Racun Mulut Tetangga

Racun Mulut Tetangga

Oleh:  Handira Rezza  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
259Bab
31.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

“Bu Siti tak bilangin yo, kalau sama anak itu tidak boleh pelit, sekolah itu demi masa depan anak yang cemerlang,” ucap ibu Endang. “Saya juga tahu bu Endang, tapi saya ini hanya pedagang ikan, tidak pegawai negeri,” sahut ibukku yang mulai sewot. Namaku Dara seorang gadis dari keluarga penjual ikan tinggal di daerah pinggiran Jakarta. Aku mempunyai cita-cita ingin sekolah tinggi. Aku harus berjuang membiayai sekolah tinggi dengan bekerja di salah satu perusahaan kosmetik di ibukota. Namun perjalananku untuk menggapai cita-cita tidaklah mudah karena aku tinggal di lingkungan yang banyak tetangga toxicnya. Aku mempunyai tetangga yang gemar bergosip, menggosipkan semua yang ada di lingkungan desa Sukma Jaya. Dia adalah bu Endang si biang gosip paten yang suka mengusili Dara. Membanggakan kedua putrinya Fitri dan Ratna serta membicarakan aib tetangga. Lalu bagaimana caraku agar tetap waras dalam menghadapi terpaaan gosip yang menghadang? kalian pasti penasaran kan? yuk baca kisahku segera.

Lihat lebih banyak
Racun Mulut Tetangga Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
259 Bab
Mulut Bu Endang
ini adalah kisahku seorang gadis yang tinggal di sebuah kampung bernama Jati asih. Kampung ini terletak di perbatasan jakarta dan bekasi. Karena rumahku dekat dengan tukang sayuran dan juga da bale-bale yang biasa dipakai berkumpul ibu-ibu perkampungan aku jadi banyak mendengar gosip demi gosip dari mulut tetangga walau tidak keluar rumah. Kedua orang tuaku sendiri adalah pedagang. Mereka berdagang di pasar sebelum dibawa kepasar barang dari tengkulak dikirim kerumah. Biasanya ada tetangga yang datang ke rumah untuk membeli dagangan keluargaku. Nah kebetulan sekali ada seorang biang gosip yang mulutnya sangat beracun datang ke rumahku. Tetangga itu sudah memanggil dari tadi lalu ibuku yang sibuk baru sempat keluar menemuinya. Tahu sendiri lah bagaimana mulut beracunnya berbicara pagi ini. “Ibu siti, kok lama amat sih keluarnya saya panggil dari tadi juga,” celetuk ibu Endang. “Maaf bu saya sedang menyiapkan ikan yang nanti akan di bawa kepasar, mau beli ikan apa bu?” tanya ibuku.
Baca selengkapnya
Kulkas Baru Bu Sri
Bu Endang masih berdebat dengan ibu-ibu yang akan berbelanja sayuran di warung bu sri entah apa yang ia ingin sampaikan. Entah kenapa ia sungguh tidak suka melihat aku yang setiap pagi berangkat kerja menggunakan pakaian rapi, rok sepan selutut berwana gelap, blouse dengan renda di bagian dada juga tas seperti orang kantoran membuatku terlihat anggun kata orang.“Dara kerja di salah satu perusahaan kosmetik yang terkenal itu loh yang ada di televisi iklannya,” ucap bu Lastri. "Ibu Lastri tahu darimana, masa sih cuma lulusan SMK bisa kerja kantoran apalagi di perusahaan kosmetik besar, duh aku nggak percaya!” balas bu Endang.Aku melewati ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung bu Sri, Ku ucapkan permisi karena mengedepankan sopan santun yang diajarkan oleh orang tuaku. Senyuman ramah serta basa-basi di balas oleh para ibu-ibu. Aku sangat lega akhirnya bisa melewati mereka semua.“Tuh bu, si Dara baru kerja jadi admin saja ba
Baca selengkapnya
Gosip di tukang sayur
