Apa Arti Peribahasa Sunda 'Leumpang Ngaliwatan Buuk'?

2026-03-24 17:31:11
135
Teilen
ABO-Persönlichkeitstest
Mach einen kurzen Test und finde heraus, ob du Alpha, Beta oder Omega bist.
Duft
Persönlichkeit
Ideales Liebesmuster
Geheimes Verlangen
Deine dunkle Seite
Test starten

3 Antworten

Ursula
Ursula
Kawan Novel Sopir
Ada satu momen yang bikin aku benar-benar paham makna 'leumpang ngaliwatan buuk'. Waktu itu temanku cerita tentang bagaimana dia menjaga hubungan LDR-nya selama 5 tahun. Setiap percakapan, setiap keputusan, dilakukan dengan pertimbangan matang seperti berjalan di atas rambut. Peribahasa Sunda ini ternyata universal banget - relevan buat hubungan asmara, pertemanan, bahkan urusan bisnis. Intinya sih tentang bagaimana kita menghargai proses dan memahami bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan gegabah. Aku suka banget filosofi halus seperti ini karena mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap sekitar.
2026-03-29 01:09:16
8
Riley
Riley
Rekomender Tukang
Dulu pertama kali ketemu peribahasa ini pas baca novel 'Nagih' karya Oka Rusmini yang ada unsur budaya Sundanya. 'Leumpang ngaliwatan buuk' itu bukan sekadar tentang kehati-hatian, tapi juga tentang kesadaran akan kompleksitas hidup. Bayangin aja, berjalan di atas rambut itu mustahil dilakukan tanpa konsentrasi penuh. Dalam konteks modern, ini mengingatkanku pada situasi kerja di kantor dimana kadang kita harus menavigasi politik kantor yang pelik.

Yang keren dari peribahasa ini adalah pesan tersiratnya: hidup itu tentang keseimbangan. Terlalu hati-hati bisa bikin kita stagnan, tapi terlalu ceroboh juga berbahaya. Aku pribadi sering mengingat peribahasa ini setiap kali harus mengambil keputusan penting. Rasanya seperti dapat reminder untuk selalu mindful dalam setiap tindakan.
2026-03-29 14:35:19
4
Jade
Jade
Kawan Novel Desainer
Pernah dengar peribahasa Sunda ini dari nenek waktu kecil, dan sampai sekarang masih sering aku pakai dalam percakapan sehari-hari. 'Leumpang ngaliwatan buuk' secara harfiah berarti 'berjalan melewati rambut', tapi maknanya jauh lebih dalam. Ini menggambarkan situasi di mana seseorang melakukan sesuatu dengan sangat hati-hati, seperti berjalan di atas rambut yang mudah patah. Misalnya, ketika harus menyampaikan kritik kepada atasan tanpa menyinggung perasaannya, kita harus 'leumpang ngaliwatan buuk'.

Yang bikin menarik, peribahasa ini juga sering dipakai untuk menggambarkan hubungan interpersonal yang rumit. Aku sendiri pernah mengalaminya saat jadi penengah konflik antara dua teman dekat. Rasanya seperti menari di atas tali, setiap langkah harus diperhitungkan biar nggak ada yang tersakiti. Filosofi halus seperti ini bikin aku makin jatuh cinta sama kearifan lokal Sunda.
2026-03-30 07:37:08
12
Alle Antworten anzeigen
Code scannen, um die App herunterzuladen

Verwandte Bücher

Verwandte Fragen

Bagaimana contoh peribahasa Sunda beserta maknanya?

3 Antworten2026-05-19 11:09:58
Minggu lalu, nenek di kampung mengajari aku peribahasa Sunda 'Bisi beunang ku hayam, tong dibawa ka lembur.' Artinya, kalau dapat rejeki kecil, jangan langsung dipamerin ke orang banyak. Nenek bilang, dulu orang Sunda itu sangat menghargai kesederhanaan dan menghindari sikap sombong. Peribahasa ini mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan bijak menghadapi keberuntungan. Ada lagi yang lucu: 'Kudu nyanghau ka nu ngarah teu ngeunah.' Terjemahan kasarnya, 'Jangan sok asik ke orang yang lagi bete.' Ini sindiran halus buat kita yang suka maksa ngobrol sama orang lagi bad mood. Filosofinya dalam budaya Sunda, kita diajarin untuk peka sama perasaan orang lain dan tahu situasi.

