Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya
Di hari putriku meninggal, aku berniat meletakkan papan arwahnya di aula leluhur Keluarga Gunawan.
Namun, Jefri Gunawan yang berusia lima tahun malah melempar papan itu ke lantai dan menginjak-injaknya sampai hancur berantakan.
“Dia bukan anak Keluarga Gunawan, apa haknya diletakkan di sini? Bahkan kalau kamu mati pun, aku nggak akan sudi menaruh papan namamu di sini!”
Aku melirik ke arah papan arwah seorang wanita yang terpajang di aula itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Begitu melihat arah pandanganku, Jefri langsung berdiri menghalangi penglihatanku.
“Kamu pikir kamu siapa?! Emangnya kamu pantas dibandingkan dengan ibuku?!”
“Pelakor selamanya akan jadi pelakor! Selamanya nggak akan pernah punya harga diri!”
Aku tak menyangka anak yang kubesarkan dengan tanganku sendiri, ternyata bisa begitu mirip dengan ayahnya.
Menatap putra kandungku yang berdiri di hadapanku, aku pun jatuh ke dalam keputusasaan yang tak berdasar.
“Jangan kira karena sudah mengurusku beberapa tahun, kamu bisa jadi ibu kandungku. Ibuku hanya satu selamanya!”
“Kalau hebat, pergilah dari rumahku!”
Dia tak tahu kalau papan arwah yang dia hancurkan itu adalah milik kakak kandungnya sendiri.
Namun semuanya sudah tak penting lagi. Putriku sudah tiada dan tak ada gunanya lagi aku bertahan di sini.
“Nggak perlu mengusirku, aku akan pergi hari ini juga.”