Cahaya Hidupku
Perempuan simpanan Ervando sedang merajuk lagi.
Ervando menyerahkan Surat Perjanjian Cerai padaku.
"Tandatangani saja, cuma formalitas untuk menenangkan cewek itu."
Aku mencengkeram ujung rokku erat-erat, mengangguk.
Dengan tenang aku menandatangani namaku.
Saat pergi, aku mendengar teman-temannya bercanda, "Dia ini sungguh penurut, ya? Jangan-jangan kalau kamu suruh dia ambil akta cerai pun, dia bakal diam saja tanpa protes?"
Ervando dengan senang hati menyalakan sebatang rokok.
"Mau bertaruh?"
Mereka bertaruh bahwa sebulan kemudian di kantor catatan sipil, aku akan menangis tersedu-sedu, tetapi tetap patuh, tanpa keluhan menukar akta nikah dengan akta cerai.
Aku menggenggam ponselku, tidak bersuara.
Hanya membalas pesan yang baru saja masuk:
[Kalau begitu, kamu menikah saja denganku, apa nggak bisa?]
[Bisa.]