Melody
Pada hari ketiga perjalanan dinasku, suamiku mengunggah sembilan foto sekaligus di Onstagram.
Semua foto itu berisi momen-momen hangat saat dia seorang diri menjaga putri kami yang baru berusia satu tahun di rumah.
Keterangan foto yang ditulisnya: [Istri sedang tidak di rumah, Putri Kecil pintar sekali.]
Aku tersenyum lalu membuka foto itu dalam ukuran penuh. Namun, ketika sampai pada foto ketiga, wajahku seketika pucat pasi. Seluruh tubuhku gemetar saat aku menelepon polisi.
“Pak Polisi, cepat ke rumah saya! Suami saya sudah meninggal!”
Polisi yang bertugas di wilayah kami segera mendobrak pintu rumah. Tidak lama kemudian, mereka menghubungiku lewat panggilan video.
Di layar, suamiku sedang menggendong putri kami yang tertawa cekikikan. Dengan nada pasrah, dia menjelaskan kepada polisi bahwa akhir-akhir ini tekanan pekerjaanku terlalu besar sampai-sampai aku mengalami paranoid akan ancaman pembunuhan.
Polisi yang memimpin tim itu memperingatkanku dengan tegas agar tidak membuat laporan palsu dan membuang-buang tenaga kepolisian.
Namun, aku hanya menatap lekat-lekat pria di layar yang sedang membujuk anakku dengan suara lembut. Dalam keputusasaan, aku menjerit, “Suruh dia letakkan anakku! Cepat tangkap dia! Suamiku sudah meninggal!”