Bagaimana contoh penggunaan peribahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari?

3 Antworten2026-03-24 08:29:24
Di lingkungan keluarga, peribahasa Sunda sering jadi bumbu obrolan. Misalnya ketika adikku malas belajar, Ibu suka bilang 'Ngarana moal lumer ku cai anu ngaririncik'—artinya sesuatu enggak bakal tercapai cuma dengan omongan doang. Peribahasa ini bikin aku tersadar bahwa kerja keras itu penting. Atau waktu tetangga ribut soal warisan, Bapak berkomentar 'Cai jadi sahabat, tapi ogé bisa jadi musuh'—menggambarkan betapa hal sederhana bisa berubah kompleks. Di kantor pun peribahasa Sunda relevan. Bos pernah ngomong 'Ulah ngaliuk di huma sareung' saat ada karyawan yang sok tahu padahal baru kerja sebulan. Artinya jangan sok ngatur di ladang orang lain. Lucu sih, tapi efeknya bikin kita semua mikir dua kali sebelum sok asik ngasih masukan tanpa diminta.

Siapa tokoh Sunda yang sering menggunakan peribahasa dalam ceramah?

3 Antworten2026-03-24 06:29:43
Tokoh Sunda yang terkenal sering menyelipkan peribahasa dalam ceramahnya adalah Ajip Rosidi. Aku ingat sekali dulu sering nonton rekaman ceramahnya di YouTube, gaya bahasanya khas banget—campuran antara nasihat bijak dan humor ringan pakai peribahasa Sunda. Misalnya, waktu ngomongin pentingnya pendidikan, dia bilang, 'Ngejah ka sawarga, ngejah ka naraka,' yang artinya usaha menentukan hasil. Yang bikin menarik, peribahasa Sunda yang dia pakai selalu relevan sama konteks modern. Kayak waktu ngobrolin soal media sosial, dia bandingin sama 'Kuda beunang dihudang,' sindiran halus buat orang yang gampang terprovokasi. Ajip itu bukan cuma ngomong doang, tapi bener-bener ngajak orang mikir lewat kearifan lokal. Aku suka banget cara dia bikin filosofi Sunda jadi gampang dicerna generasi sekarang.

Apakah babasan nyaeta termasuk jenis peribahasa Sunda?

3 Antworten2026-06-16 02:24:22
Menggali babasan dalam khazanah bahasa Sunda selalu menarik. Babasan memang sering disandingkan dengan paribasa, tapi sebenarnya punya karakteristik berbeda. Babasan lebih condong ke ungkapan figuratif yang mengandung sindiran halus atau nasihat kehidupan, sementara paribasa Sunda cenderung lebih formal dan punya struktur tetap. Contoh babasan seperti 'ulih ucing ku cing-'cing'na' (dapat kucing karena meongnya) yang bermakna 'mendapat sesuatu karena kelebihan tertentu'. Bedakan dengan paribasa 'bera-bera belut' yang lebih mirip peribahasa baku. Uniknya, babasan sering dipakai dalam percakapan sehari-hari orang Sunda dengan nada lebih casual. Yang membuat babasan istimewa adalah kelenturannya. Tidak seperti paribasa yang saklek, babasan bisa dimodifikasi sesuai konteks pembicaraan. Ini menunjukkan dinamika bahasa Sunda yang hidup. Meski tidak selalu diklasifikasikan sebagai peribahasa formal, babasan tetap menjadi bagian penting dari warisan kebijaksanaan lokal yang diturunkan lintas generasi.

Di mana bisa belajar peribahasa Sunda beserta artinya?

