Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Sabitah

Sabitah

Reandra mencoba tersenyum tipis. “Aku harap kau bisa memahami keadaanku. Karena sikapku yang seperti ini semata-mata agar aku segera bisa mengeluarkan adikku dari tempat entah di mana itu,” ucap Juna. “Adik?” “Ya. Adik yang sangat aku sayangi, Sabitah Nayanika....” ***
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
Mate

Mate

aku mengacungkan jempolku. “Mandi yang bersih dan wangi ya, Mbak. Biar Mas Wira makin cinta.” bisik Icha menggodaku. Ia berlari sambil tertawa cekikikan. Aku mengedikkan bahuku. Aneh bin ajaib memang keluarga Mas Wira ini. ***
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
Mandul

Mandul

Riri menepiskan lamunannya akan pesona lelaki angkuh di hadapannya. "Tawaranku! Jika kau setuju, aku akan mengajakmu menemui dokter terbaik di negara ini," bujuk Arnold. "Tapi aku ingin kesepakatan ini aman. Dalam artian, ada hitam diatas putih. Juga aku akan melihat seberapa untungnya aku dalam tawaran tersebut." "Hahahahahhha. Kau lebih berani daripada sebelumnya. Baiklah, Kei!"
105.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
La Tahzan, Miss Lemot

La Tahzan, Miss Lemot

gerutu Fernan. "Ya kan emang identiknya begitu, Nan. Lo kira yang punya anemia muntah paku, baut, dan sebagainya? Itu mah teluh bukan anemia." "Ah, ngomong sama lo mah, gue harus stok kesabaran ini mah." "Dikira makanan distok?" "Diem lo, berisik banget! Gue pusing dengernya!" pekik Fernan.
9.83.1K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
Terjebak Mantra!

Terjebak Mantra!

“Tuan, ada sinyal merah menyala disana!” kata salah satu anak buah Kalsti. Wajah Kalsti yang mulanya biasa-biasa saja, datar, sekarang berubah menjadi sangat antusias. Dia berdiri tegak di depan meja kerjanya. Sepintas, dia terlihat mengeluarkan sebuah remot kecil dari balik saku bajunya. Kemudian, dia mendekat kepada salah satu monitor besar yang belum dinyalakan. Segera dia menyalakan monitor itu, dan keluarlah gambar yang hampir sama dengan tangkapan monitor satu dan dua sebelumnya. Bedanya, monitor itu lebih besar dan lebih tajam gambarnya.
1010.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 309 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
Primadonaku

Primadonaku

tangkas perempuan berbadan atlit itu mendekat. "Segera beresi gadis ini, aku mau buat demonya, harus ada thrilernya biar lebih menggigit pengunjung ..." madam Sonya yang berperawakan tinggi dan blaster Indo itu berdecak membayangkan promosi yang akan dilakukannya nanti malam tentang pendatang baru yang akan disulapnya menjadi berlian mahal itu. Bersambung
103.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 110 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
Tamally Ma'ak

Tamally Ma'ak

“Sí, señor.” Aku refleks menoleh saat para pria itu melangkah pergi. Mengangkat wajah, melihat pria berotot itu kembali menyandarkan punggungnya ke tembok sambil bersedekap dada. Lama aku mengamatinya, apa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini? “Anda tidak beribadah, Nona?” “Ah?” Bola mata amber itu menatapku. “Bukankah kalian selalu beribadah saat subuh?”
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
MAWAR

MAWAR

"Tahu kesalahanmu?" Enah mengangguk menahan suara isakannya dengan susah payah, karena dia tahu majikannya ini akan semakin murka jika mendengar suara isakan yang tidak berguna. "Maafkan saya, tuan." ucapnya memohon, kepalanya masih menunduk takut. "N-ico?" Nico mengernyit tidak suka saat mendengar suara yang tidak ingin dia dengar. Tangannya melepaskan cengrkramannya, membuat Enah menarik nafas lega.
105.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 147 kali sebagai mak tonah
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status