LOGINPutra Mahkota Mo Chenyuan dari kerajaan Utara, mengalami amnesia setelah kejadian penculikan pada dirinya, oleh seorang penyihir hitam dari suku Miao yang sangat tertarik dengan keistimewaan tubuh Mo Chenyuan. Mo Chenyuan yang hampir di kendalikan oleh penyihir tersebut, dia terus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan sihir tersebut. demi mempertahankan kesadarannya, dia meledakan tenaga dalamnya hingga sang penyihir itu pun ikut terpental. Namun, karena hal tersebut membuat dirinya hilang ingatan sampai dia pun bertemu dengan seorang Jenderal wanita dalam pelariannya.
View MoreSuasana di pelataran Markas Besar Pasukan Sui Han kian mencekam. Angin malam berembus dingin, memutar lidah api pada barisan obor dan melemparkan bayangan-bayangan panjang yang bergetar di atas lantai batu. Enam mata pisau berzirah emas berkilau tajam, terkunci pada titik-titik mematikan di sekitar tubuh Amaou.Kangjian mengamati adegan di hadapannya dengan tatapan dingin yang dipenuhi penghinaan. Langkah kakinya terdengar perlahan namun mantap, mendekati Xiu Jian yang masih berdiri kokoh merentangkan tangan, memagari Amaou dengan tubuhnya sendiri."Panglima Perang yang termasyhur... bersedia menukarkan lehernya demi seorang pria asing berpikiran dangkal," desis Kangjian, suaranya sarat akan nada intimidasi yang menekan udara di sekitar mereka. Ia berhenti tepat di hadapan Xiu Jian, menyipitkan mata meneliti gemetar halus di jemari sang jenderal yang memegang hulu pedang. "Kau mengecewakanku, Xiu Jian. Cinta telah meracuni akal sehatmu hingga kau lupa pada siapa sumpah setiamu dibakti
Langkah kaki Xiu Jian mendadak terhenti tepat di ambang pintu gerbang utama Markas Besar Pasukan Sui Han. Udara malam yang semula hangat oleh sisa-sisa kemeriahan festival mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam. Aroma kayu cendana dan asap dupa kerajaan tercium pekat, memotong aroma malam yang biasa menyelimuti tempat itu.Di tengah pelataran utama, di bawah pendar obor yang menyala dalam barisan presisi, berdiri belasan pengawal zirah emas Kerajaan Tengah. Dan di hadapan mereka, duduk santai di kursi kayu cendana yang sengaja dikeluarkan dari aula utama, adalah seorang pria bertubuh tegap dalam balutan jubah sutra naga emas-hitam.Putra Mahkota Kangjian."Jenderal Xiu Jian," suara Kangjian bergema datar, memecah keheningan malam. Ia memutar-mutar cawan teh di tangannya sebelum perlahan mendongak, menatap Xiu Jian dengan mata elang yang penuh intimidasi. "Menyenangkan sekali melihat panglima perangguku berkeliaran di festival saat perbatasan Utara sedang bergejolak."Xiu Jian me
Rasa manis dari kue kukus hangat yang baru dibeli sedikit mengalihkan fokus Xiu Jian. Namun, keheningan di antara mereka berdua justru terasa lebih membakar dibandingkan riuh rendah festival yang mulai menjauh di belakang mereka.Amaou berjalan di sampingnya dengan langkah santai, kedua tangannya disilangkan di balik punggung. Senyum tipis yang tersisa di bibirnya begitu kentara, membuat Xiu Jian berkali-kali mengunyah gigitan kuenya dengan gestur berlebihan demi menutupi rasa canggung."Kau... tidak usah senyum-senyum begitu!" gertak Xiu Jian, matanya melirik tajam meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya surut. "Aku cuma lapar. Jangan berpikir ciuman tadi mengubah apa pun!"Amaou menghentikan langkahnya tepat di bawah bayangan pohon willow di tepi jalan yang sepi, menatap Xiu Jian yang mendadak ikut terpaku."Memangnya aku ada bilang sesuatu?" suara Amaou terdengar tenang, namun sorot matanya yang keemasan berpendar jenaka. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi kalau Jenderal
"Amaou, aku serius!" tegur Xiu Jian dengan mata memelotot indah. Ia membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Amaou, menatap mata keemasan itu dengan raut penuh ketegangan. "Tatapan mereka tadi bukan tatapan biasa. Mereka menatapmu seolah... seolah kau ini adalah hantu yang tiba-tiba bangkit, atau sosok penting yang sudah lama mereka cari!"Amaou tak langsung menjawab. Ia hanya menatap raut khawatir yang terpatri di wajah cantik Xiu Jian. Senyum jahilnya perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang begitu dalam dan lembut."Lalu... apa yang membuatmu secemas ini, Jenderal?" tanya Amaou pelan, suaranya sehalus gesekan kain sutra. "Apakah kau khawatir jika aku ternyata musuh Kerajaanmu? Atau kau khawatir aku akan pergi?"Pertanyaan itu menampar Xiu Jian. Jantungnya berdesir hebat. Kenapa ia harus sekhawatir ini? Bukankah ia seorang Jenderal? Bukankah tugas utamanya adalah menjaga perbatasan dan mencurigai setiap sosok asing? Tapi kenapa rasa takut di dadanya justru murni karena mem


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews