LOGINSelalu saja diremehkan oleh suami, mertua dan ipar membuat Risma terpukul. Namun, tidak mau berlama-lama meratapi nasib, Risma bangkit dan mulai mengejar mimpinya yang sempat terkubur akibat menikah dengan Raka. Kesuksesan Risma membuat Raka ingin kembali merajut kembali hubungan yang sudah sempat terputus, dengan alasan kasihan anak yang kehilangan sosok ayah kandung. Akankah Risma menerima kembali suaminya yang telah berselingkuh? Disaat sudah sukses mertua dan ipar menjadi baik kepada Risma. Maukah Risma memaafkan mertua dan ipar yang toxic itu?
View MoreWhen had paddling a sub’s ass become a chore?
Damien struggled to keep his boredom hidden. The sub tied to the spanking bench deserved his full attention. Anything less was an insult. “How are you doing, Lila?” he asked, putting the paddle aside. Lila was one of the waitresses at Club Obsidian. Since moving to the city, Obsidian had become like a second home to Damien. His old friend, Marcus Hale, owned the BDSM club. “I’m good, Sir,” she murmured, letting out a soft sigh as he ran his hands over her bottom. He smacked one of his hands down on her butt. “Give me a color, sub,” he said in a low voice. “Sorry, Sir. Green, Sir.” Usually, the sight of a sub tied down awaiting his pleasure would have his cock hard and throbbing. But he barely felt a stirring as he rubbed her ass. Moving to the small table that held a number of toys, he picked up a Vortex wand. The cord was extra-long, easily reaching the bench he had Lila secured to. Damien parted her labia and ran the wand over her lips. Lila let out a low cry, her body shuddering. She was slick with need and he knew she was close to the edge. “Wait for permission to come,” he ordered. “Oh, oh, please, Sir,” she begged. “You can do better than that,” he said sternly, holding the large head of the wand over her engorged clit. She shuddered, her whole body writhing. Sweat coated her naked body. “Please, Sir. Please let me come.” “Not yet.” “Ohhhh.” He actually felt a small spurt of amusement, imagining the names she was calling him in her head. As her breathing grew quicker, her hips thrusting up as far as they could, he knew she was near the end of her endurance. “Please, Sir. Please, let me come.” “You may come.” One, two, three seconds and then she exploded, rocking against the bench, moisture coating the wand. Damien held the vibrating head against her pussy for a long moment, dragging the orgasm out before pulling the head away. He turned back to find Lila lying limp against the bench. He pulled back her long hair. “Okay, sub?” She nodded. “Yes, Sir.” She opened her eyes to stare up at him dreamily. “Thank you, Sir.” “You’re welcome.” He undid her bonds, wishing he felt more for her than slight affection. Lila would be a perfect sub for him. He could keep his heart out of it, while giving her everything she needed. But he knew he’d soon grow bored and that wasn’t fair on her. He helped her sit up, wrapping a blanket around her shoulders as he cleaned up the area. Around him the sounds and scents of Obsidian started to filter in. Lila kept her eyes lowered respectfully. “Master Damien?” Lila queried as he handed her a bottle of water and a small square of chocolate. “Yes, Lila.” “Is there something I can do for you? I mean, you gave me such pleasure that I would like to return it.” He cupped her chin, raising her face. “Your job is to do exactly as I say, that pleases me. Understand?” She nodded, disappointment filling her eyes and he felt like an asshole. Sighing, he rubbed her shoulders. “Want me to find you another Dom?” Lila shook her head. “No, thank you, Sir. It’s busy tonight, I should go help Nora.” He frowned slightly at the fatigue in her voice. She looked a little too pale for him. “I thought you were finished for the night.” All the wait staff at Obsidian were submissives. They could play after their shift was over or on their night off. “I am, Sir. But Nora could use some help.” “First, I want you to rest,” he told her. “Come, I’ll find a free sofa and you can have a lie down.” “I don’t need to rest, I have things to do,” she countered stubbornly. He grabbed