Tukang Pijat Tampan
"Nak Adit, kalau boleh Ibu tahu, kota asalmu di mana? Dan bagaimana ceritanya anak muda sepertimu bisa terombang-ambing begitu jauh?"
Adit menunduk sejenak, memasang raut wajah yang tampak getir dan sarat akan beban hidup. "Sebenarnya... hidup saya belakangan ini sedang dirundung sial beruntun, Pak, Bu. Beberapa minggu lalu di kota asal saya, rumah saya mengalami kebakaran hebat. Semua harta benda, surat-surat berharga, dan tabungan saya habis tak bersisa. Saya sebatang kara dan tidak punya apa-apa lagi."
Bu Sarah langsung menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. "Ya Allah... kasihan sekali."