Kalau ditanya buku Fiersa Besari mana yang wajib dibaca, aku langsung bilang: 'Garis Waktu'. Aku ingat pertama kali menemukan bukunya sambil ngopi di kafe kecil, dan halaman demi halaman bikin aku berhenti sesekali cuma untuk menatap jendela sambil mikir—kenapa kenangan bisa sesakit itu sekaligus sesetiap itu. Gaya bahasanya sederhana tapi penuh metafora yang sering bikin aku teringat momen kecil dalam hidup sendiri. Ceritanya nggak cuma soal romansa, tapi soal waktu, pilihan, dan gimana kita berdamai (atau nggak) dengan keputusan masa lalu.
Salah satu hal yang bikin 'Garis Waktu' istimewa buatku adalah karakter-karakternya terasa nyata: bukan tipe yang sempurna, mereka remuk, lucu, dan sering bersikap bodoh—persis seperti orang yang aku kenal. Ada adegan yang bikin aku bilang, "Astaga, kok bisa ya dia mikir begitu," lalu tersipu sendiri karena sadar, aku juga pernah begitu. Kalau kamu suka novel yang bikin mata berkaca-kaca tapi juga ngasih ruang buat senyum-senyum konyol, ini pas.
Sebagai catatan kecil: kalau mau lanjut membaca karya Fiersa lainnya, 'Konspirasi Alam Semesta' worth a read juga—lebih filosofis dan sering terasa seperti surat untuk jiwa yang lagi resah. Tapi kalau satu saja harus dipilih buat mulai dari yang paling pas, menurutku tetap 'Garis Waktu'.