Share

Babysitter Simpanan Bos Duda
Babysitter Simpanan Bos Duda
Author: Alana Karin

Bab 1

Author: Alana Karin
last update publish date: 2026-05-25 14:52:52

"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."

Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pengobatan atas penyakit yang dideritanya. Meski sudah menggunakan asuransi pemerintah, tetap saja ada banyak biaya yang tidak sepenuhnya ditanggung sehingga tagihan rumah sakit terus bertambah.

Kania bingung. Di satu sisi, ia baru saja dikeluarkan dari kampusnya karena keterbatasan biaya. Rasanya, hidup menekannya dari dua arah yang sama-sama menyakitkan. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia tidak pernah menyangka dunia akan mengacak-acak hidupnya serumit ini.

Angga adalah satu-satunya saudara yang ia miliki. Selama ini mereka hanya hidup berdua, dan Kania tidak sanggup membayangkan kehilangan kakaknya. Apa pun yang terjadi, ia bertekad untuk memperjuangkan kesembuhan Angga.

"Aku nggak boleh kasih tahu Mas Angga kalau aku udah di-DO dari kampus. Aku harus kerja buat bayar biaya pengobatan Mas Angga. Setidaknya, aku juga jadi punya alasan setiap kali keluar rumah, supaya Mas mikir kalau aku masih kuliah."

Setelah berpikir cukup lama, Kania akhirnya memutuskan untuk menghubungi beberapa temannya demi mencari informasi pekerjaan. Namun, dari sekian banyak orang yang ia hubungi, hanya satu yang benar-benar bersedia membantunya—Linda, sahabat terdekatnya.

Linda kemudian menawarkan untuk mengenalkannya pada sebuah penyalur tenaga kerja yang biasa mencari pekerja sebagai babysitter atau asisten rumah tangga.

"Gaji jadi ART atau babysitter lumayan, kok. Biasanya paling sedikit sekitar dua setengah juta, tergantung majikannya. Kalau bosnya baik, kamu bahkan bisa dapat gaji sampai lima jutaan."

Kania menimbang tawaran Linda dalam diam. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan bekerja sebagai ART atau pekerjaan sejenis itu. Meski berasal dari keluarga sederhana, Angga selalu berusaha memenuhi kebutuhannya. Bahkan, kakaknya itu rela bekerja keras demi membiayai kuliahnya.

Namun, melihat keadaan yang kini begitu sulit, rasanya Kania tidak lagi punya kesempatan untuk memilih pekerjaan.

Bayangan Angga yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis kembali memenuhi pikirannya.

"Ingat, kan? Kamu mau Mas Angga sembuh, kan? Kamu harus punya banyak uang supaya dia nggak bolak-balik rumah sakit lagi. Paling nggak, kamu bisa bantu supaya utang keluarga kalian nggak terus menumpuk. Nanti kalau kamu sudah dapat pekerjaan yang lebih bagus, kamu bisa pelan-pelan melunasi utang kakakmu yang lain."

Kania terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas pelan, "Tapi... ini aku langsung kerja, kan?"

"Iya, langsung kerja. Kemarin aku lihat status W******p orangnya, mereka lagi butuh orang buat jadi babysitter."

Kania terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikirannya.

"Jadi gimana? Kalau kamu mau, aku bisa antar kamu ke penyalurnya," ujar Linda.

Pada akhirnya, Kania mengangguk menyetujui tawaran itu. "Iya, aku mau. Tapi sebelum ke sana, aku mau jenguk Mas Angga dulu. Kamu mau nungguin aku, kan?"

Linda langsung mengangguk. "Iya. Aku temani kamu ke rumah sakit juga."

"Makasih ya, Lin."

Tanpa ragu, Kania langsung memeluk sahabatnya erat-erat. Dadanya dipenuhi rasa haru karena, di tengah semua kesulitan yang menimpanya, hanya Linda yang tetap setia berada di sisinya dan mau menolongnya.

Siang itu, sebelum pergi ke penyalur kerja, Kania memutuskan untuk lebih dulu menjenguk Angga di rumah sakit.

Ia mengobrol sebentar dengan kakaknya yang masih terbaring lemah di ranjang perawatan.

"Kan, kamu kuliah yang benar, ya. Cuma kamu satu-satunya harapan yang Mas punya. Cuma kamu yang Mas punya. Mas sayang sama kamu." Kedua bola mata Angga terlihat berbinar. Banyak sekali hal yang dia pendam dan tidak sanggup ia ungkapkan.

Kania mengangguk, meski jauh di dalam hatinya ia diliputi kecemasan karena harus menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sudah dikeluarkan dari kampus.

"Mas juga harus janji sama aku Mas harus sembuh."

