Di hidup kampus aku, 'nerd' dulu kedengaran seperti label nyolot yang dipakai buat mengejek: anak-anak yang dipuja kalkulator, buku tebal, dan jam mainan strategi. Di Amerika dan sebagian Eropa, istilah ini sering membawa dua wajah — satu sisi masih stereotip negatif soal kecanggungan sosial dan ketidakpedulian pada penampilan, tapi sisi lain sudah melekat dengan kebanggaan intelektual. Kamu lihat itu jelas di serial seperti 'The Big Bang Theory', di mana karakter-karakternya diledek tapi juga dijadikan pahlawan budaya pop. Di Jepang, sementara itu, kata lain seperti 'otaku' kerap dipakai dengan nuansa berbeda; ada kecintaan fanatik terhadap hobi tertentu yang kadang dipandang aneh oleh masyarakat umum, namun juga menghasilkan komunitas-komunitas kuat yang menggerakkan industri komik dan figur koleksi.
Di Brasil dan beberapa negara Amerika Latin aku pernah dengar 'nerd' dipadankan dengan kata untuk kutu buku, tapi ada gelombang reclaiming: orang muda bangga menyebut diri mereka 'nerd' karena itu berarti mereka passionate dan berpengetahuan. Di India dan banyak negara Asia lainnya, maknanya sering tergantung kelas sosial dan kurikulum pendidikan — menjadi 'nerd' bisa berarti masa depan yang stabil lewat profesi teknik atau medis. Di sisi lain, di Inggris kata itu bisa dipakai ringan sebagai ejekan santai di antara teman, mirip sapaan lebih daripada hinaan.
Jadi intinya, perbedaan budaya membuat kata itu fleksibel: dari hinaan ke label identitas yang direbut kembali. Aku suka melihat bagaimana komunitas global mengubah kata ini jadi sesuatu yang penuh warna — kadang lucu, kadang serius, tapi selalu beresonansi dengan pengalaman manusia yang ingin dicintai karena apa yang mereka sukai.