Jerat Cinta Mafia Hyper
Satu tangannya menekan tembok kaca di samping kepalaku dengan keras, sementara tangan lainnya mencengkeram daguku, memaksaku mendongak menatapnya.
Air shower mengguyur kami berdua. Kulit kami bersentuhan. Panas tubuhnya membakar kulitku yang basah.
"Dengar aku, Chintya," desisnya. Wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya di bibirku. Tatapan matanya tajam, tidak ada kelembutan sedikitpun. "Kau bilang aku gila? Mungkin. Tapi kau sekarang ada di duniaku."