her chin again, raising her face as he stared down at her. “That wasn’t a request, sub; you will immediately get off that bench and follow me.” Swallowing heavily, she dropped her gaze immediately. “Yes, Sir. Sorry, Sir.” That was better. Damien turned away, not looking back. When he found a free sofa in a quiet area of the club, he made her lie down then he spread the blanket over her. “I’m going to get you a drink,” he told her, something with sugar. “Do not move.” He strode over to the nearby bar area where Adrian and Cole stood chatting. Cole, who was an ex-marine and built like a tank, ran the club. Adrian, a soft-spoken man with a backbone of steel, looked after the staff. The bartender, Ethan, was pouring a drink for a Domme at the other end of the bar. “Everything okay?” Adrian said. He was the ideal Dom to take care of the subs who worked in the club, he had endless patience, but he knew when he had to push. “Yeah, Lila just looks a bit pale for my liking. She wanted to come back to work. I want her to rest for a bit.” Adrian frowned. “I’ll take her some orange juice and check if she’s okay.” Cole nodded, his gaze caught on Nora, a pleasantly curvy, shy sub, who was currently cleaning tables; her shoulders slumped and head down. Adrian sighed as he picked up the glass of juice. “You’ll take care of whatever is going on with Nora?” he asked. Cole nodded. As Adrian passed Nora, he stopped and bent his head to quickly speak to her. Nora glanced over at the bar then nodded and walked over to them. “Master Adrian said you wanted to speak to me, Sir?” she asked, standing in front of Cole, her gaze on the ground. Cole was quiet for a long moment. Nora shifted her weight from one foot to another then stopped abruptly, as if realizing what she was doing. “Nora, tell me what’s wrong,” Cole demanded. “Nothing is wrong, Sir.” Damien let a smile slip. The little sub was not a good liar. Every inch of her body screamed that something was upsetting her. He settled back on a barstool to watch. The bartender handed him a whiskey. Although he never drank before a scene he often enjoyed one after.Matahari Bali menyambut hangat saat aku dan Mas Aslan tiba di bandara. Angin tropis yang lembut menyapu wajahku, membuatku langsung merasa rileks. Mas Aslan menggenggam tanganku erat, senyum lebar terukir di wajahnya. Dia tampak sangat bahagia, dan itu membuatku merasa tenang."Selamat datang di Bali, sayang," ujarnya dengan suara lembut.Aku mengangguk, senyumku tak pernah lepas. "Aku sudah tak sabar menjelajah tempat ini denganmu."Kami naik mobil menuju vila pribadi di Ubud, tempat yang dikelilingi hutan dan sawah hijau. Vila itu tampak begitu tenang, dengan kolam renang pribadi dan pemandangan alam yang menakjubkan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh staf vila yang ramah. Vila ini terasa seperti surga tersembunyi, jauh dari hiruk pikuk kota.Mas Aslan segera menarikku ke teras, di mana pemandangan hamparan sawah membentang di depan kami. Langit cerah dengan awan putih yang menggantung di kejauhan. "Ini indah sekali," gumamku sambil menyandarkan kepala di pundaknya."Iya, tap
Sinar matahari pagi masuk dari celah tirai kamar, membangunkan aku dari tidur. Di sebelahku, Mas Aslan masih tertidur lelap. Aku tersenyum memandang wajahnya yang tampak damai. Tapi, pikiranku sudah melayang pada sesuatu yang harus segera aku lakukan, meminta izin kepada Kalila, putri kecil aku sama mas Raka, untuk pergi berlibur hanya bersama Mas Aslan selama tiga hari.Dengan hati-hati, aku bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar menuju kamar Kalila. Dia pasti sudah bangun. Setiap pagi, Kalila selalu bangun lebih awal untuk bermain dengan mainannya di ruang tamu atau menonton kartun kesukaannya. Benar saja, begitu aku membuka pintu kamar, aku melihat Kalila duduk di sofa dengan boneka beruang di tangannya, matanya terpaku pada layar TV yang menampilkan kartun favoritnya.“Pagi, Sayang,” sapaku sambil berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.Kalila menoleh dan tersenyum lebar. “Pagi, Mama!”Aku memeluknya erat, lalu mencium pipinya. "Lagi nonton apa nih?"“Nonton kartun!
