Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)
Kadang menyenggol-nyenggol lenganku.
“Kenapa?” tanyaku pada Abang. Kepala lelaki yang rambutnya diikat itu mendongakkan kepala ke arah pintu kamar, yang menjadi kamar aku dan Abang.
Semua mata di ruangan ini memandang ke arah kami. Aku jadi salah tingkah.
“Elah, Den ... masih sore ... namanya malam pertama, ya harus malam. Kalau sore, namanya sore pertama.” Seloroh Bang Dion, paham isyarat Abang.