Ratri, seorang istri yang harus menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh kebohongan. Nafkah jauh dari kata cukup, membuatnya harus hidup hemat dan memutar otak setiap kali berganti hari. Namun, setelah rahasia besar sang suami terungkap, Ratri yang semula hanya wanita lemah, kini bangkit berusaha menjadi wanita mandiri dengan keahlian yang terpendam di dalam dirinya. Dengan keahliannya itu, siapa sangka membuat Ratri mampu merubah nasib dirinya dan juga anaknya.
Lihat lebih banyakBulan sudah lama naik menggantikan matahari. Udara yang dingin tak menyurutkan niat orang-orang untuk keluar. Berlalu lalang menikmati suguhan yang ada. Kota tempat Ivander tinggal tak pernah sepi, selalu ramai dengan berbagai macam manusia. Baik itu warga sekitar atau turis luar. Di sini kehidupan malam bukan hal yang aneh. Malah menjadi bagian yang menjadi daya tarik tersendiri.
Berkat itu pula Ivander tidak perlu mendapatkan tatapan menuduh dan mencemooh karena sering pulang malam, dan berjalan-jalan tak tentu arah di pinggir trotoar. Lagipula, kebanyakan orang yang tinggal di daerah sini enggan untuk mengurusi urusan orang lain. Mungkin hanya beberapa yang sering ikut campur. Sisanya memilih bersikap tak peduli karena permasalahan mereka sendiri sudah merepotkan.
“Kamu di mana, Ivander?” Suara wanita dari telepon yang tersambung tersebut menanyakan keberadaan Ivander.
“Ayo tebak aku dimana?” Ivander menjawab ringan dengan tawa pelan.
“Apa sih, ngga usah main-main, Ivander. Kamu tahu aku benci kalau kamu kaya gitu.” Wanita itu sedikit menaikkan nada suaranya.
Ivander menghela napas. Tarikan napasnya berat. Padahal baru beberapa menit ia menikmati angin segar yang berembus, tetapi seseorang sudah mengganggunya.
“Maaf, Areeya,” balas Ivander mengalah, tidak ingin memicu kemarahan Areeya.
“Aku tunggu di penthouse-ku! Jangan lama-lama.”
Setelah memerintah dengan nada arogan, Areeya memutuskan panggilan. Ivander hanya bisa mendengkus atas perlakuan menyebalkan Areeya. Bukan pertama kali wanita itu bersikap seenaknya. Sikap Areeya yang suka memerintah menjadi makanan sehari-hari. Areeya tidak menerima penolakan. Mengontrol Ivander adalah satu dari sekian banyak hal yang disukainya.
“Gara-gara dia aku jadi ngga bisa bebas menggunakan waktu liburku,” gumam Ivander dramatis. Ia mendongkak sejenak untuk memerhatikan langit tanpa bintang. Senyum kecil terbit di bibirnya.
“Cantiknya.” Walaupun ucapan Ivander memuji dan terdengar seperti menganggumi, nyatanya tatapan pria itu kosong. Setelahnya, Ivander melangkahkan kaki ke arah kerumunan orang yang tengah menyeberang, ikut berbaur menyembunyikan dirinya di sana.
***
Penthouse mewah tempat Ivander dan Areeya biasa bertemu berjarak tidak terlalu jauh dari posisi Ivander tadi. Kurang dari lima belas menit ia sudah sampai. Ivander menekan bel satu kali, dan menunggu Areeya membuka pintu. Areeya muncul dengan mengenakan bathrobe putih.
“Kenapa menekan bel segala? Kamu kan bisa langsung masuk aja.” Areeya berdiri dengan tangan menyilang angkuh.
“Ngga sopan kalau aku langsung masuk.” Jawaban diplomatis Ivander membuat Areeya menekuk bibirnya. Ia lalu masuk lebih dulu, disusul Ivander di belakang.
Ruangan itu gelap. Hanya cahaya dari luar yang menjadi penerangan. Areeya sengaja tidak menyalakan lampu. Di atas meja terdapat satu botol wine dan gelas yang berisi cairan merah tersebut.
Areeya duduk di single sofa. Ia mengambil gelas berisi wine miliknya dan menyesapnya perlahan. Sepasang mata berwarna coklat terang menatap lurus ke arah Ivander yang berdiri di hadapannya.“Kamu habis dari mana?”
Belum sempat Ivander melepas mantelnya, Areeya lebih dulu mengintrogasi dengan pandangan memicing curiga.
