ANTAR DENDAM DAN CINTA. CIUMAN YANG MENGUBAH SEGALANYA

ANTAR DENDAM DAN CINTA. CIUMAN YANG MENGUBAH SEGALANYA

last updateLast Updated : 2026-09-05
By:  Rizkymutha14 Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
13Chapters
27views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Putra Mahkota Mo Chenyuan dari kerajaan Utara, mengalami amnesia setelah kejadian penculikan pada dirinya, oleh seorang penyihir hitam dari suku Miao yang sangat tertarik dengan keistimewaan tubuh Mo Chenyuan. Mo Chenyuan yang hampir di kendalikan oleh penyihir tersebut, dia terus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan sihir tersebut. demi mempertahankan kesadarannya, dia meledakan tenaga dalamnya hingga sang penyihir itu pun ikut terpental. Namun, karena hal tersebut membuat dirinya hilang ingatan sampai dia pun bertemu dengan seorang Jenderal wanita dalam pelariannya.

View More

Chapter 1

Yu Gu dan Kemenangan Perang

"Hahaha. Dewa perang yang paling kejam, memangnya kenapa? Aku akan menjadikanmu manusia yu gu dan akan menjadi manusia paling kuat. Ayo, Sayang. Mari kita segera melakukan kultivasi ganda," bisik wanita itu dengan senyum yang memikat. Aroma parfum yang manis menguar dari tubuhnya yang menggoda saat ia melangkah mendekati pria yang terbaring tak berdaya. Tangan dan kakinya terkunci rapat oleh rantai besi yang dingin dan berat.

Di hadapannya, sosok pria itu tampak memukau meski dalam posisi tertekan. Rambutnya yang hitam legam layaknya malam, menjuntai indah dan disematkan tusuk konde berukir rumit. Hidungnya mancung tegas, menonjolkan sepasang mata coklat yang tajam namun pasrah. Bibirnya yang tipis berwarna merah alami terlihat kontras dengan jubah hitam yang membalut tubuhnya, memancarkan aura dingin dan misterius.

Pria yang terbaring itu berjuang keras. Ia mencoba menekan yu gu—serangga pengendali pikiran—yang merayap di dalam tubuhnya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia terus melawan rasa pusing yang menggerayangi otaknya, berusaha sekuat tenaga agar tetap sadar dan tidak tunduk pada kendali wanita penyihir tersebut.

“Sudahlah. Kau tidak perlu melawan lagi. Setelah penyatuan ini, kau akan selamanya tunduk padaku,” ucap wanita itu dengan senyum miring yang penuh percaya diri.

Wanita penyihir itu duduk di samping sang pria. Matanya berkilat licik, menatap tubuh di hadapannya seperti pemangsa yang bersiap menerkam buruannya. Tangannya yang lentik terulur perlahan, siap menjamah pria tersebut. Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kulit sang pria, sebuah perubahan drastis terjadi.

Tiba-tiba, pria itu berteriak kencang, “AAAARRRGH!”

Bersamaan dengan teriakan itu, gelombang energi yang dahsyat meledak dari tubuhnya. Rantai besi yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya putus berantakan, menimbulkan suara dentingan keras yang menggema di dalam gua. Hantaman energi tersebut membuat sang wanita penyihir terpental jauh, menghantam dinding gua hingga debu-debu berhamburan.

“Uhuk!” wanita itu terbatuk keras. Rasa anyir darah segar langsung memenuhi mulutnya saat ia memuntahkan cairan kental berwarna merah gelap.

“Bagaimana mungkin bisa seperti ini? Padahal aku sudah menanamkan yu gu di dalam tubuhnya,” gerutu wanita itu dengan nafas memburu dan tatapan penuh amarah.

Pria yang tadinya terbaring, kini melayang perlahan dengan tangan terentang dan mata yang masih terpejam. Sisa-sisa rantai besi masih melingkar di pergelangan tangannya. Sementara itu, sang wanita penyihir segera bangkit. Menggunakan ilmu meringankan tubuh, ia melayang maju, bersiap melancarkan serangan ke arah pria berbaju hitam itu.

Namun, di luar dugaan, pria itu hanya mengandalkan tenaga dalamnya. Rantai yang masih membelenggu tangannya kini bergerak liar bagaikan ular besi. Dengan gerakan secepat kilat, rantai tersebut melesat dan melilit tubuh wanita penyihir itu. Detik berikutnya, sang pria menghentakkan tangannya ke depan. Hantaman tenaga dalam yang luar biasa kuat membuat wanita itu kembali terlempar, membentur dinding dengan keras hingga tak sadarkan diri.

Tubuh sang wanita penyihir melorot jatuh ke tanah, matanya terpejam rapat. Gua yang sebelumnya dipenuhi suara benturan kini kembali sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air yang ritmis.

