Legenda Dewa Pedang
Bata-bata hitam yang tersusun rapat memantulkan cahaya matahari pagi yang masih pucat, membuat seluruh benteng tampak dingin dan keras.
Di atasnya, bendera kerajaan berkibar tertiup angin.
Kain merah emas itu berderak pelan, seperti peringatan bagi siapa pun yang berani mendekat.
Namun sesuatu terasa… tidak biasa.
Mei Shia memperlambat langkahnya.
Matanya yang tajam menyapu garis tembok.
Gerbang utama kota terlihat jelas dari kejauhan—biasanya ramai oleh pedagang, kereta, dan warga yang keluar-masuk sejak fajar.