Bu Lastri menggaruk kepalanya saat bu Sri memberinya sebuah pertanyaan apa lagi yang bisa di gosipkan oleh bu Endang di kampung ini. aduh mereka sudah tidak bisa menebaknya lagi karena hampir semua orang digosipkan oleh bu Endang.“Bukan gosip kali bu, tapi bu Endang juga akan membeli kulkas juga,” sahut bu Lastri.“Benar juga, selain jago gosip bu Endang  ini suka ngiri ama tetangganya,” balas bu Sri.***Tepat satu bulan aku bekerja menjadi admin, saatnya gajian untuk yang pertama kali bagiku. Aku teringat kalau dirumahku televisi masih televisi tabung jaman dulu dan itu juga sering rusak. Aku berniat sore ini pergi ke toko elektronik membeli televisi.Dalam perjalanan pulang aku bertemu bu Endang. Bukan bu Endang namanya jika tidak kepo dengan apa yang aku bawa. Bu Endang kepo dengan kotak kardus tipis panjang bergambar televisi yang aku bawa.“Eh Dara baru pulang kerja ya, emm itu bawa apa?” tanya
Baca selengkapnya
Di Gosipkan Hamil
 Aku tidak menggubris pertanyaan bu Endang. Karena sudah ada angkot yang datang aku segera naik ke angkot. Aku bisa gila jika meladeni bu Endang yang gemar bergosip ria itu. Aku menggerutu kesal di dalam angkot.“Sepertinya sudah aman, walau dia teriak-teriak seperti orang gila begitu aku tidak peduli,” gumam ku setelah angkot melaju.“Dasar tidak sopan ditanya orang tua tidak menjawab, awas saja berita heboh Dara mau kuliah akan segera aku sebar di desa ini. Semalam ia pulang di antar mobil sekarang mau kuliah, pasti dia sekarang menjadi simpanan om-om,” gerutu bu Endang sambil jalan. Bu Endang kembali ke warung sayuran milik bu Sri dan kembali bergosip di sana. Masih banayk ibu-bu yang silih berganti ke tukang sayuran itu. Dengan nada tinggi biar semua ibu-ibu mendengarkan bu Endang memulai gosipnya."Dara itu kerja apa to, sebenarnya?" tanya bu Endang yang pura-pura memilih sayuran."Admin kan bu, di ka
Baca selengkapnya
Tetangga Yang Membesuk
 Jadi certianya bu Lastri menghubungi ponsel ibuku. Tapi berhubung ibuku itu sedang ke kamar mandi aku yang angkat telepon itu. Beliau juga minta ijin karena ingin menjenguk aku yang sedang di rawat di rumah sakit. Kebiasan di desa Sukma Jaya ini memang masih memiliki rasa tenggang rasa walupun banyak tukang gosipnya. Mereka akan datang membesuk tetangganya yang sakit atau menolong tetangga yang kesusahan itulah sisi baiknya hidup di desa ini."Bu siti, apa benar anak ibu di rawat di rumah sakit, boleh kan kami menjenguk?” tanya bu Lastri lewat sambungan telepon.“Betul bu Lastri saya memang di rawat di rumah sakit, maaf ya saya yang angkat telepon ibu sedang berada di toilet,” jawabku.“Eh nak Dara, kata Doktter kamu sakit apa?” tanya bu Latri lagi.“Oh hanya kecapekan saja bu, saya ada telat makan, jadi lambung saya kena,” jawabku atas pertanyaan bu Lastri.Aku juga menegaskan kepada bu Lasti
Baca selengkapnya
Gantian yang Berkunjung
Aku yang menjawab pertanyaan bu Endang itu. Tentu saja bu Endang belum pernah melihat teman-teman kerjaku sebelumnya karena semuanya bukan penduduk asli desa Sukma Jaya tempat tinggalku.“Mereka adalah teman-teman kerjaku bu Endang,” jawabku singkat.“Ayo-ayo silahkan masuk,” ajak Bu Endang.Aku memperhatikan gerak-gerik bu Endang yang mungkin mulutnya sudah gatal ingin bertanya banyak kepada teman-temanku. Beruntung bu Lastri berinisiatif mengajaknya pulang sebelum mengorek informasi lebih kepada teman kerjaku.“Bu Endang ayo kita pulang, gantian yang berkunjung. Kita kan sudah lama mengobrolnya,” ajak bu Lastri.“Loh kok buru-buru ngapain sih bu Lastri, saya belum selesai mengobrol dengan anak-anak uda ini. dandanan necis mirip sales panci ini pada kerja dimana. Bener to bu mereka ini berpakaian mirip sales panci yang suka keliling desa?!” ucap bu Endang asal saja.Aku ingin marah mendengar u
Baca selengkapnya
Rasaain Bu Endang
