Lidah Menantu
pintaku.
"Mak, gak bisa gitu, Mak! Dia harusnya sadar, sebagai menantu, dia yang seharusnya melayani Mak, bukan sebaliknya."
Kulihat, dada Wita naik turun menahan geram, pada iparnya itu. Kuelus punggung anak perempuanku itu.
" Sudah, Wit. Mak dak papa, sudah, Nak!" ucapku memelas.