Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Punggung tangan kananku, mengusap air mata yang terjatuh di pipi.
"Hanya ingin tahu," lirih Ibu, mengulangi jawabannya.
"Kami sangat bahagia, Nyonya. Ada lagi? Ini sudah malam. Saya harus istirahat."
"Mengapa kamu masih memanggilku Nyonya, Sinar."
"Karena ...." Aku menjeda ucapanku. "Anda tahu sendiri kenapa saya memanggil Nyonya. Tidak ada yang perlu saya jelaskan. Selamat malam."