Bagaimana Cara Syukur Melawan Sifat Riya Dan Sum'Ah?

2026-05-14 16:47:35
284
Share
ABO Personality Quiz
Take a quick quiz to find out whether you‘re Alpha, Beta, or Omega.
Start Test
Write Answer
Ask Question

4 Answers

Blake
Blake
Favorite read: Nafkah yang Keliru
Pecinta Novel Sopir
Ada momen di tengah kesibukan sehari-hari ketika aku menyadari betapa mudahnya terperangkap dalam keinginan untuk dipuji. Syukur, bagiku, menjadi semacam tameng. Aku mulai dengan mencatat hal-hal kecil yang sering diabaikan—seperti udara bersih atau percakapan hangat dengan keluarga. Kebiasaan ini mengalihkan fokus dari 'ingin terlihat baik' menjadi 'menghargai yang sudah ada'.

Ketika muncul keinginan untuk pamer, aku mengingatkan diri: 'Apakah ini benar-benar untuk berbagi kebahagiaan, atau sekadar mencari validasi?' Membaca kisah-kisah inspiratif seperti 'The Book of Joy' juga membantu. Lama-kelamaan, syukur yang tulus itu seperti filter alami—riya dan sum'ah perlahan kehilangan daya tariknya.
2026-05-17 02:46:39
14
Quinn
Quinn
Penasihat Penyiar
Pengalamanku belajar dari tradisi Jawa: 'sepi ing pamrih' (berbuat tanpa pamrih). Awalnya sulit, tapi kubiasakan bersyukur dengan cara unik—misalnya, berterima kasih pada tukang sapu jalanan dengan memberi minum tanpa mengunggahnya di Instagram. Syukur model begini melatih kepekaan terhadap hal-hal di balik panggung kehidupan. Kunci lainnya? Menganggap pujian seperti hujan—diterima dengan lapang, tapi tidak ditampung berlebihan. Sekarang malah asyik menemukan kesenangan dalam hal-hal yang tidak 'instagramable', seperti menikmati gorengan di pinggir jalan tanpa perlu check-in.
2026-05-17 15:41:03
8
Yasmin
Yasmin
Favorite read: Bersyukur Memilikimu
Pembaca Apoteker
Dulu aku sering terjebak dalam lingkaran posting prestasi di media sosial hanya untuk dapat likes. Sampai suatu hari, temanku bilang, 'Kamu terlihat lebih bahagia saat bercerita tentang sunset kemarin daripada saat upload sertifikat.' Itu jadi titik balik. Sekarang, aku punya ritual pagi: menulis tiga hal sederhana yang disyukuri di notes ponsel—tanpa difoto, tanpa dibagikan. Justru privacy inilah yang membuat rasa syukur itu murni. Aku juga mengurangi frekuensi posting, menggantinya dengan mengirim pesan pribadi ke orang-orang yang benar-benar peduli. Hasilnya? Riya berkurang, hubungan jadi lebih dalam.
2026-05-20 07:24:38
25
Pemberi Rekomendasi Akuntan
Sebagai pecinta novel psikologi, aku terinspirasi konsep 'internal vs external validation' dari buku 'The Gifts of Imperfection'. Melawan riya itu seperti melatih otot—dimulai dari kesadaran. Setiap kali ingin pamer, aku tanya diri: 'Kalau tidak ada yang lihat, apakah masih mau melakukannya?' Syukur di sini berperan sebagai pengingat bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam. Aku juga membuat semacam 'jurnal syukur' dengan twist: menuliskan satu tindakan baik yang dilakukan diam-diam setiap minggu. Tantangannya adalah tidak memberitahu siapa pun. Lucunya, justru ini yang bikin ketagihan—rasanya seperti punya rahasia bahagia sendiri.
2026-05-20 17:04:53
14
View All Answers
Scan code to download App

Related Books

Related Questions

Bagaimana syukur mencegah sifat riya dan sum'ah dalam hidup?

