Kalau lagi cari info tarif tambahan untuk pekerjaan fisik atau event, sebenarnya sangat variatif tergantung lokasi, jenis pekerjaan, dan jam kerjanya. Di kota besar biasa mulai dari Rp150 ribu sampai Rp300 ribu per hari, tapi untuk yang butuh skill khusus bisa lebih tinggi. Ngomong-ngomong soal nilai dan tarif, aku lagi baca 'Tentang Harga Diri' yang ngejelasin gimana protagonisnya, seorang freelancer yang sering diremehin klien, belajar negosiasi harga layanannya sambil lawan rasa insecure. Ceritanya relate banget buat yang sering merasa undervalued di dunia kerja.
Kalau ditanya angka pas dan cepat, aku biasanya jawab dengan rentang dan catatan: di Indonesia lumrah dapat Rp150.000–Rp800.000 per hari pada banyak produksi background, tapi angka itu cuma patokan kasar. Yang memengaruhi besarannya antara lain apakah produksi indie atau komersil, apakah ada serikat atau perjanjian skala, serta kompleksitas peran ekstra (misalnya harus tampil berulang, difilmkan close-up, atau perlu kostum/aksi khusus). Di luar negeri, ada aturan ketat soal upah minimum dan lembur—jadi skala union bisa jauh lebih tinggi dibanding non-union.
Dari perspektif orang yang sering bolak-balik set, ada beberapa hal yang selalu aku cek sebelum setuju: apakah ada surat panggilan resmi, kapan jam kerja berakhir, kompensasi untuk waktu tunggu, dan siapa yang menanggung biaya transportasi atau kostum. Juga perhatikan mekanisme pembayaran: tunai di lokasi, transfer bank, atau via payroll produksi. Kalau dapat proyek besar, jangan malu menanyakan detil buyout bila gambar akan dipakai untuk iklan atau distribusi luas. Pengalaman menunjukkan, yang paham hak dan bertanya sopan biasanya lebih untung dibanding yang hanya terima apa adanya.
Tarif harian untuk ekstra sangat variatif; aku pernah terlibat di beberapa set dan selalu lihat perbedaan besar antar produksi. Secara umum: untuk proyek kecil dan non-union di Indonesia, angka Rp100.000–Rp400.000 per hari cukup umum. Produksi skala menengah atau iklan bisa menawarkan Rp500.000–Rp1.500.000 atau lebih. Di pasar internasional, hitungan biasanya dalam dollar dan dipengaruhi oleh apakah produksi terikat serikat pekerja. Faktor yang menaikkan tarif: kebutuhan kostum khusus, adegan yang butuh kemampuan khusus, atau kalau harus standby berjam-jam. Juga perhatikan apakah ada ketentuan lembur, risiko stunt, dan hak penggunaan gambar (untuk iklan, misalnya, bisa ada buyout tambahan). Tips praktis: selalu konfirmasi call time, durasi, fasilitas makan, dan apakah ada kontrak yang menjelaskan pembayaran. Pengalaman saya menunjukkan sedikit negosiasi dan kesiapan administrasi bisa meningkatkan penghasilan dan kenyamanan di lokasi.
Gaji ekstra itu memang nggak standar, dan aku sempat kaget waktu pertama kali nyambi jadi background di sebuah set kecil — bayarannya bener-bener tergantung banyak hal.
Di Indonesia, untuk produksi indie atau sinetron lokal, biasanya saya lihat range sekitar Rp100.000–Rp500.000 per hari untuk non-union/background biasa. Untuk produksi besar atau iklan, angkanya bisa melompat ke Rp500.000–Rp1.500.000 (atau lebih) karena ada budget lebih dan kadang bayar lebih untuk penampilan yang di-capture banyak. Di luar negeri, perbedaan union vs non-union amat signifikan: non-union bisa mulai dari puluhan hingga beberapa ratus dolar per hari, sementara skala union jauh lebih tinggi—dan seringkali termasuk aturan overtime dan jaminan makan.
Hal yang penting saya ingat: jangan cuma fokus angka harian. Tanya soal jam kerja, waktu tunggu, makan, kostum, dan apakah ada lembar kerja/kontrak. Kadang produksi menanggung transport dan makan, atau memberi kompensasi waktu tunggu. Intinya, siapkan ekspektasi dan tanyakan detail sebelum terima panggilan — biar nggak berantakan di hari syuting. Kalau saya, pengalaman kecil itu ngajarin buat lebih siap dan gak mudah kaget sama syarat di set.
Jawaban singkat dari sudutku: tarif ekstra sangat bervariasi. Untuk produksi sederhana di sini biasanya antara Rp100.000–Rp400.000 per hari; kalau iklan atau film besar bisa jauh lebih tinggi, sampai Rp1.000.000-an atau lebih. Perlu diingat juga soal lembur, makan, transport, dan apakah ada kontrak yang menjamin pembayaran. Aku sering menekankan satu hal: jangan cuma lihat angka di awal—tanyakan juga detail call time, durasi, dan fasilitas. Biar kamu tahu persis apa yang diterima dan nggak kaget di hari H.
2025-11-03 16:37:10
16
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Dijatah Tiga Minggu Sekali
Diganti Mawaddah
10
10.6K
Dijatah NAFKAH RANJANG hanya tiga minggu sekali oleh suami. Aku mengira karena ia lelah di kantor, ternyata ia lelah melayani ....
"Mas, " suaraku manja memeluk suami yang baru saja selesai mandi. Menciumi punggungnya yang dingin.
"Sekar, aku capek!" Aku tertegun saat suamiku malah menghindar.
