Dendam Membara Sang Pewaris!

Dendam Membara Sang Pewaris!

Oleh:  imam Bustomi  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
113Bab
25.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Aldan Saputra menyaksikan orang tuanya terbunuh secara keji, tetapi pihak kepolisian justru menuduhnya sebagai pelaku utama. Dengan terpaksa, Aldan bersembunyi dan pergi ke Malaysia untuk menyusun kembali rencana balas dendam. Identitas baru digunakan dan wanita cantik kini ikut membantunya. Dia kembali untuk menghukum para pembunuh—walau mereka petinggi negara sekali pun!

Lihat lebih banyak
Dendam Membara Sang Pewaris! Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
113 Bab
1. Aku Kembali!
“Lapor, Bos!” ucap seorang pria berbadan tegap pada Aldan. “kami sudah berhasil melumpuhkannya.” “Good job, Faiz. Bawa dia ke hadapanku.” “Baik, Bos!” Faizal Hamid bergerak cepat membawa seorang pria gendut ke hadapan Aldan Pratama Chandra Putra, pimpinan pasukan White Master yang terkenal dingin dan kejam. “Arrrgghhhh ...” Tanpa basa-basi, Aldan langsung menusuk perut pria gendut itu, “Manusia sampah sepertimu tidak pantas hidup!” Teriakan pria gendut itu memekakkan telinga, sembari memegangi perutnya yang berlumuran darah. Namun, Aldan tak memberinya napas. Pisau miliknya menebas wajah dan badan musuhnya secara acak berulang kali hingga mati. Ini bukan pertama kalinya, sudah banyak nyawa melayang di tangan pasukan white master yang bermarkas di Malaysia. Pasukan rahasia ini tidak asal membunuh, mereka hanya membasmi seorang penjahat. “Jangan berbelas kasihan pada seorang penjahat. Bunuh atau kita yang akan dibunuh!” seru Aldan menatap puas pada mayat yang tergelimpang di ba
Baca selengkapnya
2. Aldan Bukan Pembunuh!
Di ruang VIP penerima tamu bandara Soekarno-Hatta di Kota Jakarta, Aldan tersenyum hangat saat dirinya melihat kedatangan seorang wanita berusia 50 tahunan.Dia adalah Bundanya,“Selamat datang kembali di Negara kelahiranmu, nak.”Aldan tersenyum lembut. Lalu dia meraih tangan wanita berambut sebahu itu dan langsung menciumnya dengan penuh kasih sayang, “Makasih Bunda sudah menyambut kedatanganku.”“Mana mungkin Bunda gak menyambutmu pulang? Emm mari pulang. Bunda sudah menyiapkan tempat tinggal khusus untuk anak Bunda.” Wanita yang memakai kacamata hitam dan masker itu tersenyum dengan penuh kasih sayang, meskipun Aldan bukan anak kandungnya. “Bunda juga sudah menyusun rencana biar kamu bisa masuk di perusahaan tempat Papamu dulu bekerja.”“Makasih, Bunda. 10 tahun bukan waktu yang singkat. Aldan menderita, tersiksa ... Sekarang waktunya Aldan menuntut keadilan. Mereka harus merasakan apa yang Aldan, Papa, Mama rasakan.”Energi membunuh dalam diri Aldan mulai keluar. Tatapannya menera
