Membaca 'hidden love' membuat aku merasa seperti sedang membuka buku harian yang tertutup rapat — ada desah, ada rahasia, dan ada rasa bersalah yang lembut.
Ceritanya memang berputar di sekitar hubungan yang tidak bisa dipajang ke publik: kedekatan yang tumbuh di sela-sela norma sosial dan kebiasaan, kesempatan yang datang di tengah batasan, serta dilema moral antara mengutamakan perasaan sendiri atau menghormati ikatan lain. Tokoh-tokohnya ditulis dengan nuansa, jadi bukan sekadar label 'dilarang' melainkan rangkaian alasan, alasan yang manusiawi: kesepian, ketertarikan tak terduga, atau luka lama yang membuat mereka mencari penghiburan. Aku suka bagaimana penulis tidak cuma menempelkan stigma; mereka mengeksplorasi konsekuensi emosionalnya.
Di beberapa bagian aku merasa sedih dan marah sekaligus—bukan hanya pada karakter, tapi pada sistem yang membentuk situasi itu. Di bagian lain, ada kehangatan kecil yang membuatmu paham kenapa orang bisa jatuh dalam cinta yang seharusnya tak terjadi. Jadi, ya, 'hidden love' memang berkisah tentang cinta yang terlarang, tapi diceritakan dengan kedalaman yang bikin hati ikut bertanya, bukan sekadar menghakimi.