BATARI
Batari Amara Wijaya seharusnya sudah menjadi abu setelah malam jahanam di Uluwatu. Sepuluh bulan lalu, kehormatannya direnggut paksa oleh pria-pria yang ia sebut keluarga.
Di puncak Bukit Terlarang, Batari menukar sisa jiwanya dengan Lenka, entitas mistis haus darah yang memberinya kecantikan mematikan dan aroma mawar yang mampu melumpuhkan logika pria mana pun.
Setiap sentuhan Batari adalah racun yang nikmat; setiap desahannya adalah lonceng kematian yang sensual.
Kini, Batari kembali ke Jakarta bukan sebagai korban, melainkan sebagai predator. Satu demi satu, mereka yang menghancurkan hidupnya mulai tumbang. Erick Koma, Adrian hilang, Seline hancur, dan kini giliran Victor—pria yang mengklaim tubuh Batari sebagai wilayah kekuasaannya.
Victor tidak menginginkan cinta; ia menginginkan kepatuhan mutlak. Ia memburu bibir Batari yang berdarah, menyesap setiap desahan yang keluar dari bibir gadis itu, tak sadar bahwa setiap sentuhannya adalah paku untuk peti matinya sendiri. Di sisi lain, Elio hadir sebagai kontras yang berbahaya—seorang pria berkuasa yang ingin menyelamatkan Batari dari kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
Di atas ranjang yang menjadi saksi bisu perjamuan nafsu dan air mata, Batari bermain dengan api. Ia membiarkan Victor menjadi anjing penjaganya yang gila, sementara ia perlahan menarik pelatuk untuk pembalasan terakhir.
Namun, ada satu aturan darah yang tak boleh dilanggar: Jangan pernah jatuh cinta. Karena saat jantungnya bergetar untuk seorang pria, iblis di dalam nadinya akan menelan jiwanya utuh.
Akankah Batari menuntaskan dahaga dendamnya, atau justru terbakar kembali dalam api gairah yang terlarang?