ANMELDENAku tidak pernah membayangkan berada dalam keadaan seperti ini. Menjadi orang lain di kehidupan sekarang. Namaku Ardan Rakha Wisesa, biasa dipanggil Ardan. Bukan, bukan Ardan. Mereka lebih sering memanggilku Cupu, Culun, Kutu Buku dan sejenisnya. Ya, aku adalah anak laki-laki dengan ciri-ciri jelek, dekil dengan kacamata yang tidak pernah lepas dari kedua mataku. Mataku minus sekaligus silinder dan sudah cukup parah, untuk berobat aku tak mampu. Bahkan bisa sekolah pun aku sudah bersyukur. Satu keunggulan yang aku miliki adalah pintar. Itu juga yang membuatku bisa sekolah di sekolah elite ini. Sekolah tempat orang-orang kaya yang selalu menyombongkan kekayaan orang tuanya. Sedangkan aku? Hanya dijadikan sebagai target bullying di sekolah itu. Hingga pada suatu hari, bullying yang mereka lakukan sudah melewati batas wajar. Hingga membuatku berada dalam kondisi sekarang. Merubahku menjadi orang lain dan menghilangkan semua identitas asliku. Aku yang sekarang, Guntur Hastanta Haidar atau yang biasa dipanggil Guntur. Menjadi anak seorang dokter spesialis bedah plastik terkenal di kota itu. Lalu di mana Guntur yang asli? Ini yang kemudian menjadi teka-teki yang juga harus aku selesaikan selain misi balas dendam. Apakah orang tuaku tidak mencariku? Aku tinggal bersama ayah dan kakakku, mereka tidak pernah menganggap aku ada. Mereka membenciku karena kelahiranku menyebabkan kematian ibuku. Semua ini akan aku selesaikan dengan tuntas tanpa ada satu pun yang terlewat.
Mehr anzeigen"Crystal, come on, one more song!"
Greta grabbed my wrist, laughing over the music and the low buzz of the party. This wasn't just any club—it was an exclusive rooftop lounge, bathed in warm light, glass walls reflecting the city skyline. The kind of place where people seemed more focused on being admired than actually enjoying themselves. "Greta, stop. I'm exhausted." I leaned closer so she could hear me. "I have an important interview tomorrow. I can't show up looking like I survived a war." She pouted, then sighed. "Okay, fine. I'll run to the bathroom and then we'll leave. I swear." I stepped away from the dance floor and rested my elbows on the bar. Crystal glasses. Champagne flutes. Polished laughter drifting between impeccably dressed strangers. I liked watching people. Not to judge them—but to understand them. There was always something beneath the surface. A crack. A flaw. Something they worked hard to hide. I lifted my gaze—and for a brief second, I locked eyes with a man standing near one of the event organizers. He was speaking, but his attention wasn't on the conversation. It was on me. Just for a heartbeat. Then he looked away. A strange feeling stirred in my chest, but I dismissed it immediately. I didn't have time to romanticize nonsense. I checked my phone and realized Greta had been gone for ten minutes. I went looking for her and found her outside the restroom, pressed against a guy, kissing him like they were alone in a five-star hotel suite. "Greta." She pulled away with a guilty grin. "Sorry, babe! I'm going with him. Don't be mad." She gave me those wide, pleading eyes she knew always worked. "You're taking the car?" I exhaled. "Yeah. Text me when you get home." I stepped out onto the terrace. The cool night air hit me like a soft electric shock. I wasn't drunk. Just… hyper-aware. Of everything. The sounds. The lights. My own heartbeat. It was the kind of night made for walking home with headphones in, imagining a different life. Instead, I approached the doorman and asked for a car. No apps. No waiting. In that world, things simply appeared when you requested them. And I was grateful—I had no desire to stand in the freezing night hoping for a taxi. The car arrived almost immediately. Black. Polished. Windows tinted just enough to feel discreet. The driver stepped out and opened the door without a word. I offered him a small, polite smile and slipped inside. The interior was quiet. Dark leather seats. Subtle luxury. A faint, expensive scent in the air. On the small center console sat a bottle of champagne, still sealed. I leaned back and closed my eyes for a moment, trying to breathe. Trying to return to myself. To something normal. The car began to move—then stopped again almost instantly and the opposite door opened. A man stepped inside and I that's when I realized—I'd seen him before. He was the man from the party. But he didn't even look at me. He entered like the car belonged to him. Sat beside me—close enough to shift the air around me, but not touching. Curiosity got the better of me, and I lifted my eyes to finally look at him properly. Impeccable jacket. Calm hands tapping something on his phone. Ink peeked out from beneath his sleeves. I found myself wondering how many tattoos he had. Then I lifted my eyes to his face to see that he wasn't handsome in the conventional way. Not flashy. Not charming. He was… precise. Controlled. The kind of composed that comes from absolute certainty. A man who knew exactly who he was. I realized I'd been watching him too openly. He turned, catching me. His eyes were the color of the ocean—calm on the surface, dangerous underneath. The intensity in them pinned me there, unable to break eye contact. My stomach tightened without permission and finally I looked away, turning toward the window. After a few minutes, the driver broke the silence. "The building number, miss?" "Eighty-seven." That was all I said and no one spoke for the rest of the ride. The car stopped in front of my building. As I reached for the handle, the driver began to speak—but the man beside me interrupted him. "It's been taken care of." His voice was low. Controlled. The kind of sound that lingered longer than it should. I turned toward him. "That wasn't necessary." For the first time, he truly looked at me. "It was." Nothing else. My fingers trembled slightly as I opened the door. "Thank you," I murmured but he didn't answer. I got out of the car, stealing one last glance at the stranger who suddenly didn't feel like one anymore. The car remained still for one second too long—then pulled away. I stepped inside my building and leaned against the entrance door, my heart racing. I didn't fully understand what had just happened. But one thing was certain. It wasn't random.Aku sudah sampai di halaman rumah sekarang, bahkan bisa kucium bau alkohol dari jarak beberapa meter. Tuhan, sampai kapan aku harus terus hidup dalam keadaan yang sebenarnya sangat aku benci? Siapa lagi yang bisa mengubah nasibku selain diriku sendiri dengan bantuan dari Tuhan. Aku berjalan memasuki ruang tamu, ada banyak orang di sana. Sedang duduk melingkar main domino sambil menikmati minuman beralkohol. Ck, pemandangan yang sangat membosankan. Saat aku masuk, semua mata tertuju padaku. Beberapa orang dari mereka sudah mengenalku, namun rupanya ada beberapa orang baru yang turut bergabung. Bukannya semakin habis justru anggotanya semakin banyak. Jadi memang benar bahwa mencari teman dalam dosa itu lebih mudah daripada mencari teman untuk diajak dalam kebaikan.“Wih, calon presiden sudah pulang rupanya. Ck, kenapa wujudmu mengerikan sekali? Katanya anak sekolah, pulang bukannya bersih namun justru banyak kotoran di seragammu. Kamu habis berenang di got atau bagaimana,
Hari ini, aku pulang sekolah seperti biasa. Mungkin mulai besok, aku akan pulang telat karena sudah mulai menjadi guru les privat Vanda. Vanda, mengingat nama itu lagi-lagi membuat jantungku berdetak berkali lipat lebih kencang. Baru hari pertama bertemu saja dia sudah meluluh lantahkan hatiku, apa yang akan terjadi jika aku hampir setiap hati bertemu dengannya? Ah, aku harus bisa menetralkan perasaanku. Lagi pula, berharap terlalu berlebihan hanya akan membuatku sakit. Toh kami juga berasal dari kasta yang berbeda. Ibarat pungguk merindukan rembulan jika aku terlalu menaruh harapan padanya.“Heh, Ardan.” Panggil seseorang dari arah belakangku yang tak lain adalah Indi. Dia berlari tergopoh-gopoh menghampiriku.“Ada apa? Mengapa lari-lari?” tanyaku santai saat dia sudah berdiri di sebelahku.“Sejak kapan kamu tuli, hah? Tanya Indi lagi, “aku memanggilmu sejak tadi, sejak kamu keluar dari gerbang sekolah. Dan lihat, kamu baru m
Aku berjalan terburu-buru menuju kelas, sepanjang jalan aku terus saja mengumpat. Aku menyesal sekali harus melihat adegan seperti tadi. Sesampainya di kelas, Vanda dan Indi memandangiku dengan tatapan yang aneh. Mungkin mereka menangkap ada yang aneh dari diriku. Tentu saja, napasku terengah-engah. Bagaimana tidak? Aku belum pernah menyaksikan adegan seperti itu sebelumnya bahkan di video seperti yang anak-anak lain bicarakan. Dan hari ini aku harus menyaksikannya secara langsung.“Ada apa, Ardan?” tanya Indi padaku. Aku masih diam saja, belum sanggup menjawab. Masih berusaha menetralkan napasku. Bahkan jika aku mampu menjawab pun, aku tidak mungkin menceritakan apa yang tadi aku lihat. Apa lagi dengan kenyataan bahwa Vanda pernah menjalin kasih dengan Alex, pasti hal yang baru saja aku lihat akan menyakiti hatinya.Indi masih penasaran ingin mendengar jawaban dariku, sedangkan Vanda terlihat acuh dan sibuk dengan ponselnya. Pekerjaan kelompok kami kulihat
Bel masuk sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu tapi belum juga ada guru yang masuk ke dalam kelas. Aku sebagai ketua kelas hendak melapor ke ruang guru tapi seperti biasa selalu mendapat respons tidak baik dari teman-teman sekelasku“Mau ke mana kamu, Cupu?” tanya seorang teman sekelas laki-laki yang bernama Andre, dia satu geng dengan Alex. Sama-sama suka membully diriku“Sejak tadi bel sudah berbunyi tapi Bu Agnes belum masuk juga. Aku harus melapor ke ruang guru. Mungkin ada tugas untuk kita.” Kataku menjelaskan.“Seperti biasa, mau cari muka dia. Kita lempar pakai kertas saja wajah polos itu.” Imbuh Roy, juga masuk kelompok Alex.Satu kelas kompak menyobek kertas dan membentuknya bulat lalu melempariku yang masih berdiri di depan kelas.“Dasar kampungan, jadi seperti ini perilaku anak-anak di sekolah ini? Benar-benar kekanak-kanakan. Seharusnya kalian kembali saja ke taman kanak-kanak.” U
“Ardan, Ardan.” Panggil Indi.Aku mendengar panggilan itu, namun aku masih saja terpaku pada gadis pemilik nama Vanda itu. Entah mengapa aku sangat tertarik padanya. Bahkan dia pun tidak memandangku sebagaimana gadis-gadis sombong di sekolah ini memandangku. Vanda menatapku den
Suara ayam berkokok bersahut-sahutan berhasil mengusik tidurku, terpaksa aku membuka mata yang sebenarnya masih sangat mengantuk ini. Ternyata hari sudah pagi. Entah mengapa aku merasa malamku sangat singkat. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ulah ayah dan ka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.