Baca selengkapnya
3. Aldan Bukan Anak Iblis!
Aldan tidak panik, dia pimpinan pasukan rahasia white master yang sangat ahli dalam bela diri. Jika mau, dia bisa saja melepaskan tangannya dari pegangan Mukafi tanpa menyakiti.“Maaf, aku harus pergi. Tapi suatu saat aku akan kembali dengan membawa sebuah kebenaran.”Namun, Aldan tidak mudah begitu saja pergi dari sana. Semua orang menghadang kepergiannya.“Haha bukannya barusan kamu bilang melihat kejadian pembunuhan Chandra dan Yuyun 10 tahun silam? Tapi kenapa sekarang kamu malah mau pergi?” tanya Mukafi menerbitkan senyuman miring. Dia yakin orang asing di hadapannya itu adalah orang suruhan Aldan yang ingin menghasut keluarganya.Ilham dan semua orang pun menerbitkan senyuman miring. Mereka malah semakin yakin bahwa Aldan masih hidup. Mereka juga menilai Aldan bodoh karena sudah berani mengirim orang lain untuk memberi tahu persembunyiannya.“Aku berkata benar. Suatu hari nanti kalian akan tahu siapa pembunuh yang sebenarnya, bukan Aldan ... Aku janji akan mengungkap kejahatan
Baca selengkapnya
4. Awal Kematian Kedua Orang Tua Aldan
Aldan tiba di sebuah rumah kontrakan yang sudah disediakan oleh Bundanya. Ukuran Kota Jakarta, di daerah itu tidak terlalu padat penduduk.Saat Aldan membuka pintu rumah, ujung matanya bergerak ke arah tembok tak jauh di samping kanannya.‘Hemm rupanya kamu tidak bisa berpisah denganku.’Aldan tersenyum kecut, menyadari siapa yang membuntutinya. Lalu dia memutar tubuh, menatap ke arah tembok samping kanannya.“Kaluarlah, Faiz. Aku tahu kamu bersembunyi di sana.”Faiz malu-malu menyembul dari balik tembok. Dia berjalan mendekat dan berdiri dengan membungkukkan badan di hadapan Aldan.“Maaf, Bos. Aku ingin liburan ke Indonesia. Aku ingin tahu indahnya Negara ini,” kilah Faiz menyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Aldan tersenyum kecut, “Kenapa kamu mengikutiku, Faiz?”Faiz menghembus napas pelan, “Aku mau berada di dekat-dekat Bos. Siapa tau tenagaku dibutuhkan.”Aldan tersenyum lebar, “Apa kamu mengkhawatirkan keselamatanku?”Faiz mendongak menatap Aldan. Dia bin
Baca selengkapnya
5. Seorang Polisi
Aldan melanjutkan cerita pembunuhan 10 tahun yang lalu pada Faizal Hamid.Waktu itu! Setelah berhasil membunuh Chandra, pria bersepatu berusaha melenyapkan Aldan yang mengunci di dalam kamar orang tuanya.‘Bodoh!’Aldan merutuki dirinya sendiri yang tak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya. “Ma, Mama ... Bangun, Ma!” Aldan menangis sambil menggoyangkan tubuh Yuyun. Dia berharap sang Mama hidup kembali meskipun itu tidak mungkin terjadi.Beberapa menit kemudian, hujan masih deras. Dengan bermandikan air mata, Aldan mencoba kuat berdiri dan melangkah ke arah pintu.Aldan bimbang dan ketakutan. Dia tidak tahu apakah pria bersepatu masih ada di rumahnya atau sudah pergi. “Tolong!” Satu-satunya cara yang Aldan bisa lakukan adalah berteriak meminta bantuan meskipun sulit didengar karena hujan masih deras. “Siapapun yang mendengarnya, tolong Aldan!”“Ya aku mendengarnya, nak.” Ada suara yang menyahut dari luar kamar tepat di depan pintu, membuat Aldan sangat t
Baca selengkapnya
6. Lari
Mata Aldan membelalak sempurna, jantungnya memompa begitu cepat. Sementara pria bersepatu tersenyum penuh arti bersitatap dengan mangsanya. “Kita bertemu lagi, nak.” Tak menunggu lama, Aldan memutar badan dan berlari sekencang mungkin. Pria bersepatu pun tak tinggal diam, dia mengejar anak itu. Aldan berlari dengan napas yang tersengal-sengal. Rasa sedih, takut, serta panik menjadi satu dalam hatinya. Yang ada di pikirannya hanya berlari dan berlari meloloskan diri dari kejaran pria bersepatu. “Tolong!” sambil berlari kencang, Aldan berteriak. Namun suaranya seperti tertahan, tak terdengar nyaring karena napas dan jantungnya ikut berlari. Rasa takut sangat jelas menyelimuti anak itu. Bagai seekor kucing yang mengejar tikus, mereka berlari adu kecepatan dengan tujuan masing-masing. Di sekolah itu sangat luas, Aldan terus menyusuri lantai dua hingga akhirnya dia menuruni tangga. Aldan memenangkan adu lari. Selepas dari tangga, ada sebuah lorong yang mengarah ke kanan dan ke kiri.