“Jangan bilang kalau kamu ketemu sama wanita lain sebelum ke sini?” Ada nada tidak suka dari suara Areeya yang sedikit melengking.
Meski jengkel dengan tuduhan tersebut, Ivander justru membalas dengan senyum menawan miliknya. Ia mendekat pada Areeya lalu bersimpuh di depan wanita itu.“Kamu cemburu?”
Areeya berjengit pelan ketika bibir hangat Ivander mengecup lembut lututnya, juga atas pernyataan pria itu yang terdengar sedikit menyebalkan. “Mana mungkin!” Ia membantah keras namun tak urung rona merah menjalar di pipi serta cuping telinga. Setelah dipikirkan kembali, Areeya merasa seperti gadis remaja yang cemburu tatkala kekasih pertamanya telat datang di kencan pertama mereka.
Demi mengembalikan harga diri yang sempat sedikit tercoreng, Areeya segera mengubah ekspresinya kembali normal seolah kejadian tadi tidak pernah ada.
“Ikut aku ke ruang merah.”
Perintah itu mutlak, hingga mau tak mau Ivander mengikuti Areeya dari belakang ke ruang merah. Ruang yang ia hindari dan juga sangat ia benci. Tanpa sadar raut wajah Ivander menggelap.
“Kenapa? Kamu ngga suka kita pindah ke ruang merah?” Areeya tersenyum miring. Jelas sekali wanita itu tengah mengejek Ivander.
“Hmm … aku justru ngga sabar permainan seperti apa yang bakal kamu lakukan, Areeya.”
Suara tawa Areeya mengalun merdu. “Tenang aja. Aku ngga bakal kecewain ekspektasi kamu.” Ia berbalik dan membuka satu-satunya pintu berwarna putih bersih yang berada di ujung koridor.
Berbeda dengan Areeya yang tampak senang dan bersemangat, Ivander justru kembali muram. Bulu kuduk pria itu meremang dengan keringat dingin yang mengalir di pelipis. Jantungnya pun berdetak cepat hingga terdengar berisik di gendang telinga, melumpuhkan suara-suara lain yang seharusnya terdengar.
Ia ketakutan.
“Ayo, kenapa kamu ngga masuk?” Areeya bertanya dengan senyum mengejeknya.
Ivander menarik napas panjang, berusaha meredekan gemuruh di dada. “Ya, Areeya,’’ balasnya sembari melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ruangan itu masih sama sejak Ivander terakhir kali menginjakan kaki di sana dulu. Tata ruangnya tidak berbeda dengan rungan lain. Satu-satunya hal janggal yang berada di ruangan itu adalah benda-bendanya.
Areeya menggiring Ivander ke salah satu sudut, tepat di mana sepasang tiang dengan rantai menjulur berada.“Buka semua bajumu, Ivander.”
Sorot mata Areeya yang dingin dan nada perintah yang sulit untuk ditolak membuat Ivander bergetar oleh berbagai emosi.
“Apa aku harus mengulangi perintahku?” Sebelah alis Areeya terangkat ke atas.
“Ngga perlu.” Ivander melepas satu persatu kancing kemejanya dengan gerakan lambat. Disusul dengan celana jeans-nya yang terlepas tanpa kesulitan berarti.
Seulas senyum tipis terbentuk di wajah saat melihat bahwa Areeya tengah menahan napas, menunggu ia melepas bokser hitam yang masih menempel. Ia dengan sengaja hanya memainkan ujung kain tipis tersebut.
“Kenapa ngga dilepas?” Dahi Areeya mengkerut tidak suka.
“Kamu ngga mau melepasnya untukku?”
“ … Kamu mulai berani merintah aku?”
Nada rendah penuh peringatan itu sedikit menciutkan keberanian Ivander. Apalagi ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi kalau Areeya benar-benar kesal.
“Maaf, sekilas aku lupa posisiku.”
Ivander melepas bokser hitamnya. Seketika suhu dingin AC memeluk tubuh Ivander, membelai kulitnya dengan mesra.
“Berlutut dan angkat kedua tangan kamu ke atas.”
Dengan patuh Ivander melakukan perintah Areeya. Ujung rantai yang dilapisi borgol, Areeya pasangkan di kedua pergelangan tangan Ivander, membatasi gerakan pria itu dan membuatnya hanya bisa pasrah dengan semua hal yang akan ia lakukan.
Areeya mencampakkan bathrobe-nya, lalu mengambil salah satu cambuk dari kulit kuda yang terpajang di dinding.
