubuh indah memasang aksi menggoda. Siapa yang tidak mengenal dia? Anak pengusaha kaya raya, tampan dan cerdas! Kombinasi sempurna untuk makhluk keturunan adam. "Keen, jangan lupa!" seru Baren, teman kuliahnya yang selalu mengatur gadis-gadis incarannya untuk datang ke apartemen Keenan di kawasan Kemang. Keenan mengacungkan jempol dan Baren berlalu. "Have fun, Ladies!" seru Baren sebelum lenyap di balik pintu. Keenan meraih telepon canggihnya dan masuk ke fitur mbanking. Sejumlah rupiah bernilai juta melesat ke rekening atas nama Baren Dwi Putra. Bayaran atas jasanya mendatangkan penghibur malamnya sekarang. Keenan mengeluarkan amplop dari tas ranselnya dan
Read more
Selera Bergaya
Pagi itu seharusnya Keenan melakukan fitting untuk jas wisudanya. Tapi entah apa yang membuat pemuda yang hampir menyabet gelar Sarjana Ekonomi tersebut, memilih untuk menghabiskan waktu di apartemennya. Penghiburnya semalam sudah pergi dan kini tinggal pembantunya, Mbok Ipah. Wanita separuh baya yang datang setiap pagi, untuk membersihkan apartemennya. Decak kesal terdengar dari mulut wanita berusia empat puluh lima tahun itu.Bukan karena kondisi ruangan yang berantakan. Namun Keenan yang terkapar tanpa busana, menjadi keprihatinannya Mbok Ipah. Dengan lembut dan penuh kasih, ia menyelimuti tubuh majikannya. "Napeee ... jadi begini sih ...," desah wanita itu kecewa. Tidak ingin tenggelam dalam perasaan bersalah, ia bergegas membersihkan seluruh apartemen. Keenan masih tertidur pulas. *** Alden menyambar tas kecilnya dan bergegas keluar kamar. Keluarga Ganendra memberinya satu kamar di paviliun dekat taman belakang. Saat mel
Read more
Elit
Hujan gerimis menguyur kota Jakarta sedari pagi. Sejak bencana banjir tahun 2000-an yang cukup merusak parah beberapa kota, pemerintah sudah mengantisipasi lebih baik tahun ini. Awal tahun 2005 yang indah bagi Keenan dan Alden. Keduanya mampu membuktikan pada orang tua masing-masing, bahwa tampang menawan mereka juga didukung dengan otak yang cerdas. Keenan Ganendra, mampu menyelesaikan pendidikan bisnisnya dan menyabet gelar Sarjana Ekonomi. Sedangkan, Alden Aminata berhasil menjadi pengacara muda. Alden juga mendapatkan tawaran menarik untuk bergabung dengan Hadi Saputra S.H and Partner. Sebuah biro hukum swasta yang cukup terkenal, karena kepiawaian mereka dalam menangani kasus besar nasional. "Makan malam jam delapan, jangan telat!" teriak Siwi yang terkenal sangat bawel dan cerewet. Alden yang masih berkeringat dan menenteng bola basket segera mendapat pandangan melotot dari Siwi. "Itu juga berlaku buat loe, Al!" pekiknya d
Read more
Jejak Hati
Alden mengernyitkan mata saat matahari menerobos kaca dan menyinari kamarnya. Keenan sudah masuk ke paviliunnya dan membuka lebar-lebar pintu kaca dan menyibak gorden. Kolam renang yang tepat berada di depan kamar Alden, terlihat biru dan menyegarkan pandangan. "Bangun! Jam sebelas siang nih!" seru Keenan menghempaskan tubuh di sofa bulat. "Sial. Kemana aja tadi malem, Loe?!" umpat Alden dengan kepala pening. Dirinya terlalu banyak mengkonsumsi alkohol tadi malam. "Ngelonin Shana ...," jawab Keenan ringan. Mata Alden yang masih mengantuk mendadak terbuka lebar. "Sial, Loe! Serius?" pekik Alden tidak percaya. Keenan tertawa dan tidak memberikan jawaban. "Bokis pasti deh ...!" sanggah Alden tidak ingin segera percaya. "She's a masterpiece ...!" cetus Keenan pamer. Alden meletakkan kepalanya kembali di atas bantal. "Kampret, pantesan anteng," gerutu Alden. "Gue mau ke kantor bokap, Siwi pese
Read more
Sisi Lain
Apa yang salah dengan menyukai satu wanita pada waktu bersamaan? Tidak masalah dan bukan hal penting dalam hidup Keenan dan Alden. Keduanya hanya menganggap wanita untuk dimiliki seperti barang dengan nilai yang bisa dibeli. Alden merelakan Shana untuk Keenan saat ini. Biasanya Alden akan menikmati kemudian saat Keenan sudah mendapat mainan baru. Sebuah kerjasama yang sopan, tapi membuat bergidik bagi kaum 'normal'. Tawaran Seto pada Keenan untuk membantu Siwi, segera diterima dengan antusias. Kebersamaan dengan Shana akan lebih intens lagi. Tetapi, anggapan Keenan salah. Walaupun Shana telah tidur dengannya, namun tidak semudah itu menikmati tubuhnya setiap saat. Shana ternyata bukan wanita yang sembarangan mengumbar kesenangan jika ada prioritas yang lebih penting. Keenan harus menelan kecewanya. Tetapi sore itu, Keenan berniat mencoba lagi. Kantor mulai sepi dan Shana masih berkeliaran di kantornya. Dengan harapan yang menggebu, Kee
Read more
Permainan Rasa
