LOGINDania di marahi karena menggunakan uang tabungannya untuk kebutuhan warung. Suaminya, Aksa meminta agar Dania membiayai pernikahan adik iparnya. Setelah Dania menanggung kebutuhan keluarga sang suami. Apakah Dania akan terus bisa untuk bertahan?
View MoreBeatrice's POV
Head spinning as I opened my eyes the moment that I recovered from being unconscious. It was so quiet in the place that I was into, not until I realized that I was exactly in the forest, surrounded by tall trees. I tried to stand up on my feet, however, those footsteps coming from the dark side of the forest rang like a doorbell to my ears.
I gasped. It was like I was seeing a ghost. Not just literally a normal ghost, but an evil one.
His smirk gives me chills and hope to vanish in the air. He walks slowly to my direction, which makes me move backwards until my back hits something.
“Trying to escape?” His deep voice makes me freeze and all the things that happened to me before I get in the forest flashes into my head. Now I remember why I am here.
“A-Alpha S-Sebastian…n-no…” I was about to cry but I did my best to control those tears because this is not the time for crying. It won't help me in any way.
“Beatrice,” my wolf screaming for pain deep inside of me.
“Calm down, Trisha!” I uttered through a mind link. She's agitated because she can smell the scent from our mate. Alpha Sebastian was our mate but he's evil!
We don't want him, but my parents… They sold us to him instead! They're evils.
“You think you can escape from me like that?” He asked, grabbing my wrist like a thing. I grimaced in pain while forcing myself to calm down.
“Alpha Sebastian… We don't want you. Please leave us alone!” I was mad, but fears in me still rise because this Alpha is not easy to handle. He's ruthless. He's a son of a devil. All that he wants from me is my body. I am just a toy to him and that face. It's not what we wanted. We wanted a mate who will respect us, love us, and not to torture us.
“You're mine, Beatrice. You are only mine. I will make this night so memorable for the both of us. You don't want that?” I gasped, swallowing my saliva with my eyes filled with fears as I looked at him.
“You don't have to force me, Alpha Sebastian. We both knew what you wanted from me, from us…”
He smirked, “Now I like you a lot. I love your courage to resist a dominant Alpha like me, huh.”
And then he pushed me. His men approached us. They held me both to my arms and legs, so that Sebastian would have the chance to do his plan. His plan of taking me without my permission.
“Alpha Sebastian! Please, no!” I screamed and slowly, tears started to fall from my eyes. Deep within me, I could hear my wolf's screams. The goddess knew how much she wanted to feel our mate's heat, but she knows that everything is not right. She knows that Alpha Sebastian will only make our lives in hell if we allow him to have us both. He uses us for his selfish intentions and not because we are his mate.
I have already used my strength to escape from their grips but they were too strong. Alpha Sebastian will probably succeed on his plans to us and I already lost the hope. He's forcing us to make up with him even though we didn't want to.
I don't want this. Not even my wolf, Trisha, wanted this. We didn't want a wolf who would disrespect us this way. But what else can I do about it?
He started to kiss my neck and I am here, resisting and just crying as if he will listen to my cries. Alpha Sebastian was already deaf to listen to us. But not until I heard three gunshots. His men's grip to my arms and legs loosen as well as Sebastian.
“W-What just happened?” Trisha asked, but I froze as the event didn't want to sink. But after a couple of minutes, I have digested everything. Alpha Sebastian was shot dead while he's on top of me. Someone had killed him as well as his men. As I realized that, my body started quivering in fears that I might be the next target. I moved his body away from me and then using my shaking hands, I covered my mouth.
“H-He's dead… Someone killed him, Trisha!” I told my wolf and narrowed my head at the surroundings to find out who did this to Alpha Sebastian. But no one's there. I have no idea who killed him and whoever he is, he just saved my life.
My eyes went back to Alpha Sebastian who's lying on the ground lifeless and is covered with blood. Tears fell to my eyes not because I pity him, but in fear that someone might accuse me. And before everything was too late, I did try to stand up.
However, I was already too late. The pack guards had arrived and they were stopping me.
“Don't move!”
“You're under arrest for killing Alpha Sebastian!”
At that moment, I couldn't believe that this was even happening. That I would be accused of killing my own mate as well as his men. They thought that I was the one who did those, but they were wrong. A mysterious killer did those to them and it is not me.
I kneeled in front of them with tears falling into my eyes in hope that they would listen to me. My heart is still pounding so fast like it will come out from my rib cage any time soon.
“Please… I didn't do that. I didn't kill them.” I tried explaining but those guards walked in my direction, and they forced me to lay down.
“You're capable of doing these because you're just the one who is still alive in here.” One of them stated, which makes me bite my lower lip.
“And if you keep on resisting, we will be forced to end your life. So, Shut your mouth.”
Crying is not my cup of tea but not this moment. I was caught off guard and there's no way that I could defend myself for the crime that I didn't do because they found me guilty. But there's no way that I will give up that way, that I will just accept it easily.
“Y-Your alpha tried to rape me and—”
Just before I could finish my words, they hit me with their guns and then my sight turned dark.
