LOGINPutra Mahkota Mo Chenyuan dari kerajaan Utara, mengalami amnesia setelah kejadian penculikan pada dirinya, oleh seorang penyihir hitam dari suku Miao yang sangat tertarik dengan keistimewaan tubuh Mo Chenyuan. Mo Chenyuan yang hampir di kendalikan oleh penyihir tersebut, dia terus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan sihir tersebut. demi mempertahankan kesadarannya, dia meledakan tenaga dalamnya hingga sang penyihir itu pun ikut terpental. Namun, karena hal tersebut membuat dirinya hilang ingatan sampai dia pun bertemu dengan seorang Jenderal wanita dalam pelariannya.
View More"Hahaha. Dewa perang yang paling kejam, memangnya kenapa? Aku akan menjadikanmu manusia yu gu dan akan menjadi manusia paling kuat. Ayo, Sayang. Mari kita segera melakukan kultivasi ganda," bisik wanita itu dengan senyum yang memikat. Aroma parfum yang manis menguar dari tubuhnya yang menggoda saat ia melangkah mendekati pria yang terbaring tak berdaya. Tangan dan kakinya terkunci rapat oleh rantai besi yang dingin dan berat.
Di hadapannya, sosok pria itu tampak memukau meski dalam posisi tertekan. Rambutnya yang hitam legam layaknya malam, menjuntai indah dan disematkan tusuk konde berukir rumit. Hidungnya mancung tegas, menonjolkan sepasang mata coklat yang tajam namun pasrah. Bibirnya yang tipis berwarna merah alami terlihat kontras dengan jubah hitam yang membalut tubuhnya, memancarkan aura dingin dan misterius. Pria yang terbaring itu berjuang keras. Ia mencoba menekan yu gu—serangga pengendali pikiran—yang merayap di dalam tubuhnya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia terus melawan rasa pusing yang menggerayangi otaknya, berusaha sekuat tenaga agar tetap sadar dan tidak tunduk pada kendali wanita penyihir tersebut. “Sudahlah. Kau tidak perlu melawan lagi. Setelah penyatuan ini, kau akan selamanya tunduk padaku,” ucap wanita itu dengan senyum miring yang penuh percaya diri. Wanita penyihir itu duduk di samping sang pria. Matanya berkilat licik, menatap tubuh di hadapannya seperti pemangsa yang bersiap menerkam buruannya. Tangannya yang lentik terulur perlahan, siap menjamah pria tersebut. Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kulit sang pria, sebuah perubahan drastis terjadi. Tiba-tiba, pria itu berteriak kencang, “AAAARRRGH!” Bersamaan dengan teriakan itu, gelombang energi yang dahsyat meledak dari tubuhnya. Rantai besi yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya putus berantakan, menimbulkan suara dentingan keras yang menggema di dalam gua. Hantaman energi tersebut membuat sang wanita penyihir terpental jauh, menghantam dinding gua hingga debu-debu berhamburan. “Uhuk!” wanita itu terbatuk keras. Rasa anyir darah segar langsung memenuhi mulutnya saat ia memuntahkan cairan kental berwarna merah gelap. “Bagaimana mungkin bisa seperti ini? Padahal aku sudah menanamkan yu gu di dalam tubuhnya,” gerutu wanita itu dengan nafas memburu dan tatapan penuh amarah. Pria yang tadinya terbaring, kini melayang perlahan dengan tangan terentang dan mata yang masih terpejam. Sisa-sisa rantai besi masih melingkar di pergelangan tangannya. Sementara itu, sang wanita penyihir segera bangkit. Menggunakan ilmu meringankan tubuh, ia melayang maju, bersiap melancarkan serangan ke arah pria berbaju hitam itu. Namun, di luar dugaan, pria itu hanya mengandalkan tenaga dalamnya. Rantai yang masih membelenggu tangannya kini bergerak liar bagaikan ular besi. Dengan gerakan secepat kilat, rantai tersebut melesat dan melilit tubuh wanita penyihir itu. Detik berikutnya, sang pria menghentakkan tangannya ke depan. Hantaman tenaga dalam yang luar biasa kuat membuat wanita itu kembali terlempar, membentur dinding dengan keras hingga tak sadarkan diri. Tubuh sang wanita penyihir melorot jatuh ke tanah, matanya terpejam rapat. Gua yang sebelumnya dipenuhi suara benturan kini kembali sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air yang ritmis. Pria berbaju hitam itu perlahan menurunkan kedua tangannya. Kakinya menapak kembali ke lantai gua yang lembab dan dingin. Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan kembali energinya untuk menekan sisa-sisa racun yu gu yang masih mengancam pikirannya. Sensasi panas seperti terbakar di dadanya perlahan mereda, tergantikan oleh aliran energi dingin yang menyegarkan. Ia berhasil mengendalikan dirinya sepenuhnya. Ia membuka matanya perlahan. Tatapannya dingin, setajam elang. Sisa-sisa rantai di pergelangan tangannya dilepaskan dengan satu hentakan ringan, jatuh berdenting di atas batu. Pria itu melirik jubah hitamnya yang sedikit robek akibat ledakan energi tadi, lalu menatap ke arah luar. Di ujung gua, cahaya bulan keperakan menembus celah bebatuan. **** Sementara itu di tempat lain, seorang jenderal wanita yang cantik dan pasukannya sedang berperang melawan pasukan Kerajaan Utara. Mereka tampak gagah berani saat menggunakan pedang dan tombak untuk menghadapi musuh. Debu dan asap peperangan membumbung tinggi, bercampur dengan suara dentingan logam dan pekikan prajurit yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk pertempuran tersebut, sang jenderal wanita berdiri dengan tenang namun penuh kewaspadaan. Matanya yang tajam mengamati pergerakan musuh, mencari celah pada pertahanan pasukan Kerajaan Utara yang terkenal kuat dan kejam. "Jangan biarkan mereka menembus garis depan!" teriaknya dengan suara yang tegas, membakar semangat pasukannya. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya yang memantulkan cahaya matahari sore. Setiap tebasan tidak hanya menghalau serangan, tetapi juga meruntuhkan barisan musuh. Gerakannya begitu luwes dan mematikan, seolah tarian maut di tengah medan laga. Melihat keberanian sang pemimpin, moral pasukannya pun melonjak. Mereka merapatkan barisan dan bergerak maju bersama, mendesak mundur pasukan Kerajaan Utara yang mulai kewalahan. Suasana semakin memanas, dan sang jenderal kini bersiap melancarkan serangan penentu untuk mengakhiri pertempuran ini. Dengan satu tarikan napas panjang, sang jenderal wanita melesat ke garis depan. Pedangnya memancarkan kilatan cahaya, menangkis dan membalas serangan komandan musuh yang mencoba menghadangnya. Pertarungan singkat namun sengit itu berakhir dengan jatuhnya sang komandan lawan, memicu kepanikan di antara pasukan Kerajaan Utara. Melihat pemimpin mereka tumbang, barisan musuh mulai pecah dan kocar-kacir. Sang jenderal mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, memberikan aba-aba kepada pasukannya untuk melancarkan serangan penentu. Sorakan kemenangan bergema, memecah keheningan senja. Pasukan Kerajaan Utara akhirnya terdesak dan memilih mundur, meninggalkan medan pertempuran serta mengakui kekalahan mereka. ### Akhir dari Pertempuran Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan rona jingga keemasan. Sang jenderal menurunkan senjatanya dan menarik napas panjang, memandangi pasukannya yang bersorak kegirangan merayakan keberhasilan mereka. Meskipun kelelahan dan seragam mereka berlumur debu serta keringat, senyum kelegaan terukir jelas di wajah sang jenderal. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa keberanian, strategi yang matang, dan persatuan mampu menaklukkan kekuatan lawan yang besar. Sang jenderal pun memimpin pasukannya kembali ke kemah dengan kepala tegak, bersiap menyambut malam sebagai pahlawan yang telah berhasil menjaga kedamaian kerajaan. Setelah sampai di kemah, untuk menghilangkan penat dan lelahnya, dia langsung menuju kolam pemandian air panas alami yang letaknya tidak jauh dari kemah utama. Uap hangat langsung menyapa wajahnya, memberikan sensasi menenangkan yang sangat ia butuhkan saat ini. Satu per satu, ia menanggalkan jubah kebesaran dan pelindung tubuhnya yang berat. Rasa kaku dan pegal pada otot-ototnya seketika perlahan mengendur saat ia membenamkan diri ke dalam air. Desahan napas lega keluar dari bibirnya. “Berendam dan di temani sebotol arak, sungguh nikmat.” Jenderal wanita itu menenggak arak dengan perasaan senang. Jenderal wanita itu bernama Ling XueJian, anak angkat dari jenderal Ling. Ketika dia tengah bersantai dan kembali menenggak arak nya, tiba-tiba saja di ujung bibirnya keluar darah yang menetes, namun XueJian tidak memperdulikannya. Detik kemudian, hawa yang tadinya hangat berubah menjadi dingin. Xue Jian merasa ada yang memperhatikan dan mendengar suara. "Darah... Bau darah yang istimewa," desisnya. suara yang hampir samar seperti tertiup angin. Dia melihat ke arah kolam lain yang mengepulkan uap, sepintas dia melihat sosok bayangan hitam, namun segera dia tepis. “Mungkin hanya perasaanku saja,”ucapnya.Xiao Bao memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan telapak tangan Xiu Jian di bawah dagunya. Namun, di balik ketenangan luar itu, degup jantungnya bergemuruh hebat, menciptakan melodi asmara yang teramat bising di dalam dadanya.