3 Answers2026-05-14 19:41:19
Ada satu momen di mana aku menyadari bahwa bersyukur itu seperti memegang cermin retak—kita melihat bayangan yang pecah jika masih ada keinginan untuk dipuji. Dulu, setiap kali berbuat baik, rasanya perlu diceritakan ke orang lain. Tapi kemudian, aku belajar dari ritual sederhana nenek: setiap subuh, dia menulis tiga hal yang disyukuri di buku kecil, lalu menyimpannya di bawah bantal. 'Ini untuk Tuhan dan kuping tikus saja,' katanya sambil terkekeh. Kebiasaan itu kubawa sampai sekarang. Syukur diam-diam membangun tembok antara niat tulus dan kebutuhan akan validasi. Ketika menolong seseorang tanpa posting di media sosial, atau menyumbang tanpa nama, rasanya seperti menemukan rahasia bahagia yang tidak perlu diiklankan. Justru ketika kita berhenti memamerkan kebaikan, rasa syukur itu tumbuh subur seperti tanaman yang disiram diam-diam di tengah malam.

Mengapa syukur bisa menghindarkan dari sifat riya dan sum'ah?

3 Answers2026-05-14 13:24:37
Ada sesuatu yang menenangkan tentang bagaimana rasa syukur bisa mengalihkan pikiran dari keinginan untuk pamer. Ketika aku benar-benar menghargai hal-hal kecil dalam hidup—seperti secangkir kopi hangat di pagi hari atau senyuman dari orang asing—rasanya tidak perlu lagi mencari validasi dari orang lain. Syukur mengajarkan untuk melihat ke dalam, bukan ke luar. Aku jadi sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari pujian atau pengakuan, tapi dari kemampuan menghargai apa yang sudah dimiliki. Dulu, aku sering merasa perlu membagikan setiap pencapaian kecil di media sosial, seolah-olah itu tidak berarti jika tidak dilihat orang. Tapi semakin sering berlatih bersyukur, semakin jarang dorongan itu muncul. Syukur seperti tameng yang melindungi dari godaan untuk terlihat 'lebih' di mata orang lain. Hidup jadi lebih ringan ketika tidak perlu terus-menerus membuktikan diri.

Mengapa bersyukur efektif untuk menjauhi riya dan sum'ah?

4 Answers2026-05-14 18:50:36
Ada sesuatu yang menenangkan tentang kebiasaan bersyukur yang membuat kita lebih rendah hati. Ketika aku rutin mencatat hal-hal kecil yang patut disyukuri—seperti secangkir kopi hangat atau obrolan ringan dengan teman—rasanya ego secara alami menyusut. Riya dan sum'ah muncul dari kebutuhan untuk diakui, sedangkan syukur mengalihkan fokus kepada pemberi nikmat. Dulu aku sering posting prestasi di media sosial sampai suatu hari tersadar: semakin banyak bersyukur, semakin sedikit dorongan untuk pamer. Syukur itu seperti penangkal alami; ia mengingatkan bahwa semua kemampuan berasal dari sumber di luar diri. Sekarang lebih sering menulis jurnal syukur daripada update pencapaian, dan dampaknya jauh lebih dalam.

Apa hubungan antara syukur dan menghindari riya serta sum'ah?

3 Answers2026-05-14 11:01:17
Ada sesuatu yang sangat dalam ketika kita berbicara tentang syukur dan bagaimana itu bisa menjadi tameng alami terhadap riya' dan sum'ah. Syukur, dalam esensinya, adalah pengakuan tulus bahwa segala sesuatu yang kita miliki atau capai adalah berkat dari Yang Maha Kuasa. Ketika kita benar-benar bersyukur, kita meletakkan segala pencapaian pada tempatnya—bukan sebagai hasil kehebatan diri sendiri, tapi sebagai anugerah. Ini secara otomatis mengurangi kecenderungan untuk pamer (riya') atau mencari validasi orang lain (sum'ah). Pernah nggak sih merasa pengin dipuji habis-habisan setelah melakukan sesuatu? Nah, di situlah syukur bekerja sebagai pengingat halus. Misalnya, ketika dapat nilai bagus, alih-alih mempostingnya dengan caption 'Lihat nih IQ 150 gampang banget', lebih baik diam-diam berterima kasih pada Tuhan dan berbagi ilmu ke teman. Syukur mengalihkan fokus dari 'aku' ke 'kita', dan dari 'pencapaianku' ke 'karunia-Nya'. Pola pikir ini bikin riya' dan sum'ah kesulitan cari celah buat numpang lewat.