Baca selengkapnya
7. Bermain Dengan Anjing
“Lepaskan aku!” Aldan memberontak sekuat tenaga. Namun, kekuatannya tak sebanding, cengkraman pria bersepatu sangat kuat.Pria bersepatu melemparkan Aldan ke dalam kandang, “Aku menepati janjiku padamu, nak. Bermainlah, kamu pasti menyukai permainan ini.”“Apa yang Om mau dariku? Jangan sakiti Aldan.”“Siapa yang mau menyakitimu,nak? Kami gak bakalan menyentuhmu,” respon Hendrawan mengulas senyuman licik. Aldan tidak percaya, dia sangat yakin kedua orang jahat itu sudah mempersiapkan suatu yang buruk untuknya. Mungkin sebentar lagi dirinya akan menyusul Chandra dan Yuyun ke surga.“Tolong lepaskan Aldan, Om.” Berulang kali Aldan memelas mengharap belas kasihan, tetapi itu tidak ada artinya.“Itu tergantung dirimu, nak. Kamu sendiri yang menentukan nasibmu,” kata pria bersepatu.“Apa maksudmu, Om? Aldan gak ngerti?” tanya Aldan yang terlihat semakin gusar.Hendrawan menjawab dengan bertepuk tangan berulang kali, seolah memberi isyarat pada seseorang. Hal itu membuat jantung Aldan memo
Baca selengkapnya
8. Janji Seorang Anak
Pria bersepatu dan Hendrawan sangat kesal karena tidak menemukan kalung liontin di sekolah.“Bocah ingusan itu telah menipu kita,” kata Hendrawan.“Kau tidak perlu khawatir, Hendra. Meskipun kalungnya tidak ditemukan, kasus ini akan tertutup rapi. Tidak ada saksi hidup yang tersisa, anak Chandra sekarang pasti sudah ada di perut seekor anjing ... Tugasmu hanya mengurus di kantor polisi.” sahut pria bersepatu. Mendengarnya, perlahan senyum mengambang di bibir Hendrawan, “Benar, kita gak perlu repot-repot mencarinya. Sisanya serahkan padaku. Aku seorang polisi, sangat mudah bagiku menutup kasus ini.”Sementara itu,Aldan mengusap mulutnya yang dipenuhi darah dengan tetap menatap nanar pada seekor Anjing yang berhasil dibunuhnya. Perlahan kedua tangannya bergerak di perut binatang itu.“yaakkkkkkkk ...” Aldan berperilaku seperti seekor binatang buas. Dia mencakar dan mengoyak hingga akhirnya berhasil membelah perut Anjing. Aldan mengeluarkan isi perut Anjing dan menatapnya dengan mata
Baca selengkapnya
9. Hari Pertama Kerja
Pagi hari, nampak seorang pria tampan nan gagah berjalan ke arah gedung tinggi pencakar langit. Dia Aldan Pratama Chandra Putra, tetapi di perusahaan dia mengganti namanya menjadi Putra Saputra. Ketampanannya nyaris sempurna. Dengan tinggi 175 cm dan kulit putih, siapapun yang melihatnya pasti jatuh cinta pada pandangan pertama. Hari ini adalah hari pertama kerja Aldan di perusahaan cosmo indofood. Sekarang misi balas dendamnya dimulai. Dia berhasil menjadi asisten direktur keuangan di perusahaan cosmo indofood, jabatan yang sama seperti mendiang Papanya. Tentu ini semua berkat orang dalam yang berjasa memasukkan Aldan ke perusahaan, tetapi sebenarnya dia orang yang sangat cerdas dan pantas menduduki jabatan yang dia inginkan. “Saya harap anda bekerja dengan baik. Satu lagi, anda harus cepat beradaptasi dengan lingkungan perusahaan,” kata Ridwan , direktur keuangan. “Baik, Pak. Saya sangat senang bisa menjadi bagian perusahaan terbesar yang ada di Indonesia. Saya berjanji akan beke
Baca selengkapnya
10. Bertemu Pria Arogan
Jam istirahat kerja, Aldan dan Rangga pergi bersama ke restoran yang ada di belakang perusahaan. “Kamu sudah berapa tahun kerja di sini?” tanya Aldan sambil berjalan di sisi kanan Rangga. “Sudah satu tahun ... Ow ya aku yakin kamu banyak prestasinya, baru masuk kerja langsung ditempatkan di posisi asisten divisi keuangan. Satu tingkat di atasku,” jawab Rangga setengah memberikan pujian pada Aldan. “Aku hanya orang biasa. Aku hanya beruntung saja.” Di tengah perjalanan dari arah berlawanan ada seorang pria tua berkacamata berjalan sambil fokus memainkan ponselnya, sehingga tanpa sengaja menabrak Aldan yang sudah mencoba menghindar. “Ah sialan, kalau jalan lihat-lihat. Pakai matamu!” berang pria tua itu dengan nada yang begitu tinggi. “Maaf, pak. Tapi anda yang salah. Anda fokus bermain hp saat berjalan,” protes Aldan. PLAK! Aldan memegang pipinya yang mendapat tamparan dari pria tua berkacamata. “Lancang sekali! Kau tau siapa aku? Hah?!” sergah pria tua berkacamata dengan sor
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status