Menurut informasi yang aku dengar dari tetangga Bu Endang membawa anaknya untuk periksa ke Dokter. Keluhan yang dia rasakan adalah mual muntah, kepala pusing seperti penyakit lambung yang aku alami beberapa hari lalu karena kecapekan kerja dan telat makan.“Dokter kok antrenya ngalahin antre sembako ya ma,” ucap Fitri sambil menahan mual.“Namanya juga Dokternya terkenal bukan Dokter abal-abal ya ngantri lah Fit, kamu ini gimana,” balas bu Endang.Fitri ke toilet karena tidak tahan dengan mualnya. Dia lemas di dalam toilet dan mengingat apa yang ia lakukan. Ia sampai ketakukan sendiri tidak berani segera keluar toilet. Sampai bu Endang menggedor pintunya karena sebentar lagi gilirannya periksa.“Fitri kamu tidak pingsan di toilet ‘kan, jangan buat mama khawatir sebentar lagi giliranmu periksa loh,” ucap bu Endang dari luar toilet.“Enggak kok ma Fitri baik-baik saja, tunggu sebentar ya,” jawab F
Baca selengkapnya
Gosip grup Chat Arisan RT
Aku sudah sampai rumah segera mandi dan ganti baju. Dari balik kamarku terdengar gosip kalau bu Endang sedang bertengkar dengan suaminya. Ia protes karena tak tega mendengar Fitri menangis dan tidak betah berada di pondok pesantren. Waktu telepon dengan keluarga juga terbatas. Bu Endang dan pak Nurdin beradu debat masalah ini.“Ibu nggak mau tahu pak, pindahkan Fitri ke sekolah agama dekat sini saja, nggak perlu di pesantren segala. Bapak nggak kasihan sama anak?!” seru bu Endang.“Ibu sendiri toh yang bilang ke tetangga kalau anak kita sedang memperdalam ilmu agama, kenapa sekarang berubah pikiran,” jawab pak Nurdin.“Memperdalam ilmu agama nggak harus ke pesantren ‘kan pak, sekarang banyak berdiri sekolah agama terpadu kok,” balas bu Endang.“Ibu kalau terus-terusan membela Fitri yang berbuat salah. Bapak masukkan ibu ke pesantren saja sekalian biar enggak ngegosip saja kerjaannnya sama tetangga, kalau sud
Baca selengkapnya
Kepanasan lihat tetangga pasang AC
Aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tanpa ditambah atau dikurangai. Aku memang menunggu Rendi anaknya bu Lastri di depan gang. Kenapa tidak di rumah karena Rendi dari arah tempat kerjanya jika harus pulang masuk gang menjemputku masuk gang itu akan sangat merepotkan bukan?“Begitu ceritanya pak RT dan warga sekalian, lagipula kami sudah menjelaskan kepada bu Endang kenapa bertemu di depan gang,” ucapku.“Dara betul pak kami memang janjian berangkat ke kampus bersama. Hari ini kami pertama masuk itu juga bu Endang sudah tahu. Beliau kan suka kepo sama urusan orang. Kenapa jadi malah bertengkar dengan ibu saya?” tanya Rendi.Warga yang mendengar klarifikasiku dan Rendi langsung langsung menyoraki bu Endang yang emang pembawa malapetaka alias tukang fitnah yang tidak jelas sehingga menyebabkan keributan di rukun tetangga sini. Untung pak RT di sini bisa menjadi penengah dan tidak membela salah satu pihak.“Tenang bapak-b
Baca selengkapnya
Gara-Gara Mangga
Aku tertawa mendengar pertanyaan pak Nurdin ke istrinya. Ya sudah pastilah pak istrinya kepanasan kalau enggak kenapa julid terus minta pasang dirumah. Eit tunggu biasanya kalau sedang bertengkar dengan suami atau permintaanya tidak keturutan bu Endang tetanggaku itu akan membuat ulah. Kira-kira akan membuat ulah apa ya?“Dara ini mangga dari kampung, saya bagi sedikit ya daripada nggak kemakan,” ucap bu Sri.“Wah terima kasih ya bu Sri, semoga rejekinya semakin berkah,” jawabku.“Amin sama-sama Dara, saya kan sering ngerepotin ibumu, jadi ya ada sedikit rejeki saya bagi,” balas bu Sri lagi.Bu Sri sudah berjalan meninggalkan rumahku. Aku lihat bu Sri berjalan ke rumah bu Arum dan bu Lastri. Namanya bertetangga kan emang rumahnya berdekatan. Waduh sepertinya mangga yang bu Sri tadi bawa sudah habis.“Loh bu Sri kok nggak ke rumah bu Endang?” gumamku.“Kenapa toh Dar?” tanya ibuku ya
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status