Kenapa orang yang bersyukur terhindar dari riya dan sum'ah?

4 Answers2026-05-14 02:06:41
Ada sesuatu yang menenangkan tentang orang yang selalu bersyukur. Mereka seperti punya filter alami yang menyaring keinginan untuk pamer atau cari perhatian. Rasanya, ketika kita benar-benar menghargai apa yang dimiliki, gak ada ruang untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Syukur itu kayak tameng—begitu kita fokus pada berkat yang udah diterima, gak ada energi tersisa buat ngurusin penilaian orang. Aku perhatikan temen-temen yang selalu bersyukur itu jarang banget posting pencapaian mereka di media sosial. Bukan karena gak punya prestasi, tapi mereka lebih memilih menikmati momen itu secara pribadi. Riya dan sum'ah muncul ketika kita butuh validasi eksternal, sementara rasa syukur udah memberi kepuasan batin sendiri.

Bagaimana mengatasi sifat riya dan sum'ah dalam beramal?

2 Answers2025-12-11 11:58:16
Ada momen di mana aku tersadar setelah memposting screenshot donasi ke media sosial—rasanya ada sesuatu yang garing. Ternyata, niat awal membantu justru terkikis oleh keinginan dipuji. Kitab 'Ihya Ulumuddin'-nya Al-Ghazali pernah bikin aku merenung: 'Amal yang dicampur riya bagai debu di mata'. Mulai sekarang, aku coba praktikkan 'amal sirri' (rahasia). Misalnya, sedekah lewat transfer tanpa nama atau bantu teman tanpa cerita ke orang lain. Rasanya lega sekali! Syekh Ali Jaber bilang, 'Jaga amal seperti jaga rahasia cinta'. Perlahan, ego itu menyusut ketika kita fokus pada esensi memberi, bukan aplaus. Trik lain yang kubiasakan: mengingat kematian sebelum beramal. Bayangan liang kubur yang gelap dan sunyi bikin ngilu—di sana, likes dan komentar tak ada artinya. Justru yang berbicara adalah catatan malaikat tentang ketulusan. Aku juga sering baca surat Al-Ma'un buat refleksi; ayat tentang orang yang saling pamer sedekah itu kayak tamparan. Sekarang, kalau ada dorongan pamer, langsung kubaca 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' sebagai reminder: semua akan kembali pada-Nya, bukan pada follower count.

Cara menghindari riya dan sum'ah dalam beramal?

3 Answers2026-01-30 00:27:00
Ada satu cerita dari pengalaman pribadi yang membuatku tersadar tentang bahaya riya. Dulu, aku sering posting kegiatan amal di media sosial dengan caption ala-ala 'bersyukur bisa berbagi'. Lama-lama, aku sadar bahwa likes dan komentar pujian justru jadi motivasi utama, bukan niat ikhlas. Sekarang, aku punya ritual kecil sebelum beramal: menutup mata sejenak, membayangkan tangan kanan memberi sedekah sementara tangan kiri benar-benar tak tahu. Visualisasi sederhana ini membantuku mengingatkan diri sendiri. Hal praktis lain yang kupelajari adalah 'amal rahasia'. Sesekali, aku sengaja menyisihkan uang untuk dibagikan secara anonim—entah itu dimasukkan ke kotak infak tanpa dilihat orang atau mengirim bantuan tanpa mencantumkan nama. Rasanya berbeda, lebih ringan dan tulus. Justru ketika tidak ada yang tahu, hati lebih tenang karena yakin itu murni untuk Sang Pencipta, bukan apresiasi manusia.