Pria berbaju hitam itu perlahan menurunkan kedua tangannya. Kakinya menapak kembali ke lantai gua yang lembab dan dingin. Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan kembali energinya untuk menekan sisa-sisa racun yu gu yang masih mengancam pikirannya. Sensasi panas seperti terbakar di dadanya perlahan mereda, tergantikan oleh aliran energi dingin yang menyegarkan. Ia berhasil mengendalikan dirinya sepenuhnya. Ia membuka matanya perlahan. Tatapannya dingin, setajam elang. Sisa-sisa rantai di pergelangan tangannya dilepaskan dengan satu hentakan ringan, jatuh berdenting di atas batu. Pria itu melirik jubah hitamnya yang sedikit robek akibat ledakan energi tadi, lalu menatap ke arah luar. Di ujung gua, cahaya bulan keperakan menembus celah bebatuan.

****

Sementara itu di tempat lain, seorang jenderal wanita yang cantik dan pasukannya sedang berperang melawan pasukan Kerajaan Utara. Mereka tampak gagah berani saat menggunakan pedang dan tombak untuk menghadapi musuh.

Debu dan asap peperangan membumbung tinggi, bercampur dengan suara dentingan logam dan pekikan prajurit yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk pertempuran tersebut, sang jenderal wanita berdiri dengan tenang namun penuh kewaspadaan. Matanya yang tajam mengamati pergerakan musuh, mencari celah pada pertahanan pasukan Kerajaan Utara yang terkenal kuat dan kejam.

"Jangan biarkan mereka menembus garis depan!" teriaknya dengan suara yang tegas, membakar semangat pasukannya.

Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya yang memantulkan cahaya matahari sore. Setiap tebasan tidak hanya menghalau serangan, tetapi juga meruntuhkan barisan musuh. Gerakannya begitu luwes dan mematikan, seolah tarian maut di tengah medan laga.

Melihat keberanian sang pemimpin, moral pasukannya pun melonjak. Mereka merapatkan barisan dan bergerak maju bersama, mendesak mundur pasukan Kerajaan Utara yang mulai kewalahan. Suasana semakin memanas, dan sang jenderal kini bersiap melancarkan serangan penentu untuk mengakhiri pertempuran ini.

Dengan satu tarikan napas panjang, sang jenderal wanita melesat ke garis depan. Pedangnya memancarkan kilatan cahaya, menangkis dan membalas serangan komandan musuh yang mencoba menghadangnya. Pertarungan singkat namun sengit itu berakhir dengan jatuhnya sang komandan lawan, memicu kepanikan di antara pasukan Kerajaan Utara.

Melihat pemimpin mereka tumbang, barisan musuh mulai pecah dan kocar-kacir. Sang jenderal mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, memberikan aba-aba kepada pasukannya untuk melancarkan serangan penentu. Sorakan kemenangan bergema, memecah keheningan senja. Pasukan Kerajaan Utara akhirnya terdesak dan memilih mundur, meninggalkan medan pertempuran serta mengakui kekalahan mereka.

### Akhir dari Pertempuran

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan rona jingga keemasan. Sang jenderal menurunkan senjatanya dan menarik napas panjang, memandangi pasukannya yang bersorak kegirangan merayakan keberhasilan mereka. Meskipun kelelahan dan seragam mereka berlumur debu serta keringat, senyum kelegaan terukir jelas di wajah sang jenderal.

Kemenangan ini menjadi bukti bahwa keberanian, strategi yang matang, dan persatuan mampu menaklukkan kekuatan lawan yang besar. Sang jenderal pun memimpin pasukannya kembali ke kemah dengan kepala tegak, bersiap menyambut malam sebagai pahlawan yang telah berhasil menjaga kedamaian kerajaan.

Setelah sampai di kemah, untuk menghilangkan penat dan lelahnya, dia langsung menuju kolam pemandian air panas alami yang letaknya tidak jauh dari kemah utama. Uap hangat langsung menyapa wajahnya, memberikan sensasi menenangkan yang sangat ia butuhkan saat ini.

Satu per satu, ia menanggalkan jubah kebesaran dan pelindung tubuhnya yang berat. Rasa kaku dan pegal pada otot-ototnya seketika perlahan mengendur saat ia membenamkan diri ke dalam air. Desahan napas lega keluar dari bibirnya.

“Berendam dan di temani sebotol arak, sungguh nikmat.” Jenderal wanita itu menenggak arak dengan perasaan senang.

Jenderal wanita itu bernama Ling XueJian, anak angkat dari jenderal Ling. Ketika dia tengah bersantai dan kembali menenggak arak nya, tiba-tiba saja di ujung bibirnya keluar darah yang menetes, namun XueJian tidak memperdulikannya. Detik kemudian, hawa yang tadinya hangat berubah menjadi dingin.

Xue Jian merasa ada yang memperhatikan dan mendengar suara.

"Darah... Bau darah yang istimewa," desisnya. suara yang hampir samar seperti tertiup angin.

Dia melihat ke arah kolam lain yang mengepulkan uap, sepintas dia melihat sosok bayangan hitam, namun segera dia tepis.

“Mungkin hanya perasaanku saja,”ucapnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

beeva
beeva
...............
2026-09-05 13:05:52
1
0
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status