“Pertama-tama aku harus hukum kamu dulu.” Ia mengeluskan ujung cambuk tersebut ke pipi Ivander seraya memutar dengan langkah pelan ke belakang Ivander. Kali ini ujung cambuk tersebut menyentuh punggung kokoh pria itu.
“Mungkin bakal sedikit sakit karena udah lama kita ngga main, hm?”
Tanpa peringatan Areeya melepaskan cambukan pertama pada Ivander.
“Fuck … !” Sumpah serapah keluar dari bibir Ivander. Bukan karena sakit, tetapi karena kaget.
Areeya sendiri malah tertawa pelan melihat Ivander yang nampak kesakitan. Ia kembali menggerakan mainannya dengan gerakan pelan.
“Nikmati, Ivander. Aku yakin kamu bakal suka.”
Ucapan Areeya bagai mantra, di cambukan berikutnya entah bagaimana Ivander justru merasakan bagian bawah tubuhnya terasa menggelitik.
Ivander berusaha untuk menikmati dan memanfaatkan keadaannya saat ini. Ia mengikuti insting binatangnya untuk kenikmatan.
Namun Areeya selalu punya cara untuk menyiksa Ivander.
Kedua telapak tangan Areeya yang tiba-tiba melingkupi leher Ivander, berusaha mencekiknya dengan sekuat tenaga hingga Ivander kesulitan untuk bernapas.
“Areeya … ?” Tepat sebelum pandangan Ivander menggelap, kebencian melintas di pupil mata Areeya yang bergetar.
***
Selain meninggalkan ponsel baru untuk Gina. Lena pun meninggalkan nomornya, supaya Gina menghubunginya.Gina kemudian menghubungi Lena untuk mengucapkan terima kasih. Lena begitu perhatian. Bersyukur ia memiliki ibu sambung sepertinya. Selain itu, Gina juga menanyakan kabar tentang orang tuanya. Belum begitu lama tinggal di kampung, Gina merasa sangat merindukan mereka. Entah sedang apa mereka, apakah mereka masih sibuk mencari Gina?Telepon pun tersambung, Lena segera mengangkatnya."Halo, Bunda. Bunda di mana sekarang? Maaf, tadi kata Nenek saat Bunda berkunjung, akunya nggak ada di rumah. Aku sedang ada urusan di luar. Oh iya, terima kasih banyak ya, Bun ponsel dan uangnya. Kebetulan sekali aku sangat membutuhkan ponsel ini," ucap Gina."Halo, Sayang. Iya tidak apa-apa. Bunda ada di jalan, sebentar lagi sampai di rumah," sahut Lena."Em ... Bunda, bagaimana kabar ayah? Terus ibu dan ayah Saga? Bunda juga apa kabar? Kangen aku sama kalian," imbuh Gina."Kabar ibu dan ayah Saga baik-
Beberapa saat kemudian, Farrel dan tim kepolisian kembali dengan tangan kosong. Rumiah telah lolos dari kejaran mereka. Sehingga membuat Rumiah ditetapkan menjadi DPO."Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi, kami akan berusaha semaksimal mungkin, untuk mencari keberadaan saudari Rumiah." Polisi pun pamit dari rumah Farrel."Bagaimana ini? Keadaan ini belum aman jika Rumiah masih bebas berkeliaran. Bisa saja sewaktu-waktu, dia kembali mencari Ayah dan memaksa lagi untuk memberikan semua milik Ayah. Bahkan tak segan membuat Ayah menderita lagi." Farrel merasa khawatir.Mereka terdiam untuk beberapa saat. Namun, beberapa saat kemudian Gina mengutarakan pendapatnya."Em ... Bagaimana kalau Om Romi ikut kita ke kampung saja, Rel. Sekalian kita jelaskan kepada ibu kamu," imbuh Gina.Farrel menoleh ke arah ayahnya. Pak Reno pun ikut menimpali, "Ide yang bagus. Memang sebaiknya untuk sementara waktu, Ayah kamu harus kamu bawa dari rumah ini. Bahaya jika dibiarkan tinggal sendirian, seme
