Pembalasan Sang Dokter Jenius
Di depannya, tergantung papan kayu pudar: “TERIMA KOS PUTRA / PUTRI / PASUTRI. ADA KAMAR KOSONG.”
Kosan campuran. Joko menghela napas. Setidaknya ia boleh masuk.
Ia melangkah masuk ke teras yang teduh. Berbeda dari bayangannya, yang menyambutnya bukanlah ibu-ibu tua yang galak. Di ruang tamu kecil yang sepertinya berfungsi ganda sebagai kantor, duduklah seorang wanita muda. Usianya mungkin baru akhir dua puluhan. Ia mengenakan daster batik modern yang pas di badan, menonjolkan lekuk tubuhnya yang bohay (padat berisi). Rambutnya yang panjang dan hitam legam dibiarkan tergerai, dan ia sedang asyik bermain ponsel sambil mengipas-ngipas lehernya dengan kipas tangan.