Sinar matahari menerobos tirai kamarku, membangunkanku dengan lembut. Di sampingku, mas Aslan masih terlelap, wajahnya terlihat tenang. Aku tersenyum tipis, teringat kejadian kemarin saat kami resmi menikah. Rasanya seperti mimpi, bisa bersama pria yang dulu hanya aku lihat sebagai atasan. Tapi, hidup memang penuh kejutan, bukan?Setelah mandi dan bersiap, aku melirik ke arah jam dinding. "Waktunya bangunin suami gantrngku," gumamku. Dengan hati-hati, aku mendekati mas Aslan, lalu menyenggol bahunya pelan."Sayang, bangun, Say. Kita harus berangkat ke kantor," bisikku ditelinganya.Ia bergumam pelan, matanya masih terpejam. "Lima menit lagi, ya? Mas masih mengabtuk sekali ni! ..."Aku menggeleng, lalu sedikit menggelitik perutnya. "Nggak ada lima menit lagi. Ayo bangun!"Ia tertawa kecil, akhirnya membuka mata dan menatapku. "Baiklah, baiklah. Kamu memang nggak bisa ditolak."Pagi itu kami berdua berangkat ke kantor seperti biasa. Meskipun kami sekarang sudah resmi menikah, rutinitas
“Aku ingin Kalila tinggal bersamaku, Risma.”Kalimat itu langsung menghantam hatiku seperti petir di siang bolong. Aku menelan ludah, berusaha mengendalikan diri.“Mas, Kalila adalah hidupku. Dia nyawaku. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia,” jawabku tegas namun tetap menjaga nada suaraku agar tidak terdengar terlalu emosional.Mas Raka menghela napas berat. “Aku tahu kamu sayang sama dia, Risma. Aku juga sayang sama Kalila. Tapi aku pikir, sudah waktunya dia tinggal denganku. Aku ingin lebih terlibat dalam hidupnya. Selama ini, aku merasa jauh dari dia, dan aku tahu itu salahku. Tapi aku mau memperbaikinya.”Aku bisa melihat kejujuran di matanya, tapi itu tidak membuat permintaannya lebih mudah kuterima. Aku menggenggam tanganku erat-erat, berusaha menahan emosi yang mulai membuncah.“Mas, selama ini aku yang membesarkan Kalila sendirian. Aku tahu kamu ayahnya, dan aku tidak pernah melarang Kalila bertemu denganmu. Tapi Kaluka butuh stabilitas, dia butuh merasa aman. Selama
Rani dan pria itu tampak sangat mesra. Tangan mereka saling berpegangan di atas meja, sementara senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Pria itu sesekali membisikkan sesuatu di telinga Rani, yang membuatnya tertawa kecil.Selama beberapa saat, aku hanya bisa memandangi mereka. Kenangan tentang mas
"Kalau kita menikah karena digrebek, bukan kita saja yang malu, Mas. Anak-anak kita kelak juga akan menaggung malu!" jelasku sama pak Aslan. Aku tidak pernah menginginkan hal memalukan itu terjadi dalam kehidupan aku. Pak.Aslan tersentum tatkala aku jelaskan. Sepertinya dia sudah tahu tapi pura-pura
"Apa maksud kamu bicara seperti itu? Kamu hendak merebut istri aku?" tanyaku kesal.Enak saja Andre memuji calon istri aku. Dia sedikitpun tidak menghargai aku sebagai calon suami Risma. Pria yang jelas paman baginya walaupun paman jauh. "Bukan begitu, Pak. Tolong carikan Saya istri secantik istri Ba
Di tengah kabut duka itu, berita lain yang tak kalah menyakitkan datang. Mantan ibu mertuaku, ditemukan meninggal setelah melompat dari jembatan. Ia diketahui mengalami depresi berat sejak putri satu-satunya meninggal secara tragis."Mas, mantan ibu mertua Risma meninggal!" Aku memberitahukan berita






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore