Pria Alfiyah
"Astagfirullah, Nak. Jangan mengatakan seperti itu. Ibu mencoba tersenyum setiap detik, itu bukan berarti Ibu melupakan Ranala. Kamu anak Ibu satu-satunya, Ibu tidak ingin kamu terjerumus pergaulan zaman sekarang."
Ruangan tamu lengang, menyisakan gemercik kolam air di depan teras rumah. Ayah Aini, ikut bersuara, "Ada apa ini?" Pak Amar memegang pundak Ibu Aidah, kemudian melihat Aini yang sedang menangis.
"Tidak apa-apa, Ayah." Aini yang menjawab.
"Kenapa menangis?" Pak Amar bertanya kembali.
"Tadi kami sedang memandangi foto-foto Ranala bersama Aini. Tidak disengaja, air mata kami mengalir." Ibu Aidah kali ini yang bersuara.
Hot Chapters