RUMAHKU ADALAH KAMU
“Aku mau pindah,” kata Aira suatu malam.
Arsen hanya tersenyum, seolah itu keputusan paling wajar di dunia. “Kalau gitu, aku ikut.”
Mereka sudah hidup bersama sejak kuliah. Berbagi ruang, waktu, dan kebiasaan kecil yang tanpa sadar berubah menjadi kebutuhan. Saling bergantung, saling menjaga, tanpa pernah berani menyentuh satu batas yang terlalu berisiko untuk dilanggar, yaitu perasaan.
Hingga suatu hari, Arsen mendengar rumor bahwa Aira menyukai seseorang.
“Bener?” tanyanya, setenang mungkin.
Aira mengangguk. Ia mengakui perasaannya, tapi saat Arsen bertanya lebih jauh, ia memilih diam. Bukan karena tak ingin jujur, melainkan karena nama yang ingin ia sebut adalah milik Arsen sendiri.
Namun kebungkaman itu justru melahirkan salah paham. Arsen mulai percaya bahwa pria yang disukai Aira adalah Adrian, manajernya. Dari satu kesalahpahaman kecil, jarak pelan-pelan tercipta di antara mereka, meski keduanya masih berdiri di tempat yang sama. Karena sejak awal, mereka sama-sama tahu, rumah itu selalu ada di samping.
Lantas, jika mereka sama-sama saling mencintai, apa lagi yang sebenarnya mereka tunggu?