*Kau selalu tahu cara membuat hatiku luluh, Xiu Jian,* batin Xiao Bao penuhuja, menatap lekat garis wajah sang jenderal wanita yang tampak begitu mempesona di bawah bias senja, meski dibalut kelelahan yang tersembunyi. *Tapi jika kau lelah, biarkan aku menjadi rumah tempatmu berlabuh. Biar kuhapus setiap beban di pundakmu, agar dunia tak lagi berani menyakitimu...*Xiao Bao mendengus pelan, lalu bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di hadapan Xiu Jian dengan salah tingkah. Pesona wanita itu membuatnya kehilangan akal sehat.*Kau hidup di tengah intrik dan kehormatan semu, dikelilingi duri-duri tajam yang siap melukaimu. Bagaimana bisa aku tenang membiarkanmu di sini? Jika saja kau tahu, setiap langkah penyamaranku hanya demi memastikan kau aman dari
"Jenderal!" Sebuah suara menggelegar memecah keheningan pelataran pemandian air panas. Sosok tinggi besar berzirah tempur lengkap muncul dengan napas terengah-engah. Wakil Jenderal Zhang Fei—dengan raut wajah tegang dan dahi berkerut cemas—menerobos masuk area terlarang itu tanpa aba-aba. Matanya langsung menyapu sekeliling, mencari sosok yang sejak beberapa menit lalu dilaporkan hilang dari tenda utama. Mendengar suara gemuruh itu, insting tajam Amaou langsung bereaksi. Dalam sepersekian detik, tanpa suara dan secepat kilat, bayangan tubuhnya melesat ke atas undakan batu, melebur ke dalam gelapnya bayang-bayang malam dan rimbunnya pepohonan pinus sebelum sempat tertangkap oleh mata sang wakil jenderal. Xiu Jian yang terkejut langsung menoleh ke samping untuk memastikan keberadaan pria itu. Namun, tempat di mana Amaou berdiri tegak merengkuh hatinya beberapa detik lalu kini telah kosong melompong. Tak ada lagi sisa kehangatan tubuhnya; yang tertinggal hanyalah desir angin malam ya
Pria bertopeng itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. Tak ada sedikit pun keraguan dalam sorot matanya."Aku tahu," ucapnya pelan, tetapi penuh keyakinan.Ia menatap Xiu Jian tanpa berkedip, seolah setiap kata yang akan diucapkannya telah lama tersimpan di dalam hati."Pernikahan adalah janji untuk saling memilih..." katanya perlahan. "Janji untuk saling menjaga, saling percaya, dan tetap berjalan berdampingan melewati setiap musim kehidupan. Bukan hanya saat langit cerah dan bunga bermekaran, tetapi juga ketika badai datang dan dunia terasa begitu berat."Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut."Karena itu... menikahlah denganku."Suasana kembali hening.Angin malam berembus perlahan, menggoyangkan helaian rambut Xiu Jian yang terurai di bahunya. Cahaya rembulan memantul di permukaan kolam air panas, menciptakan kilauan lembut yang memperindah malam.Xiu Jian menatap pria bertopeng itu cukup lama. Entah mengapa, setiap kali lelaki itu berbicara, suara
Xiu Jian benar-benar sudah berada di ambang kesabarannya. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Dengan wajah yang dipenuhi rasa jengkel, ia membalikkan badan, berniat mengakhiri percakapan konyol itu dan pergi sejauh mungkin dari pria bertopeng tersebut.Namun, baru saja ia melangkahkan satu kaki, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang."Ah!"Tubuh Xiu Jian kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, ia terhuyung ke belakang hingga kembali berhadapan dengan pria itu. Belum sempat ia bereaksi, kedua lengan pria bertopeng itu sudah melingkar erat di pinggangnya, mengurung tubuh mungilnya dalam pelukan yang mustahil dilepaskan."Apa yang kau—"Kalimatnya terputus.Tanpa meminta izin, pria itu langsung membungkukkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir Xiu Jian.Mata Xiu Jian membelalak lebar. Seluruh tubuhnya menegang. Ia berusaha mendorong dada pria itu, bahkan memukul bahunya berkali-kali, tetapi tenaga mere
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews