KAMAR KEDUA
Dari pelabuhan, Satria tidak pulang.
Ia langsung meluncur ke sebuah gedung yang nyaris tak mencolok, masuk ke lorong sempit, lalu berhenti di depan pintu ruang privat KTV. Musik mengalun pelan dari balik pintu, tapi tidak ada yang bernyanyi. Hanya irama musik klasik yang diputar untuk menutup percakapan. Tak satu pun berniat bernyanyi malam itu.
Begitu pintu dibuka, aroma pendingin ruangan dan sedikit campuran alkohol langsung menyentuh hidungnya.