Angga mengangguk. Sebenarnya, ia sudah tidak banyak berharap pada hidupnya, tidak berharap lebih atas kesembuhannya mengingat segala kesusahan yang mereka hadapi. Namun, demi Kania, ia harus berpura-pura kuat dan baik-baik saja. Ia tidak ingin adiknya ikut terbebani memikirkan kondisinya. Terlebih lagi, mereka tidak punya cukup uang untuk biaya pengobatan. Angga juga tidak mau terus merepotkan bibinya maupun Kania yang masih berusia dua puluh tahun dan seharusnya masih memiliki masa depan panjang.

"Iya, Mas pasti sembuh."

Dengan penuh kasih sayang, Angga mengusap rambut Kania. Perlahan, Kania merasa sedikit tenang. Sikap hangat dan energi positif yang diberikan kakaknya berhasil meredakan kecemasan di dalam dirinya.

"Kalau gitu, aku pamit dulu, Mas. Aku ada kelas sore."

Kania segera berdiri. Padahal hari itu, ia sebenarnya akan pergi ke penyalur kerja untuk mencari pekerjaan.

"Iya, Kan. Hati-hati, ya," ujar Angga.

Bi Asih yang sejak tadi menjaga Angga di ruangan itu juga ikut menatap Kania.

"Bi, aku titip Mas Angga, ya," ucap Kania pada perempuan itu.

Bi Asih mengangguk penuh pengertian. "Iya, Kan. Bibi pasti jaga Masmu baik-baik."

Setelah itu, Kania keluar dari ruangan untuk menemui Linda yang sudah menunggunya di area parkir. Ia tidak ingin membuat sahabatnya menunggu terlalu lama, sehingga langkahnya berubah sedikit terburu-buru.

Sambil berjalan cepat setengah berlari, Kania membuka tumbler stainless berisi air hangat yang tadi ia bawa dari rumah.

Namun, saat melewati persimpangan lorong rumah sakit, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan. Tubuh Kania langsung terhuyung kaget, sementara air di dalam tumbler yang dipegangnya tumpah begitu saja.

Cairan hangat itu mengenai seorang pria yang tengah berdiri tak jauh darinya sambil menempelkan ponsel di telinga.

Pria itu sontak terkejut. Ia langsung menjauhkan ponselnya sambil mendesis kesal.

"Sial... panas!"

Suaranya terdengar penuh tekanan ketika cairan hangat itu mengenai bagian bawah pusarnya. Cairan hangat tadi merembes ke dalam celananya. Seketika, tatapan tajam pria tersebut mengarah pada Kania.

Sementara itu, Kania hanya bisa membeku di tempat. Refleks, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat menatap pria di hadapannya.

Namun, yang membuatnya semakin panik adalah air hangat tadi rupanya tumpah tepat mengenai bagian pribadi pria itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Wati-Wati
sangat bagus ceritanya,lanjut....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 174. TAMAT

    Malam itu rumah sudah sunyi, Kai sudah tertidur pulas di kamar bersama Naren. Hanya Kania yang sibuk sendiri di dapur, sedang sibuk membuat smoothies. Tanpa ia sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya. Dua tangan besar lalu melingkar di pinggangnya. Kania sedikit terkejut, tapi tidak benar-benar kaget. Ia sudah hafal siapa pemilik pelukan itu. "Mas..." Bagas merapatkan tubuhnya, dagunya menyentuh bahu Kania. Nafasnya hangat di dekat telinga perempuan itu. Tiba-tiba Bagas menunduk, bibirnya menyentuh belakang telinga Kania. Sentuhan itu membuat tubuh Kania merinding. Refleks ia menoleh ke belakang. "Mas..." protesnya pelan. Bukannya menjauh, Bagas justru menepuk ringan bokongnya. Kania langsung menjengit. "Ih!" Bagas tersenyum kecil, jelas menikmati reaksinya. Kania menghela napas, mencoba kembali fokus. Ia mengambil mangkuk smoothies yang sudah jadi, lalu mengangkatnya sedikit ke arah Bagas. "Mas kamu mau?" tawarnya. Bagas melirik sekilas, lalu menggeleng tipis. "Ma

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 173

    "Karena Mama udah jahat ke Kania. Mama udah gelapin uang buat mereka selama bertahun-tahun." "Kamu anak Mama!" teriaknya. "Harusnya kamu di pihak Mama, bukan mereka!" "Aku gak bisa jadi kayak Mama. Aku gak bisa jadi jahat." "Aku laporin Mama... supaya semua ini selesai. Supaya rasa sakit mereka terbayar." Egi merasa bingung. Disatu sisi Sintia memang bersalah namun, rasanya tidak adil jika hanya dia yang dijadikan alat untuk menebus semuanya. Ia juga bersalah, ia jauh lebih bersalah bahkan. Seharusnya ia yang mendapat hukuman lebih banyak. Sore itu suasana rumah Kania terasa tenang. Kai sedang tertidur di dalam kamar, sementara Kania duduk di ruang tengah dengan secangkir teh yang mulai mendingin di tangannya. Pikirannya masih dipenuhi banyak hal terutama tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Bel pintu berbunyi. Ia bangkit, lalu membuka pintu. Di sana Eliana berdiri. "Mbak?" Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebuah map cokelat di tangannya. "Ak