Bagaimana cara menghindari riya dan sum'ah menurut Islam?

2 Answers2025-12-11 22:58:32
Pernah gak sih merasa gemes sama diri sendiri karena udah berbuat baik tapi kok pengin diketahui orang? Aku sendiri sering banget ngerasain itu. Menurut pengalamanku, kunci utamanya adalah niat. Sebelum ngelakuin apapun, aku selalu coba tanya dalam hati, 'Ini buat siapa sih?' Kalau jawabannya masih ada unsur 'biar dipuji', ya aku tunda dulu sampai niatnya benar-benar bersih. Salah satu trik yang kubikin adalah 'ritual diam'. Misalnya habis sedekah atau bantu orang, langsung tutup mulut rapat-rapat. Malah kadang sengaja sembunyiin perbuatan baik itu. Lucu sih, tapi efeknya bikin hati adem. Aku juga suka baca kisah para salafus shalih yang amalannya gak ketahuan sampe mereka meninggal. Itu bikin aku mikir, kalau mereka aja bisa, kenapa kita enggak? Terakhir, aku selalu ingat hadits tentang tiga orang pertama yang diadili di akhirat nanti - betapa menyeramkannya jadi orang yang amalnya sia-sia karena riya.

Bagaimana contoh riya dan sum'ah dalam kehidupan sehari-hari?

3 Answers2026-01-30 16:06:00
Ada seorang teman yang selalu memamerkan donasinya di media sosial dengan detail nominal dan foto-foto lengkap. Ia kerap mengunggah screenshot transfer ke panti asuhan disertai caption penuh retorika seperti 'Sedikit rezeki untuk adik-adik kurang beruntung'. Padahal, di kehidupan nyata, ia jarang sekali menyumbang tanpa kamera yang mengabadikannya. Ini adalah contoh klasik riya—berbuat baik demi pujian, bukan ketulusan. Di kantor, ada juga rekan yang setiap meeting selalu menyelipkan pencapaian pribadi dengan gaya rendah hati palsu. 'Alhamdulillah project kemarin selesai tepat waktu, padahal saya begadang seminggu tanpa bantuan siapa-siapa.' Kalimat seperti ini seringkali disampaikan dengan nada merendah, tapi sebenarnya ingin didengar atasan. Sum'ah semacam ini justru merusak nilai kerja tim yang seharusnya dikolaborasikan.

Cara menghindari ciri ciri riya dan sum'ah menurut Islam?

3 Answers2026-05-14 01:23:24
Ada satu momen dalam hidup yang bikin aku tersadar tentang bahayanya riya. Waktu itu, aku baru aja selesai ngisi kajian di masjid, trus ada temen yang bilang, 'Wah, kamu keren banget, udah pinter ngaji, bisa ceramah lagi.' Aku langsung ngerasa bangga, tapi kemudian ngeh. Kok kayaknya niat awal aku ngaji bukan buat Allah, tapi biar dipuji orang? Mulai dari situ, aku belajar buat selalu introspeksi niat sebelum berbuat sesuatu. Rasulullah SAW ngajarin kita buat ikhlas lewat hadis, 'Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.' Jadi, kuncinya ada di niat. Aku sekarang selalu tanya ke diri sendiri, 'Buat apa aku melakukan ini? Buat Allah atau buat dilihat orang?' Selain itu, aku juga belajar buat sembunyikan amal baik. Kayak sedekah, misalnya. Awalnya suka pengen dipamerin di media sosial biar dapat like, tapi sekarang lebih milih ngasih diam-diam. Pas baca Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 271, Allah bilang kalo sedekah yang disembunyiin itu lebih baik. Rasanya lega banget pas bisa ngerasain nikmatnya berbuat baik tanpa perlu diceritain ke orang lain. Intinya, melawan riya itu proses seumur hidup, tapi dengan terus mengingat Allah dan evaluasi diri, Insya Allah kita bisa lebih ikhlas.
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status