Vero menata dengan rapi setiap tangkai bunga di vas. Sudah lima vas terisi dan menghiasi beberapa sudut rumah. Berkat kelincahan tangannya, rumah Seto tidak pernah terlihat dingin dan hambar. Selalu ada nuansa hangat yang menyentuh tiap sisi rumah mewahnya di kawasan Pondok Indah tersebut. Siwi sudah berpamitan sejak pagi tadi ke kantor. Mertuanya, Eyang Widari sudah kembali ke Salatiga. Terkadang ia merasa kesepian. Namun semenjak Siwi hadir kembali, Vero mulai merasakan keceriaan. Siwi sangat pandai membuat keluarganya berkumpul. Seto, ayahnya, bahkan sanggup meninggalkan seluruh pekerjaannya demi memenuhi permintaan putrinya untuk makan malam. Vero tidak pernah menganggap Siwi anak tiri. Namun perlakuan Widari yang dari semula tidak menyukainya, membuat Vero tidak sempat mengasuh Siwi sejak ibunya meninggal. "Biar Siwi tinggal bersamaku!" tegas Widari yang terlalu membanggakan Miana, menantunya yang meninggal karena kanker ot
Read more
Tidak Dangkal
Terkadang sulit memulai sebuah kisah yang apik dan menarik dalam hidup. Jika kita terjebak pada kehidupan yang jauh dari kemudahan, maka kita cenderung tertelan dalam perjuangan untuk bertahan. Namun, memiliki hidup yang bergelimang harta juga tidak gampang. Keenan dan Alden bukan hanya dua pemuda yang hidup dari keberuntungan memiliki leluhur yang kaya raya. Mungkin ada jutaan manusia seperti mereka. Sayangnya, kebanyakan dari mereka, mengawali kisah dengan cara yang monoton seperti pendahulunya.Apa yang membuat Keenan dan Alden menarik? Mereka menempuh kehidupan yang jauh lebih liar dari leluhur mereka hanya untuk mencari sesuatu hingga ke titik PUAS. Pencarian jati diri? Mungkin. Atau, ada sesuatu yang baik, terjadi di balik keliaran hidup mereka? Sepertinya Alden sudah memulai menuju ke arah tersebut. "Ini bantuanku untuk mereka," ucap Alden mengulurkan sebuah amplop cokelat pada Siwi. "Apa ini?" tanya Siwi heran. Tan
Read more
Indira Sartika
Sejak proposal kerjasama yang mereka ajukan bersambut baik dengan Mercure, Shana dan Siwi sibuk menyiptakan berbagai rencana. Shana merekrut perancang muda yang berbakat. Dalam waktu tiga bulan awal mereka harus menampilkan performa terbaik. "Masih ada yang kurang. Desain ini bagus, tapi terlalu modern. Seni tradisional batiknya tenggelam," keluh Siwi. Ya, mengangkat batik sebagai bahan material utama, Siwi berharap pilihannya akan menjadi sesuatu yang unik dan berbuah sukses. "Gimana sama yang ini?" tanya Shana. Siwi masih menggelengkan kepalanya. "Ada satu desainer yang cukup menarik simpatiku. Tapi dia karyawan Eyang. Namanya lupa, dia menciptakan kemasan yang apik untuk kopi Eyang sampai sekarang laku diimpor ke Belanda," ucap Siwi sambil berpikir keras. "Bisa dipinjem nggak?" tanya Shana sambil membereskan kertas berisi gambar terpilih di meja. "Dia kesayangan nenekku, Shan. Aku nggak yakin," jawab Siwi kecut. Read more
Dua Ratus Ribu
Indira datang sedikit terlambat dari biasanya. Untuk menghemat ia naik sepeda dan jarak dari rumah ke kantor memakan waktu yang lumayan jauh. "Kamu keringatan banget sih!" tegur Erna. Indira mengangguk dan bergegas ke kamar mandi. Dengan secepat mungkin ia berganti baju dan kembali ke ruangan. "Naik sepeda lagi?" tanya Erna sebelum ia masuk kantornya. "Biar sehat, olahraga," jawab Indira cepat. Erna mencibir dengan kesal. "Kenapa nggak bilang kalo bokek, sih?" gerutu Erna sambil merogoh tasnya dan mencabut beberapa lembar. Ia melesakkan ke dalam kantong Indira yang mencoba berkelit. "Kalo kamu nggak terima, berarti egois. Kakekmu butuh ini," ancam Erna. Indira berdiri dengan bibir bergetar. "Maturnuwun ya, Er," bisik Indira lirih sekaligus menahan malu. Erna menepuk lengan Indira dan tersenyum tulus. ***Makan siang setengah jam lagi. Indira membuka dengan pelan tasnya. Empat lembar lima
Read more
Bukan Roman Picisan
Indira menarik amplop putih dan merobeknya. Raut wajahnya pias. Banyak sekali uang ini? batin Indira terkejut. Hatinya makin kesal. Ia tidak butuh belas kasihan! Setelah menebus obat, ia bergegas pulang. Ketika melewati warung, Indira membeli semua kebutuhannya dengan sisa uang miliknya. Gadis itu hanya mengambil sejumlah yang ia berikan pada Alden sebelumnya, dari amplop tersebut. Begitu tiba di rumah, Indira mengintip kamar kakeknya. Masih terlelap. Indira kembali keluar dan menerjang malam menuju rumah Widari. "Lho? Mbak Indi, kok tumben?" sapa Haris satpam rumah bosnya. Indira tersenyum ramah dan bertanya apakah Alden ada. "Baru aja pulang. Sebentar saya panggil, Mbak," jawab Haris dan Indira mengucapkan terima kasih. Gadis itu memilih duduk di pos satpam sambil memeriksa handphonenya. "Indira?" seru Alden dengan wajah senang. Indira mengangguk datar dan meraih tangan Alden serta mengembalikan amplop putih t
Read more
DMCA.com Protection Status