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 172

    Pagi itu di kafe milik Angga aroma kopi memenuhi ruangan, sementara Kania duduk di salah satu sudut, menatap layar laptopnya ketika Kai sedang di ajak jalan-jalan oleh Angga di tempat ini. Seseorang masuk melangkah mendekatinya. Kania tidak memperhatikannya hingga ia baru menyadari ketika sosok itu telah berdiri di depannya. Kania refleks mengangkat kepalanya, dan mendapati Eliana dengan wajah yang masih menyimpan sembab. Mungkin menangis karena hal semalam. Keduanya saling menatap dalam keheningan, saling meragu, tetapi kekosongan itu pudar saat Eliana mulai berbicara. "Saya gak nyangka ya kalau kita ternyata saudara." Kania mencoba mencerna kalimat itu. "Duduk dulu, mbak." Akhirnya Eliana memilih duduk di depan Kania. Suara Eliana terdengar ketus, tapi tidak sepenuhnya benci. "Ibu saya bukan pelakor," ucap Kania mengantisipasi sebelum Eliana menambahkan banyak hal. "Kebetulan hubungan ibu saya dan ayah kamu gak direstui. Jadi ibu saya disembunyikan dan ayah kamu nikah dengan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 171

    Semua orang langsung diam. "Saya melakukan ini bukan karena uang." Ia melirik sekilas ke arah Bagas. Cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mengerti jika suaminya itu bukan orang yang kekurangan apa pun. Wajah Sintia langsung mengeras. "Saya cuma mau satu hal," lanjutnya. "Setidaknya kalian mengakui kesalahan dan meminta maaf sebagai manusia yang punya hati karena sudah pernah melukai hati ibuku, menyakiti dia bahkan sampai akhir hidupnya dia harus menelan sakit atas perbuatan kalian. Dan kalian gak pernah nunjukin diri untuk sekedar mengatakan kata maaf." Suasana hening sekejap. Egi bahkan tidak menyangka jika sudah tidak ada. Tatapan semua orang tertuju pada Kania—lalu perlahan bergeser ke Bagas. Pria itu akhirnya maju satu langkah. "Baik," ucap Bagas pelan. "Kalau memang kita mau menyelesaikan ini, kita selesaikan dengan jelas." Sintia langsung menyilangkan tangan, bersiap menyerang. Tapi Bagas bahkan belum selesai bicara. "Kania tidak meminta uang," lanjutnya. "It

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 170

    Hingga satu pekan berita itu beredar Egi masih belum membuat keputusan. Malah keluarga Egi membuat ancaman. Pagi ini Kania kembali mendapati kabar jika Bi Asih buntuti oleh mobil hitam dan orang bersenjata saat ia pergi ke pasar. Dengan begitu Angga pun memutuskan untuk menyebar bukti beberapa foto masalalu Egi dan ibunya, berikut juga foto Angga dan Kania semasa bayi ketika di gendong oleh Egi. Angga menggunakan akun pribadinya sendiri dalam mengungkap foto itu. Yang kemudian di teruskan oleh akun-akun besar lainnya. Karena itu dengan cepat keluarga Egi pun menyoroti akun Angga, mereka mencari Angga dan mengirimi pesan berupa ancaman pada Angga. Angga tidak gentar sama sekali dengan ancaman itu, ia malah memanfaatkan momen ini dengan pamer potretnya dengan Kania saat ini. Karena potret itu membuat Sintia mencari tahu keberadaan mereka. Tapi bukannya Sintia melancarkan niat untuk melenyapkan Angga dan Kania, justru ia yang merasa mendapat ancaman dari keduanya. Dengan munculnya pen

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 169

    Sebuah berita gosip baru saja menggemparkan publik. Berita itu seperti sebuah teror yang mengerikan bagi keluarga Hendrawan. Karena merusak reputasi keluarga Hendrawan dengan cepat. Berita itu memuat skandal Hendrawan yang diduga memiliki dua anak dari perempuan lain. Dan kabarnya dua anaknya itu sudah besar dan siap menuntutnya jika tidak segera membuat pernyataan mengakuinya di depan publik. Sontak saja berita itu membuat Sintia dan keluarga besar Egi Hendrawan merasa muram. Sebab mereka merasa berita lama itu sudah terkubur lama, dan mereka pikir tidak akan pernah naik ke permukaan setelah mereka sempat menekan dan mengancam Kartika habis-habisan. Tapi sekarang? Justru berita itu kembali naik bahkan langsung membuat heboh di media. Sintia dan Egi sudah berusaha menarik berita itu namun kekuatan mereka ternyata tidak mampu mengalahkan berita tersebut. Sehingga mereka yakin bahwa di balik layar munculnya berita ini pasti ada orang yang begitu berkuasa. Eliana yang tidak tahu apa-

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 4

    "Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 3

    Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 6

    Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 5

    Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status