"Ya Tuhan, Gina!" teriak Rumiah, ketika Gina terbatuk dan menyemburkan air di dalam mulutnya pada berkas itu."Aduh, maaf-maaf. Aku tidak sengaja, biar aku bersihkan berkasnya," ucap Gina.Gina kemudian merebut berkas itu, lalu berusaha mengeringkannya menggunakan ujung kerudung yang dipakainya."Ya ... Sobek," ujar Gina.Rumiah melotot tajam, melihat apa yang dilakukan oleh Gina. Namun, pak Reno dan juga Farrel menahan tawa atas apa yang terjadi."Kamu, ya! Kamu apakan berkas ini? Kurang ajar kamu, Gina!"Rumiah melayangkan tamparan ke arah Gina. Namun, secepatnya Farrel menahan tangan Rumiah."Berani menampar dia, maka rekaman itu akan aku berikan ke polisi dan aku sebar luaskan." Farrel memberi ancaman.Rumiah menepis tangan Farrel, ia berbalik badan menghadap Farrel."Rekaman apa yang kamu maksud? Bukankah rekaman itu sudah aku hapus? Jangan main-main denganku, Farrel. Aku tidak bisa kamu kelabuhi. Aku bukan wanita bodoh seperti yang kamu pikirkan," cetus Rumiah.Farrel tertawa be
Rumiah membeliak, saat melihat kak Reno memperlihatkan rekaman kejahatannya barusan. Farrel, Gina dan pak Reno tersenyum puas atas bukti yang telah mereka dapatkan."Sialan kalian semua, ternyata kalian menjebakku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku hanya menuntut hakku sebagai istri Romi. Tapi kalian, berani-beraninya merekamku tanpa sepengetahuanku," ujar Rumiah.Romi bangkit lalu berdiri, ia menimpali ucapan Rumiah, "Apa? Hak? Jelas-jelas aku sudah menjatuhkan talak terhadap kamu. Lagi pula, kita hanya menikah secara siri. Jadi, tidak ada hak untuk kamu menguasai apa yang aku punya.""Jelas aku punya hak, kamu hanya memberikan sebagian kecil uang dan perhiasan. Kamu jangan hanya mau enaknya saja, Romi!" sarkas Rumiah."Kamu tidak bisa bersyukur, Rumiah. Aku sudah menolongmu dari garis kemiskinan. Aku menikahi kamu, karena aku kira kamu baik. Tapi ternyata, kamu tidak lebih dari seekor ular. Beruntung aku hanya menikahi kamu secara siri. Kamu tidak ada bedanya dengan seorang penipu. K
Dua hari kemudian, Farrel bergegas membawa kembali ayahnya untuk pulang. Terpaksa ia dan Gina tidak pulang ke kampung, karena urusan bersama ayahnya sangat penting, demi menyelesaikan misinya.Sesampainya di rumah, Romi kembali dipakaikan baju yang terakhir kali ia pakai di rumah itu. Walau pun sudah tidak nyaman. Namun, demi mengelabuhi Rumiah, Romi harus memakainya lagi.Tidak hanya itu, Farrel juga sengaja menyimpan sedikit makanan mentah di atas lantai. Seolah-olah Romi telah memakan makanan itu demi bertahan hidup.Tepat pada siang hari, Farrel, Gina dan pak Reno kembali bersembunyi saat terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah. Namun, sebelumnya pak Reno telah menyimpan sebuah kamera tersembunyi di kamar itu, untuk merekam aksi kejahatan yang akan dilakukan Rumiah."Semoga rencana ini berhasil, ya Tuhan. Aku ingin melihat Ayah dan Ibu kembali bersama lagi seperti dulu, bahagia tanpa ada wanita jahat itu. Tuhan, tolong permudah jalan kami untuk mengungkap semuanya di ha
Romi menelan sedikit demi sedikit air kelapa itu. Walau pun sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan. Namun, ia masih bisa menelan cairan yang diberikan oleh pak Reno.Romi telah menghabiskan air kelapa itu satu botol. Pak Reno membiarkan Romi setelah meminum air itu, menunggu reaksi air kelapa yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya.Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Romi sedikit demi sedikit mulai bisa menggerakkan tangannya. Hal itu membuat Farrel senang."Ayah coba gerakkan kakinya," ujar Farrel.Walau pun belum pulih sepenuhnya, sedikit demi sedikit kaki Romi pun mulai bisa di gerakkan. Romi pun kembali bisa berbicara walau pun belum lancar sepenuhnya."Aku akan panggilkan dokter, Romi. Kamu butuh dokter untuk memeriksa keadaan kamu," ujar pak Reno."Em ... Pak, apa nggak sebaiknya kita bawa saja Ayah ke rumah sakit? Lagi pula, wanita itu sudah pergi," sahut Farrel memberi usul."Ya, kamu benar, Farrel. Ayok, kita bawa Ayah kamu ke rumah sakit. Saya akan siapkan mobil saya dulu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen