KarenW
Aku sangat lengket dan selalu mengikuti pacarku, Ariel, ke mana pun dia pergi seperti anak anjing yang tersesat. Aku terus mendambakan lebih banyak perhatian darinya.
Malam ini, aku tiba-tiba melihat deretan komentar transparan saat aku meringkuk dalam pelukan Ariel dan mengecup bibirnya dengan lembut seperti biasanya. Satu per satu komentar itu melintas di depan mataku.
[ Dia belum sadar ya kalau Ariel, tokoh utama pria kita, sedang berusaha mati-matian hindari dia? ]
[ Ariel benci kontak fisik, terutama dengan dia. Dia sungguh mengira Ariel bersamanya karena mencintainya? ]
[ Tenang saja. Cinta sejati Ariel, sang tokoh utama wanita, sebentar lagi akan muncul. Begitu dia muncul, Ariel akan campakkan si jalang bodoh ini tanpa ampun. ]
Membaca itu, jantungku langsung berdebar. Detik berikutnya, aku pun menjauh dari dada Ariel.
Ariel menundukkan kepala dan menatapku, lalu sesuatu yang terlihat mencurigakan seperti rasa kesal melintas sekilas di wajahnya. Dia pun bertanya, "Ada apa?"