"Kenapa, Bang? Ini udah lebih dari tiga minggu. Aku kangen kamu, Bang!" Aku kembali memeluk Bang Exel.
"Besok saja atau lusa. Aku beneran lagi capek, mau tidur!"
Mutiara terkejut saat mengetahui satu liter beras yang selalu dibawa ibunya setiap hari, adalah upah yang diterimanya dari adik almarhum bapaknya setelah seharian bekerja di rumahnya.
Tiara, begitu gadis 19 tahun itu dipanggil, sempat marah karena upah yang diberikan pada ibunya tersebut tidak sebanding dengan apa yang dikerjakannya.
Tapi, adik dari bapaknya itu berdalih, bahwa sebagian upah yang diterima ibunya harus dipangkas untuk membayar utang almarhum semasa hidupnya.
Bagaimana kerasnya perjuangan Mutiara untuk mengubah nasibnya, Ibu, beserta kedua adiknya?
Lalu. Benarkah kepergian bapaknya yang mendadak itu, meninggalkan beban utang yang banyak untuk mereka?
Lumi Savira punya pekerjaan yang tidak bisa ia ceritakan ke sembarang orang: ia adalah istri sewaan profesional. Bisa dikontrak harian, mingguan, atau bulanan—tugasnya simpel tapi penting: menemani klien menghadapi keluarga bawel, acara sosial yang ribet, dan pertanyaan ‘kapan nikah’. Tarifnya? 5 juta per hari, mahal tapi jelas sebanding dengan kesabaran yang harus ia keluarkan.
Semua berjalan rapi. Namun rutinitasnya yang absurd itu mulai terganggu ketika suatu tawaran datang—seorang klien misterius meminta kontrak enam bulan. Lebih lama, lebih mahal, dan lebih berisiko. Tanpa disadari, Lumi mulai menghadapi hal yang tidak ada dalam kontrak: perasaan.
Karena menjadi istri sewaan itu mudah.
Yang sulit adalah menjaga hati tetap utuh, saat semuanya terasa terlalu nyata.
Kania Sekar Melati gadis berusia 20 tahun itu harus putus kuliah, dan terpaksa bekerja sebagai babysitter di sebuah rumah mewah milik duda kaya beranak satu yang bernama Bagas Adipati Wiratmodjo.
Sedangkan Bagas adalah duda yang baru saja bercerai, dia seringkali merasakan kesepian. Seringkali kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, di usianya yang menginjak angka 31 tahun membuat darahnya meronta-ronta karena kebutuhan yang tidak terpenuhi itu.
Sampai suatu ketika Kania mendapati situasi yang mendesak. Ia meminta pertolongan pada Bagas dan dirinya pun di beri tawaran yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya.
Akhirnya ia menerima tawaran itu, tawaran menjadi simpanan sang bos.
Setiap bulan suamiku menyisihkan uang lima ratus ribu di celengan ayam, dan itu berlangsung selama 12 bulan, saat menjelang lebaran , uang yang sudah terkumpul sebanyam 6 juta itu ia berikan untuk ibunya, gara-gara itu semua, kami harus berhemat dan makan seadanya, padahal Ibu mertua bukanlah orang
Apa jadinya kalau seseorang memintamu hamil dan dibayar 1 Miliar? Ini yang dialami Luna. Ia ditawari hamil dengan imbalan uang satu miliar. Bersediakah Luna?
"Ini uang 500 juta," tunjuk wanita cantik di hadapanku dengan melirik koper yang terbuka, dan memperlihatkan uang yang aku tidak tahu apa benar jumlahnya seperti yang disebutkannya barusan.
"Dan ini 500 juta juga," sambungnya sembari membuka koper satunya dengan tampilan isi yang sama persis.
"Keduanya akan menjadi milikmu kalau kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan sangat baik," tandasnya kemudian dengan menyandarkan punggung ke sandaran kursi yang didudukinya.
"A-apa ini? A--aku tidak mengerti," sahutku yang masih diliputi kebingungan. Aku memang tidak paham untuk apa aku dibawa paksa oleh seseorang yang berpakaian serba hitam, hingga duduk di depan wanita yang menunjukkan dua koper berisi uang satu miliar. Pekerjaan apa yang harus aku lakukan, dan siapa wanita di hadapanku saat ini?
Gue sempat nyemplung jadi ekstra waktu masih iseng ikut casting, dan dari situ gue ngerti betapa beragam tugas orang-orang di belakang layar itu.
Pertama-tama, tugas paling dasar adalah bikin latar hidup: duduk di kafe, lewat di trotoar, jadi penonton konser—kamu diminta bergerak alami sesuai arahan sutradara atau asistennya. Itu berarti harus bawa ekspresi yang konsisten dari take ke take, ngikutin blocking, dan kadang ngulang satu gerakan ratusan kali sambil tetap kelihatan natural. Selain itu ada juga kelas 'featured extra' yang dapet momen lebih menonjol—mungkin dikasih reaksi spesifik atau sekali-sekali satu baris dialog kecil.
Selain berakting, ekstra juga sering diurus wardrobe dan makeup, harus siap ganti kostum cepat, dan menjaga kontinuitas penampilan. Peran lain yang jarang terlihat adalah jadi pengisi 'atmosphere' seperti tentara atau warga kota yang pakai properti khusus; di situ ekstra harus taat protokol keamanan terutama kalau ada senjata rekreasi atau adegan ramai. Intinya, ekstra itu pondasi visual: mereka nggak selalu dilihat satu per satu, tapi tanpa mereka, adegan terasa kosong. Aku pulang dari pengalaman itu dengan respect besar buat semua orang yang rela berdiri berjam-jam demi bikin dunia fiksi terasa nyata.