3 Antworten2026-03-24 06:19:16
Ada beberapa tempat menarik untuk mempelajari peribahasa Sunda yang bisa dicoba. Aku sendiri sering mencari lewat buku-buku budaya Sunda seperti 'Kamus Peribahasa Sunda' atau 'Kumpulan Paribasa Sunda' yang biasanya dijual di toko buku khusus daerah. Kalau mau yang lebih praktis, situs web seperti Sunda.org atau platform digital Basa Sunda di Instagram sering membagikan konten menarik seputar ini. Yang seru, aku juga suka bergabung dengan grup Facebook seperti 'Urang Sunda' di mana anggota grup sering berdiskusi tentang makna peribahasa disertai contoh penggunaannya. Kadang mereka bahkan membagikan cerita rakyat Sunda yang jadi latar belakang peribahasa tersebut. Belajar langsung dari komunitas seperti ini bikin pemahaman lebih menyeluruh karena dapat konteks budaya juga.

Apa perbedaan peribahasa Sunda dan Jawa yang populer?

3 Antworten2026-03-24 02:34:06
Ada sesuatu yang magis dari cara peribahasa Sunda dan Jawa menyampaikan kebijaksanaan lokal. Peribahasa Sunda seperti 'teu ngerti ka sorangan' yang berarti tidak mengenal diri sendiri, seringkali lebih lugas dan berakar pada kejadian sehari-hari, mirip dengan bahasa percakapan. Sementara peribahasa Jawa seperti 'alon-alon asal kelakon' lebih halus, penuh metafora, dan sering terkait dengan filosofi hidup yang dalam. Perbedaan ini mungkin muncul dari cara kedua budaya memandang dunia: Sunda yang lebih praktis dan Jawa yang lebih simbolik. Kedua budaya juga memiliki kekhasan dalam penggunaan alam sebagai simbol. Sunda menggunakan 'hayam hideung' (ayam hitam) untuk menggambarkan sesuatu yang langka, sementara Jawa punya 'gajah nglelawan semut' yang menggambarkan ketidakseimbangan kekuatan. Nuansa bahasanya pun berbeda; Sunda terasa lebih 'garing' dan langsung, sed Jawa seringkali membutuhkan pemahaman konteks budaya untuk sepenuhnya mengerti.

Apa perbedaan pepatah Sunda dan peribahasa Jawa?

4 Antworten2026-06-14 13:51:00
Pepatah Sunda dan peribahasa Jawa sama-sama mengandung kebijakan lokal, tapi nuansanya beda banget. Kalau Sunda cenderung lebih halus dan penuh sindiran halus, seperti 'Ulah nyieun balong di imah batur' (Jangan bikin kolam di rumah orang), yang artinya jangan sok kuasa di tempat orang lain. Sementara Jawa lebih filosofis dan sering pakai simbol alam, misalnya 'Adigang, adigung, adiguna' (Sombong karena kekuatan, kedudukan, atau ilmu), yang ngasih peringatan soal kesombongan. Yang menarik, pepatah Sunda sering lebih pendek dan langsung ke inti, cocok buat komunikasi sehari-hari. Sedangkan peribahasa Jawa biasanya lebih panjang dan berlapis, butuh dikunyah dulu maknanya. Contoh lain, Sunda bilang 'Ngeunah buahna, teu ngeunah kana tangkalna' (Enak buahnya, tapi nggak enak lihat pohonnya), sindiran halus buat orang yang cuma mau nikmatin hasil tanpa usaha.

Apa arti peribahasa Minangkabau 'Takuruang nak di luar'?

3 Antworten2025-12-12 22:16:05
Ada sesuatu yang lucu sekaligus dalam tentang peribahasa Minang ini. Bayangkan seekor ayam di dalam kandang yang justru mati-matian ingin keluar, padahal di luar sana mungkin ada elang atau hujan badai. Itulah gambaran 'Takuruang nak di luar'—keinginan untuk meraih sesuatu yang dianggap lebih baik di tempat lain, meski belum tentu lebih baik dari yang sudah dimiliki. Dalam konteks kehidupan, seringkali kita mengidamkan pekerjaan, hubungan, atau status sosial yang 'tampak' lebih mentereng di luar, tanpa menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini mungkin adalah berkah terselubung. Aku sendiri pernah terjebak dalam fase seperti ini, terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain sampai akhirnya menyadari: rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tapi belum tentu lebih subur akarnya.

Bagaimana contoh penggunaan pepatah Sunda dalam kehidupan sehari-hari?

4 Antworten2026-06-14 11:05:41
Pernah dengar pepatah Sunda 'Ngarasa haneut ku seuneu sorangan'? Aku sering banget ngeliat ini di lingkungan kerja. Misalnya, ada temen yang terus mengeluh tentang beratnya tugas, tapi nggak action buat belajar skill baru. Padahal, artinya tuh kita harus berusaha sendiri dulu sebelum ngarepin orang lain. Aku sendiri pernah ngerasain pas awal-awal jadi freelancer—nggak bisa nyalahin client kalau project mentok, harus cari solusi kreatif. Contoh lain 'Ulah ngaliuk di buruan batur'. Ini ngingetin aku buat nggak sok tahu di komunitas hobi. Dulu waktu baru gabung forum otomotif, langsung ngejar-ngejar debat sama senior. Sekarang mah lebih milih ngobservasi dulu, belajar dari pengalaman mereka. Pepatah Sunda tuh filosofinya dalem banget kalau diresapi!

Apa perbedaan papatah Sunda dengan peribahasa Jawa atau Batak?

5 Antworten2026-06-26 05:02:49
Membandingkan papatah Sunda dengan peribahasa Jawa atau Batak itu kayak mencicipi tiga jenis rempah berbeda—masing-masing punya cita rasa khas yang mencerminkan filosofi hidup masyarakatnya. Papatah Sunda, misalnya, terkenal dengan sindiran halusnya yang dibungkus humor, seperti 'Ulah kacida jeung nu teu ngajenan' (Jangan terlalu dekat dengan yang tak menghargai). Kalimat sederhana ini nggak cuma ngasih nasihat, tapi juga bikin tersenyum karena dikemas dalam permainan kata yang cerdas. Sementara itu, peribahasa Jawa lebih sering pakai analogi alam dan konsep 'memayu hayuning bawana' (merawat harmoni dunia), contohnya 'Adigang, adigung, adiguna' yang mengingatkan untuk nggak sok kuasa. Bedanya, Sunda lebih 'casual' dalam penyampaian, Jawa lebih berbunga-bunga dengan lapisan makna. Kalau dari sisi struktur, papatah Batak justru sering lebih langsung dan tegas, mirip karakter orang Batak sendiri yang blak-blakan. Ambil contoh 'Raja ni huta do na mangalului huta' (Rajanya kampunglah yang merusak kampung)—noh, kritik sosialnya keras banget tanpa basa-basi. Berbeda dengan Sunda yang mungkin akan bilang 'Lain ladang lain belalang' untuk situasi serupa dengan sindiran lebih halus. Ketiganya sama-sama mengandung nilai moral, tapi cara penyampaiannya benar-benar mencerminkan budaya lokal: Sunda dengan kesantunannya, Jawa dengan kehalusannya, dan Batak dengan ketegasannya. Yang bikin menarik lagi, peribahasa Jawa sering dikaitkan dengan konsep 'kawruh' (pengetahuan esoteris) sehingga butuh penafsiran mendalam, sementara papatah Sunda justru mudah dipahami sehari-hari. Misalnya, 'Ngeunah barang teu meunang, meunang barang teu ngeunah' (Yang enak nggak dapat, yang dapat nggak enak)—langsung relate sama kehidupan modern. Di sisi lain, Batak punya 'Dang tabo ma hide ni ompung' (Jangan injak-injak kaki nenek) yang metaforanya kental dengan hierarki adat. Ketiganya unik karena dibentuk oleh sejarah masing-masing; Sunda yang agraris, Jawa yang feodalistik, dan Batak yang komunal. Satu hal yang sering nggak disadari—papatah Sunda itu banyak banget yang berima dan musical, kayak pantun, karena budaya lisan Sunda kuat banget. Contohnya 'Mipit kudu amit, ngala kudu menta' (Memetik harus izin, mengambil harus minta). Sementara peribahasa Jawa banyak yang pakai tembang atau parikan, dan Batak sering pakai umpasa (puisi tradisional) dalam peribahasanya. Ini nunjukin betapa sastra lisan jadi bagian dari DNA mereka. Jadi, meski sama-sama mengandung kebijakan lokal, ketiganya punya 'rasa' berbeda yang bisa dirasain kayak nikmatin tiga jenis musik tradisional sekaligus—degung, gamelan, dan gondang.
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status