Aku masih diam. Kaget karena lamunan yang tiba-tiba buyar. Tubuhku gemetar dengan pikiran kosong. Melihatku yang masih saja, Mas Aksa menuntunku duduk di sofa. Dia membawa teh hangat dan mengambil pisang rebus dari dandang lalu menyajikannya di meja. Wajah Mas Aksa tampak sangat khawatir melihatku yang masih diam sejak tadi. Pikiranku buntu. Aku menghela nafas berulang kali agar lebih tenang. Tanpa sadar tangisku sudah pecah. Mas Aksa membawa tubuh ini dalam pelukan. Harum parfum yang masih menempel di bajunya membuatku tenang. Baru kali ini Mas Aksa memperlakukanku selembut ini. Tidak pernah terbayang akan mendapat pelukannya setelah lima tahun pernikahan yang menyiksa. Keputusan untuk rujuk yang kulakukan demi anak-anak justru membawa hubungan kami menjadi lebih dekat lagi.“Aku minta maaf jika ada salah padamu.” Tangan besarnya mengusap punggungku lembut. Getar suaranya sangat terasa dalam setiap gerakan tangannya. Aku menggeleng. Ini semua bukan salahnya. Berusaha meredam tangisan
Malam semakin larut. Kami sudah selesai makan malam bersama. Setelah bicara dengan Mas Aksa, Ibu akhirnya mau menginap di rumah ini bersama Rosi dan Syntia. Walaupun besok pagi harus bangun pagi sekali untuk pulang agar bisa jualan di rumah. Alhamdulillah dari berjualan Ibu punya uang yang lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Penghasilan Rosi dan Syntia juga membantu. Sehingga uang dari Mas Aksa bisa ditabung untuk biaya persalinan Rosi kelak. Semuanya akan terasa cukup jika tidak berfoya-foya. "Besok libur jualan saja dulu Bu," kata Mas Aksa begitu kami pindah ke ruang tengah. Aku masih sibuk mencuci piring dibantu Rosi dan Syntia. Rani sudah kembali ke rumahnya sebelum adzan maghrib berkumandang. Memastikan jika keluarganya juga aman di rumah. "Kalau libur pelanggan Ibu jadi pergi Sa. Ibu sudah tidak sakit lagi. Saat badan masih sehati, lebih enak dibuat bekerja. Lagipula setelah jualan, badan Ibu jadi lebih segar karena terus bergerak." "Jualan Ibu sudah mulai habis?
Kami turun ke lantai satu bersama setelah mengambil wudhu. Salat berjamaah di musola. Selain Rani, Bapak dan anak-anak, hanya Rosi yang ikut karena Ibu dan Syntia masih tertidur. Kami memutuskan membiarkan mereka tidur sebentar lagi sampai setengah jam ke depan. Setelah salat ashar, anak-anak sudah mengajak Mas Aksa untuk melihat tanaman mereka.“Besok kita jadi beli tanaman baru Yah?” tanya Mawar bersemangat.“Jadi dong.”“Aku dan Mawar juga mau beli pakai uang tabungan kita sendiri Yah.” Melati sudah memekik senang memikirkan ide itu. Aku hanya bisa menggeleng mendengar ocehan anak-anak yang sangat bersemangat setiap kali bermain dengan ayah mereka. Pandanganku sempat teralih sebentar ke teras.Melihat Bapak bersantai di teras samping melihat menantu dan kedua cucunya. Rosi yang kembali masuk kamar, Rani duduk di sofa ruang tengah untuk mengetik novel dengan tangan lain yang kadang memegang ponsel lain yang menampilkan rekaman kamera CCTV di rumahnya. Agar bisa tetap memantau keadaa
Usai cairan infus Ibu sudah habis, kami pulang ke rumah dua lantai untuk sementara waktu agar bisa memantai keadaan Ibu yang belum sepenuhnya pulih. Ibu dan Syntia menatap bingung saat mobil sudah berhenti di depan pagar. Ibu terlihat tidak enak, tetapi tidak bicara apapun. Aku menekan bel agar Rani membukakan pagar. Tidak lama kemudian gadis itu sudah keluar. Saat pagar terbuka, mobil pegawai Hanin masuk. Aku berjalan mengikuti di belakang. “Kamu turun dulu Don. Pasti capek nunggu kita seharian ini,” ucapku pada pegawai Hanin yang siang ini bertugas sebagai sopir dadakan kami. Aku memang sudah mengenal beberapa pegawai Hanin yang sudah lama bekerja dengannya. Salah satunya adalah Doni. Karena Doni sering menemani Hanin jika ada pekerjaan di luar. Dia juga sudah di angkat sebagai manajer toko dan memegang semua pekerjaan saat Hanin sibuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai programmer. “Terima kasih Mbak. Maaf merepotkan.” Meski bicara seperti itu, Doni tetap terkekeh pelan. “Nggak
Keesokan harinya kami pergi ke rumah Pak RT untuk minta bantuan. Kebetulan sekali ketua RW yang menjabat saat masalah keluarga Rani berlangsung adalah paman beliau. Sehingga Pak RT bisa mendapat berkas yang masih disimpan oleh pamannya selama puluhan tahun. Rani sudah membawa semua persyaratan yang
Aku berdehem untuk mencairkan suasana. Membuat Mawar dan Melati sontak menyalami tangan Mas Aksa. Baru menyalami tangan Bapak yang tampak riang saat mengecup kening kedua cucunya. Bapak sudah lebih dulu duduk di sofa panjang. Mas Aksa meletakan plastik berisi buah naga dan pisang yang ia bawa.“Ayah
“Motif Budi dan Ana sama persis dengan Varo. Bedanya mereka lelah menjadi penghibur untuk orang-orang kaya karena itulah ingin mengambil harta kita. Kali ini tidak hanya Mbak Nia yang di incar, tetapi juga aku. Jika mendengar percakapan Ana dan Budi, sepertinyai nyonya yang dimaksud bisa membantu un
Saat menoleh ke belakang terlihat Rani sudah berdiri di belakangku dengan wajah sembap. Dia pasti baru saja menangis hingga suaranya serak. Hampir saja aku ketakutan karena mengira jika Rani bukan manusia. Aku menggeleng sambil menunjuk keluar. Tampak pemandangan dari balik pagar. Ada juga rumah kos






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews