LOGINRatri, seorang istri yang harus menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh kebohongan. Nafkah jauh dari kata cukup, membuatnya harus hidup hemat dan memutar otak setiap kali berganti hari. Namun, setelah rahasia besar sang suami terungkap, Ratri yang semula hanya wanita lemah, kini bangkit berusaha menjadi wanita mandiri dengan keahlian yang terpendam di dalam dirinya. Dengan keahliannya itu, siapa sangka membuat Ratri mampu merubah nasib dirinya dan juga anaknya.
View MoreAku terbangun dalam tidurku. Kuraih handphone yang terletak di atas laci yang ada di sebelah ranjang tempat tidur. Hari menunjukan pukul 01.20 dini hari. Aku pergi keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum karena aku haus. Kulangkahkan kaki perlahan keluar kamar. Di perjalan menuju dapur, aku di kagetkan dengan suara seseorang. Aku pikir itu mungkin dari kamar kakakku yang letaknya berdekatan dengan kamarku. Tapi aku salah, suara itu ternyata bukan dari kamar kakakku mbak Lara. Akupun penasaran dengan suara itu. Aku terus telusuri darimana suara itu berasal. Suara itu sangat kuat berasal dari ruang tamu yang ada di depan. Ku segerakan mengintip siapa yang membuat suara itu. Alangkah kagetnya aku melihat ada seseorang yang duduk di sofa ruang tamu.
Orang itu adalah mas Dika, ia sedang melakukan sesuatu yang membuat mataku terbelalak. Ya, mas Dika sekarang dalam keadaan telanjang dan mengusap - usap alat kelaminnya sambil menonton sebuah video dari handphonenya. Kurasa mas Dika sedang menonton video panas. Kulihat mas Dika sangat menikmati sekali saat dia menonton video itu. Dimulutnya terdengar suara desahan yang sangat kuat. "Aahh...hmmms... Ohhh... Mhmm..." Desah mas Dika. Dia terus mengusap alat kelaminnya itu. Tampak sesekali mas Dika memberikan cairan pelumas di alat kelaminnya itu. Yang membuat aku terbelalak, batang kemaluannya itu sangat besar. Aku belum pernah melihat kemaluan sebesar itu. Mungkin panjangnya lebih dari 17 cm. Mungkin saja mencapai 20 cm. Dan ukurannya juga sangat luar biasa. Mas Dika terus mengocok - ngocok batang kemaluannya yang super itu. "Ohhhh... Ssstthhh... Aahh....." Mulut mas Dika seakan tak bisa diam. Dia menggigit halus bibirnya yang merah itu. Aku terdiam berdiri melihat mas Dika yang sedang masturbasi. Aku terpelongo memandang tubuh mas Dika yang sangat seksi itu. Di tubuhnya mengeluarkan keringat, sehingga tampak tubuhnya mengkilat dan membuat aku terlena. Aku sangat menikmati pemandangan indah ini. Ketika melihat mas Dika sedang telanjang bulat dan memainkan batang kemaluannya itu. Badanku seakan terasa panas. Mungkinkah aku sedang bergairah menononto mas Dika yang tengah bermasturbasi. Aku tak tahu entah perasaan apa ini yang timbul dalam benakku. Aku seakan terbawa melayang dalam gairah yang seharusnya tidak boleh aku rasakan. Mas Dika adalah suami kakakku, mbak Lara. Aku tak mungkin menyukai mas Dika dan menikung kakakku sendiri. Tapi perasaan tak bisa aku bohongi. Aku memang mengagumi sosok abang iparku ini. Betapa beruntungnya mbak Lara mendapatkan suami seperti mas Dika. Orang sangat gagah, tubuhnya sangat proposional dan dia juga orang yang sangat baik. Ditambah lagi dia memiliki sesuatu yang sangat di sukai banyak kaum wanita. Ukuran alat kelaminnya yang diatas rata - rata pria pada umumnya. Mas Dika terus mengerang dan mendesah menikmati permainannya sendiri. Andai saja kalau aku yang jadi isttinya, tentu aku tak akan melewatkan kesempatan ini. Akan ku datangi mas Dika dan melahap kamaluan mas Dika yang super itu. Tak sengaja aku ikut mendesah mendengar dan melihat mas Dika mendesah. Kuraba - raba dadaku dengan tangan kananku yang semakin membusung melihat tubuh mas Dika itu. Tangan kiriku kemudian mulai turun menyentuh kemaluanku sendiri dan mulai mengusap - usapnya. Kurasakan ada cairan lendir yang keluar dari belahan selangkanganku itu. Aku ikut terbawa suasana menonoton mas Dika yang lagi masturbasi itu. "Oohhh mas Dika" rintihku dalam hati. Aku mulai menggigit halus bibirku. Aku sangat menikmati tontonan gratis secara live itu. Mas Dika membuatku makin bergairah. Aku membayangkan seandainya mas Dika yang menjadi suamiku, berapa beruntungnya aku bisa menikmati tubuh yang indah itu. Aku merasakan di genjot dengan senjata mas Dika itu, pasti sangat nikmat sekali. Aku makin kepanasan, tubuhku mengeluarkan cairan keringat yang mulai membasahiku. Rasa haus yang tadi menerpaku, kini hilang digantikan rasa yang belum pernah aku rasakan selama ini. Aku memang pernah melihat tubuh telanjang seorang pria, tapi itu hanya berupa foto ataupun video. Sekarang aku melihatnya secara nyata, tepat di depan mata kepala ku sendiri. Dan yang tak pernah aku duga sama sekali, orang itu adalah mas Dika suami kakak kandungku sendiri. Aku rasa tidak tahan lagi, nafasku mulai tak terkendali. Mataku seakan tak mau berkedip untuk melewatkan pemandangan yang indah ini. "Ohh mass Dika!" Aku mendesah menikmati. Cukup lama aku menonton mas Dika, sampai mas Dika melenguh menikmati tangannya sendiri. "Ouuhhh... Hhhmmm..." Mas Dika telah mencampai puncaknya. Kulihat mas Dika menyemprotkan air maninya dengan kuat. Pinggulnya dia angkat - angkat saat ia menembakkan cairan putih kental miliknya itu. Sialnya aku, pada saat mas Dika sedang menikmati keluarnya cairan - cairan kentalnya. Aku tak sengaja membuat suara. Aku menyentuh vas bunga yang ada diatas meja hingga terjatuh. Mas Dika kaget dan menghadap kearahku. "Elsa! Kamu ngangapain disitu?" Ucap mas Dika terbata - bata. Ia kemudian bangkit dalam keadaan telanjang bulat dihadapanku. Kulihat batang kemaluan itu masih saja tegang dan besar. "E e enggak Mas! Tadi aku nggak sengaja menjatuhkannya? Mamaksud aku, aku tak sengaja melihat Mas disini." Akupun merasa sangat grogi ketika ketahuan sama mas Dika. Mas Dika kemudian mengambil celananya dan memakainya buru - buru untuk menutupi kemaluannya yang sudah mulai layu. "Sejak kapan kamu ada di sana Elsa?" Mas Dika penasaran sejak kapan aku melihatnya sedang masturbasi. "Babaru sebentar Mas! Tadi aku haus dan ingin ambil minum kebelakang, tapi aku mendengar sesuatu di sini dan melihat mas sedang itu... Anu Mas!" Aku masih terbata - bata menjawab pertanyaan mas Dika. "Ya sudahlah Elsa. Kamu lanjut saja ambil minumnya! Kemudian kamu lanjut tidurnya. Hari masih malam!" Mas Dika menyuruhku pergi meninggalkannya. "Babaik Mas!" Aku sangat salah tingkah memandang mas Dika. Aku juga merasa sangat bersalah dengan mas Dika. Aku pikir mungkin dia sangat malu ketahuan olehku kalau ia sedang bermasturbasi sendiri. Aku buru - buru pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Kutegak sekaligus air putih itu. Dan kuambil lagi, terus aku minum. Entah berapa gelas aku minum, rasanya perutku langsung kenyang karena minum. Aku kembali masuk ke kamarku. Aku tak mau memperhatikan mas Dika lagi. Karena aku juga merasa sangat malu karena ketahuan olehnya sedang mengintip dirinya. Di dalam kamar aku langsung merebahkan badanku diatas ranjang. Mas Dika masih terbayang dalam ingatanku. Aku masih belum bisa melupakan kejadian tadi. Tubuh mas Dika yang sangat seksi itu terus terngiang - ngiang dalam benakku. Aku juga masih membayangkan bagaimana ekspresi wajah mas Dika saat dia melakukan masturbasi di hadapanku. Wajahnya yang ganteng itu sangat menggoda. "Oh mas Dika! Seandainya kamu milikku!" Aku masih saja menghayalkan mas Dika kalau aku adalah istrinya, bukannya mbak Lara.Selain meninggalkan ponsel baru untuk Gina. Lena pun meninggalkan nomornya, supaya Gina menghubunginya.Gina kemudian menghubungi Lena untuk mengucapkan terima kasih. Lena begitu perhatian. Bersyukur ia memiliki ibu sambung sepertinya. Selain itu, Gina juga menanyakan kabar tentang orang tuanya. Belum begitu lama tinggal di kampung, Gina merasa sangat merindukan mereka. Entah sedang apa mereka, apakah mereka masih sibuk mencari Gina?Telepon pun tersambung, Lena segera mengangkatnya."Halo, Bunda. Bunda di mana sekarang? Maaf, tadi kata Nenek saat Bunda berkunjung, akunya nggak ada di rumah. Aku sedang ada urusan di luar. Oh iya, terima kasih banyak ya, Bun ponsel dan uangnya. Kebetulan sekali aku sangat membutuhkan ponsel ini," ucap Gina."Halo, Sayang. Iya tidak apa-apa. Bunda ada di jalan, sebentar lagi sampai di rumah," sahut Lena."Em ... Bunda, bagaimana kabar ayah? Terus ibu dan ayah Saga? Bunda juga apa kabar? Kangen aku sama kalian," imbuh Gina."Kabar ibu dan ayah Saga baik-
Beberapa saat kemudian, Farrel dan tim kepolisian kembali dengan tangan kosong. Rumiah telah lolos dari kejaran mereka. Sehingga membuat Rumiah ditetapkan menjadi DPO."Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi, kami akan berusaha semaksimal mungkin, untuk mencari keberadaan saudari Rumiah." Polisi pun pamit dari rumah Farrel."Bagaimana ini? Keadaan ini belum aman jika Rumiah masih bebas berkeliaran. Bisa saja sewaktu-waktu, dia kembali mencari Ayah dan memaksa lagi untuk memberikan semua milik Ayah. Bahkan tak segan membuat Ayah menderita lagi." Farrel merasa khawatir.Mereka terdiam untuk beberapa saat. Namun, beberapa saat kemudian Gina mengutarakan pendapatnya."Em ... Bagaimana kalau Om Romi ikut kita ke kampung saja, Rel. Sekalian kita jelaskan kepada ibu kamu," imbuh Gina.Farrel menoleh ke arah ayahnya. Pak Reno pun ikut menimpali, "Ide yang bagus. Memang sebaiknya untuk sementara waktu, Ayah kamu harus kamu bawa dari rumah ini. Bahaya jika dibiarkan tinggal sendirian, seme
"Ya Tuhan, Gina!" teriak Rumiah, ketika Gina terbatuk dan menyemburkan air di dalam mulutnya pada berkas itu."Aduh, maaf-maaf. Aku tidak sengaja, biar aku bersihkan berkasnya," ucap Gina.Gina kemudian merebut berkas itu, lalu berusaha mengeringkannya menggunakan ujung kerudung yang dipakainya."Ya ... Sobek," ujar Gina.Rumiah melotot tajam, melihat apa yang dilakukan oleh Gina. Namun, pak Reno dan juga Farrel menahan tawa atas apa yang terjadi."Kamu, ya! Kamu apakan berkas ini? Kurang ajar kamu, Gina!"Rumiah melayangkan tamparan ke arah Gina. Namun, secepatnya Farrel menahan tangan Rumiah."Berani menampar dia, maka rekaman itu akan aku berikan ke polisi dan aku sebar luaskan." Farrel memberi ancaman.Rumiah menepis tangan Farrel, ia berbalik badan menghadap Farrel."Rekaman apa yang kamu maksud? Bukankah rekaman itu sudah aku hapus? Jangan main-main denganku, Farrel. Aku tidak bisa kamu kelabuhi. Aku bukan wanita bodoh seperti yang kamu pikirkan," cetus Rumiah.Farrel tertawa be
Rumiah membeliak, saat melihat kak Reno memperlihatkan rekaman kejahatannya barusan. Farrel, Gina dan pak Reno tersenyum puas atas bukti yang telah mereka dapatkan."Sialan kalian semua, ternyata kalian menjebakku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku hanya menuntut hakku sebagai istri Romi. Tapi kalian, berani-beraninya merekamku tanpa sepengetahuanku," ujar Rumiah.Romi bangkit lalu berdiri, ia menimpali ucapan Rumiah, "Apa? Hak? Jelas-jelas aku sudah menjatuhkan talak terhadap kamu. Lagi pula, kita hanya menikah secara siri. Jadi, tidak ada hak untuk kamu menguasai apa yang aku punya.""Jelas aku punya hak, kamu hanya memberikan sebagian kecil uang dan perhiasan. Kamu jangan hanya mau enaknya saja, Romi!" sarkas Rumiah."Kamu tidak bisa bersyukur, Rumiah. Aku sudah menolongmu dari garis kemiskinan. Aku menikahi kamu, karena aku kira kamu baik. Tapi ternyata, kamu tidak lebih dari seekor ular. Beruntung aku hanya menikahi kamu secara siri. Kamu tidak ada bedanya dengan seorang penipu. K
"Bangun, Oji!" Rumiah mengguncangkan tubuh Oji, satpam di rumah itu.Karena pertempuran semalam, Oji seakan enggan untuk membuka mata."Oji, cepat bangun!" Rumiah kembali mengguncang tubuh Oji lagi dengan cukup kencang. Membuat pria itu perlahan membuka matanya.Setelah membuka matanya, Oji menoleh ke
"Ya Tuhan ...." Ratri tak tahan mendengar ucapan wanita itu, yang terdengar sangat kurang ajar.Ratri bisa menyimpulkan, jika wanita itu adalah istrinya Rusdi. Namun, sejak kapan mereka menikah?Rahang Ratri bergemelatuk menahan amarah. Namun, sebisa mungkin ia redam. Ia tak ingin membuat kekacauan
Sungguh, apa yang dilihat Ratri itu sungguh menyakiti hatinya.Dengan tubuh gemetar, Ratri kemudian bersiap menaiki ojek yang sudah disewanya tadi. Karena sebelum pergi ke kantor Rusdi, Ratri sempat meminjam uang kepada Marni."Bang, ikuti mobil itu!" tunjuk Ratri pada mobil yang dikendarai Rusdi.
"Oke, mas. Ini baru permulaan!" gumam Ratri.Hari ini, sengaja Ratri membuatkan makanan berupa sayur katuk bening, dan menyiapkan baju ganti untuk Gina. Ia mengantarkannya ke rumah Marni, sepupunya."Mar, aku titip Gina, ya! Aku masih ada urusan yang sangat penting. Gina nggak rewel, kan? Nggak usa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore