Sarah Lane
Adik perempuanku, Rosa, merebut sembilan pacarku berturut-turut. Aku begitu trauma hingga tak pernah berani jatuh cinta lagi. Sampai akhirnya, Nikolas melamarku.
Dia memanjakanku seolah aku adalah harta paling berharga. Aku sungguh percaya akhirnya telah menemukan belahan jiwaku. Kupikir aku ditakdirkan menjadi istrinya, menjalani hidup yang damai dan penuh rasa aman di sisinya.
Pada malam menjelang pernikahan kami, Nikolas mengirim Rosa ke luar negeri. Empat tahun setelah kami menikah, aku bertemu lagi dengan Rosa di sebuah acara makan.
Seorang tamu menyeringai. "Selama empat tahun Nikolas membuangmu ke luar negeri, apa kamu nggak membencinya?"
Rosa tersenyum penuh godaan. "Dia ayah dari anak-anakku. Untuk apa aku membencinya?"
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.
"Kakakku benar-benar bodoh dan polos, sampai percaya Nikolas benar-benar membenciku!" Dia mencibir dengan tatapan penuh penghinaan.
"Padahal kenyataannya, aku yang melahirkan ahli warisnya, tinggal di rumah mewahnya, mengendarai mobil-mobil supernya, dan menghabiskan uangnya."
Begitu dia selesai berbicara, semua mata di ruangan itu langsung tertuju kepadaku. Sebagai istri sah Nikolas, aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang semua yang baru saja diucapkannya.
Namun, aku tidak menangis ataupun membuat keributan. Aku hanya menekan tombol "kirim" pada email yang sudah lama kususun. Balasannya datang dengan sangat cepat.
[ Kami dengan senang hati menyambut Anda bergabung dengan tim medis kami. Kami sudah lama menunggu Anda. ]
Menatap balasan itu, senyuman tulus perlahan kembali menghiasi bibirku. 'Nikolas, mulai saat ini, kamu nggak perlu lagi berpura-pura mencintaiku.'